Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menyepakati tarif dagang setelah bernegosiasi selama berbulan-bulan.
Keputusan ini tentunya mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat Indonesia, terutama pelaku industri.
Perjanjian dagang ini tentu berdampak signifikan karena memangkas tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen dan membebaskan tarif 0 persen untuk produk unggulan seperti sawit, kopi, dan cokelat, sekaligus menghapus 99 persen hambatan tarif bagu produk AS.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Sarman Simanjorang memberi saran kepada pelaku industri Tanah Air dikenal gonjang ganjing perjanjian dagang antara Indonesia dan AS.
Terkhusus industri otomotif, ia mengajak memiliki semangat yang sama dalam kerangka menjadikan produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Dan tentu daripada stakeholder harus aktif membuka komunikasi dengan pelaku-pelaku industri otomotif misalnya dalam hal ini, sehingga menemukan suatu titik, kemudian juga menemukan suatu harga, kemudian juga menemukan suatu spek yang diharapkan, sehingga kita sangat berharap ke depan bahwa berbagai kebutuhan pemerintah ini tetap diproduksi di dalam negeri,”
ujar Sarman kepada owrite.
Selain itu, dengan adanya perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika, ia berharap produktivitas daripada volume ekspor juga semakin naik. Namun untuk tarifnya sendiri hingga saat ini belum ada kebijakannya dan resmi dari pemerintah.
Tapi kita harapkan bahwa dengan perjanjian yang ada ini, mudah-mudahan ini juga tidak jauh berbeda, ya ini akan mampu meningkatkan volume, tentu akan mampu juga meningkatkan barang-barang kita semakin banyak masuk ke Amerika,”
tandasnya.



