Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 25 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / (Part II) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat
Politik

(Part II) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Maret 13, 2026 8:40 am
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
3 bulan lalu
Share
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Pemerintah dan DPR seharusnya membenahi district magnitude (besaran daerah pemilihan) atau fokus pada tata kelola di dalam parlemen itu sendiri, seperti penentuan jumlah fraksi dan mekanisme pengambilan keputusan.

Sayangnya, opsi alternatif yang lebih adil ini dihindari karena dianggap tidak secepat PT dalam mengamankan “maksud laten” petahana mengurangi pesaing politik.

Sebagai jalan keluar yang lebih demokratis, Hadar mengusulkan agar sistem pemilu di Indonesia kembali kepada prinsip keterbukaan dan penghargaan mutlak terhadap suara rakyat.

Menurut saya, seharusnya (semua orang) berani betul-betul menghargai suara rakyat. Sekalipun dia hanya bisa mengumpulkan satu kursi, itu harus dihargai,”

ucap Hadar.

Ada pula tawaran formulasi alternatif jika instrumen PT tetap terpaksa digunakan. Ambang batas persentase nasional tidak boleh menjadi satu-satunya syarat mutlak yang menggugurkan perolehan kursi sah di daerah pemilihan.

Jikapun akan diterapkan PT sekian persen, katakanlah 2,5 persen, maka harus diberlakukan klausul tambahan: ‘…atau memperoleh sekurang-kurangnya 1 kursi’. Jadi, jika ada partai memperoleh suara sah nasional tidak mencapai 2,5 persen namun mendapatkan 1 kursi di satu dapil tertentu, maka ia dianggap telah mencapai PT,”

tutur Hadar.

Sistem yang terbuka dan berkeadilan mutlak diperlukan agar hukum pemilu tidak terus-menerus direkayasa hanya demi melayani kepentingan kelompok yang tengah memegang palu kekuasaan.

Liga Anggota Parlemen

Wacana ini dinilai sebagai pedang bermata dua; di satu sisi bertujuan menciptakan pemerintahan dan parlemen yang kuat, namun di sisi lain berpotensi membuang jutaan suara rakyat dan memberangus banyak partai politik.

Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, menilai wacana ini berangkat dari asumsi dasar untuk menguatkan sekaligus menyederhanakan jumlah partai politik di parlemen.

Rencananya itu adalah menguatkan partai politik, menyederhanakan partai politik. Ada keinginan supaya parlemen itu keputusannya tidak ribet. Keputusan parlemen itu bisa diambil langsung dengan cara mudah. Nah, ini adalah asumsi awal bagaimana parliamentary threshold itu dibangun,”

kata Efriza, kepada owrite.

Ketiadaan ambang batas atau ambang batas yang terlalu kecil justru dinilai berbahaya bagi efektivitas pemerintahan.

Partai-partai kecil yang lolos ke Senayan seringkali kalah suara dalam voting dan proses pengambilan keputusan, sehingga dinilai tidak efektif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

(Part I) Kelabu Ambang Batas Parlemen 7 Persen: Akal Bulus Elite Kubur Suara Rakyat

Selain itu, eksekutif pun dipusingkan dengan keharusan membagi kursi jabatan kepada partai-partai dengan kekuatan politik minim.

Jika wacana PT 7 persen benar-benar direalisasikan secara nasional, Efriza memprediksi lanskap politik Senayan akan berubah drastis.

Jumlah fraksi menyusut tajam, meninggalkan sistem multipartai ekstrem menuju multipartai moderat.

Semakin mengecil jumlah partai politiknya. Bisa jadi tinggal tersisa tiga atau empat partai politik yang bisa lolos di parlemen. Artinya partai-partai di bawah dari tiga besar itu semakin kesusahan,”

ucap dia.

Berdasarkan analisis rekam jejak dan basis identitas kepartaian, Efriza memetakan partai-partai yang berpotensi aman dan yang terancam terdepak dari Senayan:

1. Partai yang diprediksi lolos: PDI Perjuangan (karena identitas wong cilik yang kuat), Golkar (memiliki akar nasionalis yang lama), Gerindra (sedang berada di tampuk pemerintahan dengan elektabilitas tinggi), dan PKB (memiliki basis massa NU yang besar).

2. Partai yang terancam terdepak: PAN diprediksi kesulitan karena tidak bisa meraup suara Muhammadiyah secara utuh. Demokrat dan Nasdem juga rawan terdepak karena dinilai memiliki identitas kepartaian yang kurang kuat.

3. Partai yang dipastikan gagal: Partai-partai baru dan partai non-parlemen seperti Prima, Gelora, Partai Buruh, PKN, Perindo, hingga PSI dipastikan akan sangat sulit menembus angka 7 persen.

