Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok pada penutupan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Rupiah melemah 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar Amerika Serikat, da IHSG merosot 0,55 persen ke level 6.220.
Nilai transaksi tercatat sebesar Rp24,6 triliun dengan melibatkan 34 miliar saham dalam 2,3 juta kali transaksi. Sebanyak 288 saham naik, 137 tidak bergerak, dan 391 turun.
Dilansir dari Stockbit, saham yang mengalami kenaikan tertinggi atau top gainer diantaranya PT Bank Jtrust Indonesia Tbk (BCIC) menguat 35 persen ke Rp135, PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) naik 30,63 persen ke Rp145.
Kemudian PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) naik 28,83 persen ke Rp143, PT Aesler Grup Internasional Tbk (RONY) naik 24,58 persen ke Rp1,115, serta PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) menguat 21,95 persen ke Rp3.500.
Saham Paling Banyak Dijual
Selain itu, ada lima saham yang paling banyak dijual asing atau net foreign sell diantaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp335,57 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebanyak Rp184,05 miliar.
Lalu PT Astra International Tbk (ASII) sebanyak Rp144,57 miliar, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp115,01 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebanyak Rp74,56 miliar.
Alasan Rupiah Melemah

Sementara itu, Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan perkasanya dolar AS hari ini didukung oleh optimisme seputar kesepakatan AS-Iran, yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan di Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut,”
kata Ibrahim dalam analisisnya.
Pelemahan rupiah juga didorong oleh fokus pasar yang saat ini sepenuhnya tertuju pada pengumuman kebijakan Bank Sentral AS alias the Fed. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut plot titik untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini,”
katanya.
Sedangkan dari dalam negeri, investor mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
RDG kali ini menjadi penting karena pada pekan lalu BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG mingguan. Langkah serupa juga terjadi pada RDG Bulanan sebelumnya, ketika BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin,”
katanya.


