Presiden Prabowo Subianto berambisi ingin membuka pusat-pusat pengolahan untuk mengubah kelapa sawit dan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat avtur. Menurut klaim Prabowo, langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan energi alternatif.
Rencana ambisius tersebut diungkapkan dalam sambutan pada peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik di Magelang, Jawa Tengah, pada 9 April lalu.
Menurut orang nomor satu di Indonesia tersebut, avtur dapat diproduksi dari kelapa sawit, di mana ketersediaannya cukup melimpah di Indonesia.
Selain itu, bahan baku lainnya juga dapat berasal dari minyak jelantah atau limbah sisa minyak goreng yang diolah kembali.
Sekarang avtur pun bisa dari kelapa sawit, dan kita punya banyak kelapa sawit. Bahkan avtur nanti itu dari jelantah, dari limbah, dari sisanya minyak goreng, kita bisa olah menjadi avtur,”
kata Prabowo saat itu.
Ambisi lainnya yang terlontar adalah Prabowo ingin membuka pusat-pusat pengolahan untuk mengolah bahan-bahan tersebut menjadi avtur.
Beberapa saat lagi kita akan buka pusat-pusat pengolahan, refinery-refinery untuk ini. Kita akan investasi besar-besaran di bidang itu,”
katanya.
Sebenarnya, apa sih Avtur?
Jika mengacu pada situs resmi Pertamina, Viation Turbine Fuel (Avtur) atau yang lebih dikenal secara internasional dengan nama Jet A-1, adalah jenis bahan bakar yang khusus dirancang untuk pesawat terbang, baik yang menggunakan mesin jet propulsion maupun mesin propeller.
Berdasarkan jurnal yang sama, avtur adalah turunan dari minyak tanah dengan spesifikasi yang sangat ketat, terutama dalam hal titik didih dan titik beku. Secara umum, avtur memiliki standar kualitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis bahan bakar lainnya.
Salah satu aspek yang membedakan avtur, adalah desainnya yang disesuaikan secara khusus untuk mesin pesawat jenis turbin (external combustion).
Selain berperan sebagai sumber energi untuk menggerakkan mesin pesawat, avtur juga memiliki fungsi lain yang penting dalam sistem pengendalian mesin, yaitu sebagai pengondisi cairan hidrolik.
Negara Pengguna Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
Malaysia
Menurut laporan Green Air, dikutip Senin, 20 April 2026, pemerintah Malaysia juga sempat mengumumkan bahwa perusahaan minyak milik negara itu, yakni Petronas akan berkolaborasi dengan produsen minyak sawit utama untuk memproduksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) dari limbah minyak sawit.
Bahan baku ini menjadi kontroversial di banyak negara Barat karena pengembangan perkebunan sawit komersial seringkali mengorbankan hutan tropis, menggusur dan membahayakan satwa liar.
Langkah Malaysia, yang diumumkan dalam anggaran federal pemerintah tahun 2025, merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat industri minyak sawit negara itu, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia dan eksportir nasional utama.
Thailand
Di seberang perbatasan utara Malaysia, perusahaan energi Thailand, Bangchak Corporation, juga telah mengirimkan pasokan pertama SAF campuran ke dalam sistem pipa bahan bakar yang memasok dua bandara internasional Bangkok, Suvarnabhumi dan Don Mueang.
Bahan bakar tersebut dikirim sebagai bagian dari program percontohan bersama Bangkok Aviation Fuel Services dan BAFS Pipeline Transportation untuk membantu mempersiapkan infrastruktur bagi produksi dan penggunaan SAF di Thailand, dan untuk membantu meraih pengakuan sebagai pemimpin energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara yang lebih luas.
Pembangunan unit produksi SAF di Kilang Bangchak di Phra Khanong, dekat Bangkok, berjalan sesuai rencana, dengan produksi dimulai pada awal kuartal kedua tahun 2025 dengan kapasitas 1 juta liter per hari.
Inisiatif ini bertujuan untuk mempersiapkan industri penerbangan, baik maskapai domestik maupun internasional dalam aliansi SAF, untuk mendukung tujuan industri dalam mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih pada tahun 2050, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional.
Singapura
Di Singapura, produsen bahan bakar terbarukan Neste dijadwalkan akan mengirimkan pengiriman kedua dari dua pengiriman SAF campuran masing-masing sebanyak 500 ton ke Bandara Changi untuk digunakan oleh Singapore Airlines dan maskapai penerbangan berbiaya rendahnya, Scoot.
Awal tahun 2025, perusahaan induk mereka, Singapore Airlines Group (SIA), juga membeli 1.000 ton bahan bakar dari kilang Neste di dekat perbatasan dengan Malaysia. Selama kuartal kedua 2025, maskapai ini menjadi yang pertama menerima minyak limbah SAF dari Neste melalui sistem pasokan bahan bakar bandara.
Tak lama kemudian, sebuah Airbus A321 milik Vietnam Airlines yang menuju Hanoi menjadi maskapai tamu pertama dari kawasan Asia-Pasifik yang mengangkut Neste SAF dari Changi, diikuti oleh Boeing 777-300 jarak jauh milik Emirates.
