Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

LPG Nonsubsidi Mencekik! SPPG Putar Otak agar Porsi MBG Tak Disunat

SPPG berupaya agar kualitas dan kuantitas menu MBG tak berkurang, meski harga LPG nonsubsidi mulai meroket pekan ini.

Pekerja membawa tabung gas di distributor gas nonsubsidi di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/4/2026). PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru produk Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi untuk tabung 5,5 kg naik sebesar Rp17.000 atau menjadi Rp107.000 per tabung, dan tabung 12 kg menjadi Rp228.000 atau mengalami kenaikan Rp36.000 dari harga sebelumnya.
Pekerja membawa tabung gas di distributor gas nonsubsidi di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/4/2026). PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru produk Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi untuk tabung 5,5 kg naik sebesar Rp17.000 atau menjadi Rp107.000 per tabung, dan tabung 12 kg menjadi Rp228.000 atau mengalami kenaikan Rp36.000 dari harga sebelumnya. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/kye)

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG nonsubsidi, tabung ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram per 18 April 2026. Kenaikan harga ini mulai dirasakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Seorang pegawai SPPG di Mandailing Natal, Sumatra Utara, berinisial RH mengatakan saat ini dapur SPPG-nya menebus LPG ukuran 12 kilogram seharga Rp273.000 alias lebih mahal Rp43.000 daripada pembelian lima hari sebelumnya.

“Iya, harga naik. Tanggal 14 (April) harga per tabung Rp230.000, tanggal 19 (harga) naik jadi Rp273.000,”

ujar RH saat dihubungi Owrite.id Jumat, 24 April 2026.

SPPG tempat ia bekerja rata-rata membutuhkan dua tabung gas per hari untuk melayani 1.492 penerima manfaat yang terdiri dari siswa dan guru. Selain itu, anggaran MBG untuk porsi besar dialokasikan Rp15.000 per anak (dipotong Rp5.000 untuk operasional), dan Rp10.000 untuk porsi kecil (dipotong Rp2.000 untuk operasional).

Iklan

“Rp15.000 dipotong lagi untuk operasional dapur ini. Jadi biaya untuk beli gas, masker, sarung tangan plastik, sarung tangan karet, fotocopy berkas-berkas, gaji karyawan,”

ucap RH.

Kualitas Tak Kurang

Ada tantangan baru dari kenaikan harga LPG: beli lebih mahal tapi porsi MBG tidak dikurangi. Para pegawai yang sibuk di balik pintu dapur SPPG harus bisa seefisien mungkin mengatur pengeluaran agar tiada pengurangan kuantitas dan kualitas makanan. 

“Tidak (dikurangi). Seumpamanya harga (LPG masih) normal, pun ada pagu anggarannya. Pagu anggaran satu hari (telah ditetapkan). Jadi kalau lebih (dari pagu), (bagian) akuntan harus bijak,”

tutur dia.

“Untuk ke depan kalau harga (LPG) naik, kami bisa gunakan minyak. Jadi (pengeluaran) biaya tidak berlebihan, tetap tidak ada (kualitas dan kuantitas MBG) yang dikurangi,”

sambung RH.

Wajib Jaga

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan kenaikan harga LPG nonsubsidi tidak berdampak terhadap porsi makanan, bahkan kualitas makanan harus tetap dijaga. Selain itu, kenaikan harga tersebut telah diantisipasi

“Biaya operasional sifatnya at cost, jadi sudah diantisipasi. Kualitas makanan tetap harus terjaga,”

ujar Dadan saat dihubungi Owrite.id.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.