Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mewanti-wanti transmisi perang yang terjadi di Timur Tengah antara AS-Israel vs Iran. Karena, perang ini akan memberikan dampak bagi RI di tiga jalur.
Purbaya mengatakan, penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasokan energi global, dan menyebabkan harga komoditas minyak melambung tinggi.
Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun,”
ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
Adapun efeknya untuk Indonesia jelas Purbaya, ditransmisikan ke beberapa jalur yang harus diwaspadai pemerintah. Hal ini diantaranya jalur perdagangan, keuangan, dan fiskal.
Dia menjelaskan, dari jalur perdagangan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas, menekan surplus neraca perdagangan dan pembayaran.
Dari jalur pasar keuangan, ketidakpastian global bisa memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, nilai tukar rupiah serta dapat meningkatkan cost of fund,”
jelasnya.
Sedangkan dari jalur fiskal, APBN dihadapkan pada tekanan potensi pembengkakan anggaran akibat kenaikan harga subsidi energi hingga beban bunga utang
APBN berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang di tengah windfall profit dari komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO,”
imbuhnya.
Bendahara Negara ini menegaskan, pemerintah akan memantau perkembangan secara ketat. Hal ini dilakukan agar APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent, agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,”
ujarnya.

