Ketika zionis Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran, pasar minyak global langsung bergetar. Bahkan sebelum pasokan benar-benar terganggu, harga minyak dunia serentak melonjak.
Profesor Teknologi Transportasi dan Keberlanjutan dari Swinburne University of Technology, Hussein Dia, menilai ancaman terhadap ditutupnya Selat Hormuz saja sudah cukup untuk memicu kepanikan pasar.
Sebab, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut yang diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Ketika satu kapal tanker dibom dan lalu lintas nyaris terhenti, pasar segera menambahkan “premi risiko” ke harga minyak.
Pasar minyak bersifat forward-looking. Harga mencerminkan ekspektasi masa depan, bukan hanya kondisi pasokan hari ini,”
jelas Dia dikutip dari The Conversation, Rabu, 4 Maret 2026.
Dia menuturkan, setelah serangan terhadap Iran, minyak mentah Brent yang telah menjadi patokan global tercatat melonjak ke kisaran US$76 per barel dari sebelumnya sekitar US$68 dalam beberapa pekan terakhir.
Minyak Bukan Sekadar Komoditas
Bagi Dia, minyak adalah instrumen geopolitik di mana tiga perempat populasi dunia tinggal di negara yang bergantung pada impor minyak untuk menggerakkan ekonomi.
Sejarah mencatat bagaimana embargo minyak 1973 membuat harga melonjak empat kali lipat dan mengguncang ekonomi global. Sejak saat itu, negara produsen seperti OPEC menggunakan koordinasi pasokan untuk memengaruhi harga.
Kini, sanksi terhadap Iran dan Venezuela serta perang Rusia–Ukraina kembali menunjukkan bagaimana energi bisa menjadi alat tekanan politik.
Ketegangan di titik sempit strategis seperti Selat Hormuz memperbesar risiko sistemik. Gangguan serius terhadap lalu lintas tanker di kawasan Teluk bisa mengguncang stabilitas ekonomi dunia,”
tegasnya.
Dunia Mulai Mengurangi Ketergantungan
Melihat kondisi krisis minyak tersebut, membuat sejumlah negara mempercepat transisi energi. Dia menyebut Nepal, yang telah mendorong kendaraan listrik secara agresif setelah impor minyaknya diblokir India pada 2015. Lalu, Kuba yang mengalami pemangkasan pasokan minyak, kini menggenjot impor panel surya dan kendaraan listrik.
Kemudian, China yang merupakan pengimpor minyak besar, termasuk dari Iran kini tengah mempercepat peralihan ke kendaraan listrik. Bahkan, pada tahun lalu, 50 persen penjualan mobil baru di China adalah EV.
Transisi ini bukan soal ideologi, tetapi kebutuhan dan keamanan,”
ujar Dia.
Energi Terbarukan Ubah Permainan
Menurut Dia, energi terbarukan memiliki keunggulan struktural dibanding minyak. Panel surya dan turbin angin tidak perlu melewati jalur sempit seperti Hormuz. Listrik bisa diproduksi secara lokal dan terdesentralisasi, membuat sistem lebih tangguh terhadap serangan fisik.
Contohnya Ukraina. Setelah infrastruktur listriknya berulang kali menjadi sasaran Rusia, negara itu mempercepat pembangunan energi terbarukan karena pembangkit terdesentralisasi lebih sulit dihancurkan.
Satu rudal bisa melumpuhkan pembangkit batu bara. Untuk menghancurkan ladang turbin angin, dibutuhkan puluhan rudal,”
jelasnya.
Dia menegaskan bahwa kebijakan energi kini identik dengan kebijakan keamanan nasional. Sehingga, mengurangi ketergantungan pada minyak bukan hanya agenda iklim, tetapi juga strategi menghadapi dunia yang makin tidak stabil.
Meski krisis Iran belum tentu berujung pada lonjakan harga berkepanjangan, peristiwa ini kembali mengingatkan betapa rapuhnya sistem energi global yang terlalu bergantung pada satu komoditas yang diperdagangkan lintas batas.
Dalam dunia yang semakin bergejolak, ketahanan energi bukan lagi pilihan utama, melainkan kebutuhan strategis.


