Kopi salah satu minuman yang jadi favorit banyak orang. Tak heran bila tidak sedikit dari mereka yang merasa lemas bila tidak minum kopi.
Lantas bagaimana cara mengurangi kopi saat bulan puasa? Ahli Kesehatan sekaligus Epidemiolog dr Dicky Budiman, M.Sc.PH. mengatakan selama Ramadan, peminum kopi akut perlu ada transisi fisiologis dan perilaku yang disiapkan dengan baik.
Sebab kebiasaan kafein atau kopi mengandung psikoaktif yang bekerja pada reseptor adenosin di otak.
Ketika dia berhenti mendadak saat puasa, ini yang bisa menimbulkan gejala putus kafein atau caffeine withdrawal,”
ujar dr Dicky kepada owrite.
Dokter Dicky menyarankan bagi peminum kopi untuk mengurangi asupan kopi secara bertahap.
Untuk peminum kopi akut ini minum kopi 2 atau 3 cangkir sehari, tentu tidak dianjurkan berhenti mendadak tepat pada saat hari pertama puasa. Karena tubuh sudah terbiasa mengkonsumsi kafein.
Cara yang bisa dilakukan, misalnya seminggu sebelum atau tiga hari sebelum Ramadan, kurangi konsumsi kopi harian ini 25 persen sampai 50 persen. Kemudian, minimal satu (gelas) misalnya ganti sebagian kopi dengan kopi rendah kafein untuk beradaptasi,”
jelasnya.
Sementara saat sahur boleh saja minum kopi, namun dengan dosis kecil, misalnya setengah cangkir. Namu dr Dicky menegaskan kopi yang dikonsumsi bukan kopi yang pekat.
Dan harus hindari kopi saat berbuka karena lambung kosong ini kan lebih sensitif terhadap asam dan kafein,”
jelasnya.
Menurut dr Dicky, penyesuaian ini untuk mencegah kejutan nerokimia pada sistem syara pusat. Sedangkan, bila berhenti mendadak konsumsi kopi saat puasa atau caffeine Withdrawal Syndrome.
Caffeine withdrawal (gejala putus kafein) adalah reaksi fisik dan mental yang muncul akibat penghentian atau pengurangan asupan kafein secara drastis setelah penggunaan rutin.
Gejala ini umum terjadi, mulai dari sakit kepala berat, kelelahan, suasana hati buruk, hingga kesulitan konsentrasi, biasanya muncul 12-24 jam setelah dosis terakhir.
Ini yang biasanya munculnya 12 jam atau 1 hari setelah penghentian. Memang ada keluhan misalnya sakit kepala, bendenyut, lemas, mengantuk berat, mual mungkin ya. Pada sebagian individu bisa ada sembelit. Terutama secara psikologis, jadu sulit konsentrasi atau mood menurun. Nah, ini yang umumnya hanya berlangsung 2-5 hari paling lama,”
tuturnya.
Artinya, proses itu bertahap akan berkurang. Nah, cara mengatasi gejala putus kafein saat puasa tentu harus minum banyak.
Antara berbuka dan sampai sahur itu harus cukup banyak minum. Dengan mencegah dehidrasi ini akan mengurangi nyeri kepala. Jadi harus cukup banyak minum air putih.
Kemudian cukup tidur ya. Atau ketika siang juga napping ya 20 menit kalau memungkinkan. Kemudian juga ini yang perlu adalah nutrisi yang memadai. Magnesium misalnya dari pisang atau kacang-kacangan. Juga tentu protein-protein juga penting dan olahraga ringan. Jalan santai 15-20 menit menjelang berbuka ini yang akan meningkatkan endorfin,”
tandasnya.
