Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan menyebut fenomena open BO terbentuk sebelum adanya media digital.
Hal itu terjadi karena ada pasar, pemasok, produsen, dan distributornya. Firman mengatakan hal tersebut bisa semakin berkembang karena ada medium yang memfasilitasi kemudahan untuk mendistribusikan layanan.
Faktor media inilah yang mempermudah open BO ini menjadi tampak lebih marak, karena ada dua hal, pertama kita diberi kesempatan anonim, boleh pakai nama yang palsu tidak sebenarnya, atau bahkan berganti ganti diakun, nah itu sangat difasilitasi oleh medium digital ini,”
ujar Firman kepada owrite Selasa 10 Februar 2026.
Firman melanjutkan hal yang berkaitan dengan teknik-teknik penawaran yang menampilkan video, gambar, juga difasilitasi oleh medium digital.
Bahkan Firman mengatakan pelaku yang tidak paham desain, tidak paham editing, kini sudah banyak sekali aplikasi yang menyediakan untuk itu.
Nah jadi segitiganya terpenuhi sehingga open BO ini menjadi fenomena yang terlihat lebih marak dibandingkan era sebelum digital,“
jelas Firman.
Tak Bisa Hanya Menghapus Konten
Menurut Firman, kalau hanya menutup atau menghapus konten seperti yang dilakukan oleh pemerintah agak sulit.
Karena open BO hanya pintu masuk, tetapi dibalik itu ada sebuah sistem organisasi prostitusi global yang sangat solid.
Jadi kalau hanya ditutup akunnya hari ini 10, besok keluar 20, lusa ditutup 20, lusa lagi keluar 200, kenapa? Karena sistem ini dibangun secara masif dan serius, memang ada sekelompok orang yang menghendaki mencari keuntungan dari situ, bahwa ada pelaku-pelaku yang individual itu hanya meramaikan saja, tapi dibalik itu sebetulnya apa yang menjadi sasaran prostitusi global adalah menormalisasi perilaku free sex, menormalisasi transaksi semacam itu sebagai hal yang lazim,”
beber Firman.
Firman juga melihat saat ini open BO semakin berkembang menjadi prostitusi online dan dijalankan oleh jaringan yang serius dan masif.
Bahkan menurut data dari Gitnux, perdagangan seks global menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 186 miliar dolar AS.
Dari data tersebut, China memiliki pasar prostitusi terbesar berdasarkan pendapatan, yaitu sekitar 73 miliar dolar AS per tahun.
Menurut Firman, sulit hanya sekedar menghapus konten dewasa di media sosial. Karena setiap negara memiliki hukum yang berbeda-beda.
Ada banyak negara yang tidak melarang prostitusi, akhirnya karena tadi dipasarkan secara internasional dengan hukum yang berbeda-beda, itu menjadi sulit diberantas, ditutup di Indonesia dibuka lagi di negara lain, nah jadi kalau hanya menutup hari ini 1,3 akun, besok akan muncul 1,3 kuadrat, lebih banyak lagi,”
ungkapnya.
Harus Dilakukan Pemerintah
Menurut Firman, untuk memberantas penyebaran konten dewasa hingga open BO di Indonesia, pemerintah harus menegakkan hukum dengan mengatur Undang-Undang.
Ketika seseorang terbukti memanfaatkan jasa itu kemudian dihukum, ada proses peradilan yang transparan dan sebagainya, orang bisa melihat, oh yang kayak begini ini ada hukumannya, itu adalah pendidikan masyarakat, bahwa ada hukum dan ada penegakannya,”
jelasnya.
Selain itu, penting juga literasi bahwa dibalik fenomena open BO itu ada keburukan, sehingga harus dicegah, sebab hal tersebut rawan terjadi pada perempuan dan anak-anak, mereka bisa dieksploitasi, perempuan yang lemah secara ekonomi bisa ditawari pinjaman hutang, kemudian pembayaran yang menarik, yang kemudian dieksploitasi secara seksual.
Jadi ketika platform masuk ke Indonesia harus ada larangan yang tegas,”
tandasnya.
