Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik utang baru sebesar Rp185,3 triliun hingga akhir Februari 2026. Nilai itu 22,3 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang sebesar Rp832,2 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, pembiayaan anggaran pada tahun ini masih terjaga dengan baik dalam batas yang terkendali. Bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, realisasinya masih lebih rendah yang mana mencapai Rp249,9 triliun.
Realisasinya per akhir Februari telah mencapai Rp185,3 triliun atau 22,3 persen dari target,”
ujar Juda dalam konferensi pers APBN KiTA, dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
Selain pembiayaan utang, realisasi pembiayaan non utang per Februari 2026 sebesar Rp21,1 triliun atau 14,7 persen terhadap APBN, dari pagu senilai Rp143,1 triliun.
Juda memastikan, strategi pembiayaan utang akan dilakukan secara antisipatif agar ketersediaan kas tetap memadai, dan menjaga fleksibilitas pembiayaan.
Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif yaitu untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai, sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk respons dinamika pasar yang sedang terjadi,”
katanya.
Juda menjelaskan, sebagian besar pembiayaan utang ini berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik. Ia menyebut, minat investor terhadap SBN masih sangat kuat.
Sebagian besar pembiayaan utang itu didukung oleh pendanaan dari pasar SBN, dan minatnya masih sangat tinggi, masih sangat baik,”
imbuhnya.


