Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, turut mengomentari langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyerang Iran.
Menurut Arcandra, serangan tersebut dapat dianalisis dari aspek ketahanan energi global atau energy security.
Arcandra Tahar menilai dinamika geopolitik yang melibatkan negara-negara penghasil energi besar sering kali tidak terlepas dari kepentingan strategis di sektor energi.
Dia menyinggung bahwa kontroversi kebijakan luar negeri AS kembali menjadi sorotan setelah sebelumnya dunia dihebohkan oleh penangkapan Presiden Venezuela oleh militer AS pada awal 2026.
Setelah hiruk-pikuk ditangkapnya Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh militer Amerika Serikat (AS) bulan Januari 2026, sekarang dunia diributkan kembali dengan aksi kontroversial yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump dan pemerintah AS. Kali ini AS bekerja sama dengan Israel untuk menyerang Iran dengan fokus mengganti kepemimpinan nasional Iran,”
tulis Arcandra dalam akun resminya di Instagram, dikutip Sabtu, 7 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa dalam kasus Venezuela, pemerintah AS menggunakan dasar hukum berupa dakwaan lama terkait dugaan keterlibatan Nicolas Maduro dalam jaringan perdagangan narkoba internasional.
Pada saat menangkap Maduro, alasan hukum utama yang digunakan AS adalah surat dakwaan federal yang sudah ada sejak tahun 2020 di mana AS menuduh Maduro memimpin organisasi perdagangan narkoba bernama ‘Cartel of the Suns’ yang bekerja sama dengan kelompok pemberontak FARC untuk mengirimkan kokain ke AS,”
ujarnya.
Sementara itu, dalam kasus Iran, Arcandra menilai alasan yang dikemukakan AS berbeda. Serangan tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap program nuklir Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
Berbeda dengan Venezuela, AS dan Israel menyerang dan membunuh pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 dengan alasan negosiasi nuklir yang telah berlangsung lama gagal mencapai resolusi. AS pun mengklaim bahwa Iran berada di ambang penyelesaian senjata nuklir yang membahayakan stabilitas kawasan Timur Tengah,”
kata dia.
Meski demikian, Arcandra menilai alasan sebenarnya di balik aksi militer tersebut tidak sepenuhnya dapat dipastikan.
Berbagai analisis muncul, mulai dari faktor geopolitik hingga kepentingan keamanan nasional AS.
Benarkah alasan-alasan yang disampaikan oleh Pemerintah AS dalam melakukan aksi sepihak terhadap negara berdaulat Venezuela dan Iran? Sejatinya tidak ada yang tahu pasti alasan apa yang melatarbelakangi aksi-aksi sepihak ini,”
beber Arcandra.
Ia menambahkan, jika dilihat dari perspektif strategi energi global, langkah tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari praktik lama negara maju dalam menjaga keamanan pasokan energi.
Namun demikian, dari kacamata praktik penguasaan sumber daya alam sebuah negara oleh negara maju dan juga strategi AS untuk memenuhi kebutuhan energinya, maka apa yang dilakukan oleh Presiden Trump ini merupakan pelaksanaan teori dasar dalam energy security. Bukan hal baru,”
ungkap Arcandra.