Pabrik Neste yang telah direnovasi, yang dibuka pertengahan 2024 lalu, adalah fasilitas produksi SAF terbesar di dunia, yang mampu memproduksi 1 juta ton bahan bakar per tahun. Selain memasok pusat distribusi Singapura, fasilitas ini juga memproduksi SAF untuk diekspor ke pasar lain termasuk Amerika Utara dan Eropa, di mana permintaan saat ini jauh lebih tinggi daripada di kawasan Asia-Pasifik.
Pemerintah Singapura telah menetapkan bahwa mulai tahun 2026, setidaknya 1 persen dari bahan bakar yang digunakan oleh setiap penerbangan yang berangkat harus berupa SAF, dengan proporsi yang diwajibkan meningkat menjadi antara 3 persen dan 5 persen pada tahun 2030.
Sawit Menggerus Hutan Alam
Menanggapi rencana ambisius Presiden, Auriga Nusantara justru membaca langkah tersebut sebagai sekadar terobosan energi alternatif. Bagi lembaga NGO itu, gagasan itu justru membuka kembali persoalan klasik yang selama ini belum benar-benar dibenahi negara, termasuk bagaimana industri sawit terus tumbuh di atas tekanan terhadap hutan alam.
Peneliti Auriga, Sesilia Maharani Putri, menilai wacana ini perlu dilihat dalam konteks pengalaman Indonesia saat mendorong biodiesel sawit. Setiap kali permintaan sawit dinaikkan melalui kebijakan energi, tekanan terhadap lahan ikut naik. Mirisnya, polanya selalu berulang.
Auriga melihat rencana ini dengan sangat hati-hati. Di satu sisi, upaya mencari alternatif energi memang penting, apalagi untuk sektor penerbangan yang sulit didekarbonisasi. Namun di sisi lain, pengalaman Indonesia dengan biodiesel berbasis sawit menunjukkan bahwa kebijakan seperti ini akan datang dengan konsekuensi yang besar bagi ekologi,”
kata Sesilia pada Owrite saat dihubungi, Senin, 20 April 2026.
Menurut Sesilia, persoalan menjadi lebih serius ketika avtur sawit mulai dipromosikan sebagai “energi hijau”, sementara persoalan keberlanjutan bahan bakunya belum pernah tuntas.
Melabeli avtur sawit sebagai ‘energi hijau’ juga problematik karena keberlanjutan bahan baku yang masih dipertanyakan. Jika sawitnya berasal dari ekspansi kebun baru, terutama jika kebun tersebut terpapar oleh perusakan hutan atau deforestasi. Bukannya jadi solusi pengurangan emisi karbon, industri ini malah jadi pemicu bertambahnya emisi karbon dengan jumlah yang sangat besar,”
ujar Sesilia.
Dalam pandangannya, titik paling rawan dari kebijakan ini bukan pada teknologi pengolahan avtur, melainkan pada efek berantai yang akan mendorong lonjakan kebutuhan minyak sawit mentah (CPO).
Ketika permintaan avtur naik, permintaan CPO otomatis ikut naik. Sementara, pada saat yang sama, pasokan CPO domestik sudah hampir habis terserap oleh program biodiesel.
Tanpa pengendalian yang kuat, peningkatan permintaan avtur akan langsung mendorong peningkatan permintaan minyak sawit mentah atau CPO,”
bebernya.
Sesilia lalu menyinggung target B40 sebesar 17,5 juta kiloliter biodiesel, yang dianggap sudah membutuhkan sekitar 19,3 juta ton CPO. Padahal, ketersediaan bahan baku domestik pada 2024 berada di kisaran 20 juta ton.
Artinya jumlah CPO dalam negeri hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan biodiesel tersebut,”
ungkapnya.
Dalam situasi terhimpit itu, jika muncul kebutuhan baru untuk avtur dan produktivitas sawit tidak naik drastis, maka menurutnya pilihan yang paling cepat, murah, dan paling sering terjadi di lapangan adalah membuka lahan baru.
Jika produktivitas sawit tidak naik secara signifikan untuk meneuhi kebutuhan biodiesel maupun avtur, maka jalan pintas yang cenderung diambil adalah membuka lahan baru,”
jelasnya.
Sesilia pun mencoba menghitung dampak terburuknya. Dalam skenario implementasi B100 dengan pola business as usual saja, Indonesia diperkirakan bisa kekurangan 22 juta ton CPO. Jumlah tersebut setara dengan 5 juta hekatare ekspansi lahan.
Bayangkan jika avtur juga dijalankan, maka potensi deforestasinya akan makin besar lagi,”
tegasnya.
Auriga menilai, angka ini bukan sekadar proyeksi produksi, melainkan proyeksi kehilangan ekosistem. Ekspansi sawit berarti perubahan permanen dari hutan alam menjadi lanskap monokultur.
Menurutnya, langkah ini bukan sekadar Indonesia kehilangan pohon, melainkan kehilangan seluruh ekosistem. Habitat satwa terfragmentasi, populasi spesies kunci menurun, dan konflik manusia dengan satwa juga meningkat.
Lebih jauh, Peneliti Auriga itu menegaskan bahwa spesies seperti orangutan, harimau Sumatra, dan gajah akan menjadi yang paling terdampak, dan kerusakan seperti itu tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Di sisi lain, Auriga juga mempertanyakan siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari kebijakan seperti ini.
Korporasi besar yang memiliki konsesi luas dan terintegrasi dengan industri hilir akan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Sementara itu, masyarakat lokal seringkali justru menghadapi risiko kehilangan lahan, konflik, dan degradasi lingkungan,”
katanya.




