Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga dinilai berperan dalam membentuk karakter siswa di sekolah.
Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam rapat koordinasi implementasi Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 yang digelar di Semarang, Jawa Tengah.
Menurut Abdul Mu’ti, program MBG menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang mendorong kebiasaan positif pada siswa.
Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.
Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif dengan LabSosio UI, program MBG membantu murid meningkatkan motivasi belajar, memberikan pengalaman menyenangkan bagi siswa baik dari produk maupun saat makan bersama, juga memberikan kesempatan bagi siswa dari kelompok sosio-ekonomi rendah mendapatkan pangan yang bergizi,”
kata Abdul Mu’ti dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 7 Maret 2026.
Diketahui, implementasi MBG telah menjangkau 49,6 juta murid atau sekitar 93 persen dari total 53,4 juta siswa di Indonesia.
Program tersebut dilaksanakan di 288.845 sekolah, atau sekitar 66,5 persen dari total sekolah di seluruh Indonesia.
Pemerintah juga telah mendistribusikan modul edukasi serta pedoman implementasi MBG yang terintegrasi dengan penguatan pendidikan karakter.
Selain berdampak pada pembentukan karakter, program ini juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menilai kecukupan gizi memiliki hubungan langsung dengan tingkat kecerdasan anak.
SDM unggul ditentukan oleh asupan yang cukup. Sebagus apapun sekolahnya, kalau anak kurang gizi atau stunting, IQ-nya akan rendah. Kita harus memastikan swasembada pangan dan protein,”
tutur Zulkifli.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri PPPA Arifah Fauzi, menilai MBG tidak hanya menjadi intervensi gizi, tetapi juga bagian dari upaya perlindungan anak.
Program ini bukan hanya intervensi gizi, tetapi perlindungan anak yang menempatkan anak sebagai subjek pembangunan. Kami memastikan perempuan tidak hanya menjadi target, tetapi juga penggerak utama melalui pelibatan di dapur-dapur MBG dan UMKM lokal,”
jelasnya.
Selain itu, Abdul Mu’ti menegaskan pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap pelaksanaan program MBG agar seluruh anak Indonesia dapat memperoleh gizi yang layak sekaligus pendidikan karakter yang kuat.
Prinsip kami adalah: apa yang tidak bisa diambil semuanya, jangan dibuang semuanya. Jika ada kendala dalam implementasi MBG, kami akan terus memperbaikinya demi memastikan 100 persen anak Indonesia mendapatkan hak gizi yang layak sekaligus pendidikan karakter yang baik,”
tutup Abdul Mu’ti.

