Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bakal mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke negara yang aksesnya tidak melewati Selat Hormuz.
Bahlil mengakui, hal itu sebagai respons dari ditutupnya kilang pengolahan milik Saudi Aramco milik Arab Saudi, akibat perang antara AS-Israel vs Iran.
Dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco. Itu juga kena kemarin dinamika di sana,”
kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu, 4 Maret 2026.
Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan bahwa di tahun 2026, Indonesia akan mengimpor LPG hingga 7,8 juta ton. Dimana 70 persen dari total impor tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), dan 30 persennya dari Timur Tengah yakni dari Saudi Aramco.
Dengan demikian, Bahlil memastikan bahwa pemerintah akan mencari pengalihan sumber impor lain, sebagai alternatif guna menghindari risiko yang ada di kawasan Timur Tengah tersebut.
Maka alternatifnya, kami alihkan lagi supaya tidak mengambil risiko. Sebagian kami alihkan untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,”
ujarnya.
Diketahui, sebelumnya laporan Sputnik, menyebut, terdapat pecahan drone yang jatuh di kilang minyak milik Saudi Aramco milik Arab Saudi, di kawasan Ras Tanura yang memicu kebakaran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Turki al-Maliki menyampaikan, puing-puing dari dua drone yang berusaha menyerang kilang minyak di Ras Tanura itu jatuh di lokasi tersebut, meskipun tidak ada korban jiwa dari kejadian itu.

