Fenomena open BO di kalangan anak muda makin memprihantinkan. Jika dulu praktik ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dianggap sebagai aib sosial, kini sebagian pelakunya justru tampil terbuka di media sosial tanpa rasa sungkan.
Perubahan sikap ini menandai pergeseran nilai di tengah masyarakat, terutama di era digital yang serba instan dan permisif.
Kemudahan akses platform daring, serta maraknya aplikasi percakapan dan media sosial turut mempercepat normalisasi praktik tersebut.
Istilah open BO bahkan tak lagi terdengar asing di ruang-ruang obrolan anak muda. Sebagian dari mereka menganggapnya sebagai pilihan personal, gaya hidup, atau bahkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan gaya hidup yang tinggi.
Psikolog Rose Mini Agoes Salim, M.Psi atau akrab disapa Bunda Romi melihat fenomena open BO ini disebabkan faktor dan internal individu.
Kalau faktor eksternal adanya sosial pelaku yang sama-sama melakukan hal tersebut, atau gaya hidup yang menuntut mereka untuk melakukan hal-hal tersebut untuk memenuhi gaya hidupnya.
Sedangkan faktor internalnya, biasanya anak remaja yang menjadi pelaku open BO ini dipengaruhi oleh moral. Mereka tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk.
Jadi ketika (open BO) sesuatu aib, itu dianggap sesuatu yang baik dan benar, ditambah lagi pembenaran dari lingkungan, yang penting dapet apa yang butuhkan, uang, validasi atau yang lain. Sehingga itu yang membuat mereka jadi melakukan hal tersebut,”
ujar Romi kepada owrite.
Romi menjelaskan, seharusnya moral ditanamkan sejak usia dini di mana kemampuan manusia untuk menstimulus moral agar mengetahui hal baik dan buruk. Menurutnya, moral tidak bisa tumbuh kalau tidak distimulasi.
Ada beberapa hal penting untuk menstimulasi moral, yakni empati, kontrol diri, nurani, kindness, fairness, respect, dan toleransi.
Orang-orang yang melakukan open BO nggak punya kontrol diri, karena mereka butuh dan langsung menghalalkan segala cara untuk melakukan hal tersebut. Lalu juga nurani ini kemampuan manusia untuk melihat benar dan salah, itu biasanya diajarkan dari rumah di mana orang tua ajarkan nilai-nilai yang ada di keluarganya,“
tuturnya.
Minimnya moral yang dimiliki pelaku open BO ini menyebabkan adanya pergeseran dalam hal melihat sudut pandang, karena mereka tidak tahu hal tersebut sebetulnya kelihatannya tidak apa-apa dan tidak masalah, padahal bisa bermasalah di masa depan.
Rasa nggak nyaman dan rasa bersalah harusnya tumbuh dalam diri seseorang kalau mereka melalukan ini,”
tuturnya.
Menurut Romi, media sosial juga memiliki dampak yang besar terkait hal tersebut. Media sosial menormalisasikan hal seperti itu agar para pelaku merasa dilihat oleh pelanggannya, sehingga mereka meletakkan self esteem, harga diri dan konsep dirinya yang salah.
Jadi dia melihat bahwa dia dihargai kalau dia banyak yang membooking dia.
Lebih lanjut Romi mengatakan bahwa manusia sejatinya tidak boleh menggantungkan dirinya pada self esteem seperti itu. Tapi harus melihat potensi dalam dirinya.
Tapi ketika keyakinan dirinya yang dibangun dengan salah, ini akan berdampak pada dia dengan memandang dunia secara berbeda. Apalagi kalau kita lihat remaja dari masa perkembangannya masih mencari identitas diri. Kalau dia merasa berani melakukan ini, dia merasa jadi lebih percaya diri, sehingga dia merasa dirinya bermakna, tapi dengan cara yang salah,”
tambahnya.