“Jangankan Prima, PSI pun kemungkinannya kalau 7 persen tidak akan lolos,”

tegas Efriza.

Di balik perdebatan angka ambang batas, Efriza menyoroti masalah mendasar pada sistem kepartaian di Indonesia.

Ia menyebut seluruh partai di Indonesia saat ini sejatinya masuk dalam kategori “partai gurem” karena tidak ada satu pun partai yang mampu mendominasi perolehan suara hingga menyentuh 30 persen, apalagi 50 persen plus satu.

Oleh karena itu, Efriza menawarkan solusi yang lebih sistematis ketimbang sekadar mengutak-atik angka PT, yakni dengan menerapkan sistem berjenjang layaknya kompetisi liga sepak bola.

Jangan hanya pengaturan tentang parliamentary threshold. Ada pengaturan yang berjenjang layaknya liga, layaknya kompetisi sepak bola, itu yang terbaik. Jadi, partai-partai baru tidak langsung untuk naik ke DPR,”

saran Efriza.

Dalam konsep ini, partai yang gagal memenuhi ambang batas (terdegradasi) atau partai baru tidak langsung bertarung di tingkat nasional, melainkan harus membuktikan diri terlebih dahulu di tingkat kabupaten/kota atau provinsi.

Efriza juga mengkritik keras gagasan ‘Ambang Batas Fraksi’ yang kerap digaungkan sebagai solusi penyelamat suara partai kecil jika PT dinaikkan.

Menurut hasil risetnya, penggabungan partai kecil ke dalam fraksi partai besar di DPR tidak memberikan dampak substansial bagi partai kecil tersebut.

Partai kecil yang tergabung dalam fraksi gabungan pada akhirnya hanya menjadi ‘pengekor’ keputusan partai besar yang mendominasi fraksi.

Umumnya partai gurem itu sulit untuk bersuara dan malah menjadi kesempatan bagi mereka berlindung di bawah kenyataan bahwa jumlah mereka kecil, namun makan gaji buta. Pada akhirnya, wacana PT 7 persen menghadirkan dilema klasik.

Artinya menyederhanakan partai, efeknya adalah membangun pemerintahan yang kuat, membangun DPR yang lebih baik. Namun, konsekuensinya adalah suara rakyat terbuang. Saya rasa itu perdebatan terus-menerusnya,”

kata Efriza.
Tag:DPREditorialParliamentary Thresholdpartai politikpemiluPolitikSpill
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Heboh Isu Keponakan Prabowo Budi Djiwandono ‘Awasi’ Gibran, Gerindra Akhirnya Buka Suara
By Rika Pangesti
Ketua DPP Gerindra sekaligus Sekretaris Fraksi Gerindra di DPR Bambang Haryadi.
1
Gerindra Bela Gibran soal Isu Danai Demo Mahasiswa UBK: Jangan Adu Domba Presiden dan Wapres
By Rika Pangesti
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI sekaligus Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryadi
2
Korban Bertambah! Calon Manajer Kopdes-KNPM Meninggal saat Latihan Militer, Total 3 Nyawa Melayang
By Rahmat Baihaqi
Seleksi Manajer Koperasi Desa di Stadion
3
Pasokan Batu Bara PLN Habis Bulan Juni, Bahlil: Ilmu Abuleke Apalagi ini?
By Natania Longdong
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara CNBC Energy Forum 2026 di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)
4
Tak Tinggal Diam, Bahlil Gandeng Kejagung Telusuri Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir
By Natania Longdong
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara CNBC Energy Forum 2026 di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)
5

BERITA LAINNYA

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Politik

Polemik Gibran Terserat Uang Demo Mahasiswa UBK, Publik Berhak Curiga Ada Motif Politik

Pengamat politik Fernando Emas menilai pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan…

Rahmat Tunny OWRITE
By
Rahmat Tunny
2 jam lalu
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI sekaligus Sekretaris Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryadi
Politik

Gerindra Belum Prioritaskan RUU Pemilu, Pilih Fokus ke UU Penopang Program Pemerintah

Fraksi Partai Gerindra menegaskan belum menjadikan revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu sebagai…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
7 jam lalu
Kuasa Hukum Keluarga Fandi Hotman Paris mengadu ke DPR mengenai janggalnya kasus penyelundupan narkoba kliennya di Batam.
Politik

Hotman Diminta ‘Geng Solo’ Hapus Video Roy Suryo, Respons dari Istana Justru Bikin Kaget

Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mengaku sempat diminta oleh seseorang yang disebut…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
7 jam lalu
Gedung Koperasi Merah Putih Kelurahan Baruga yang telah rampung dibangun di Kendari, Sulawesi Tenggara
Politik

Tiga Korban Jiwa Jadi Alarm Keras, Program Semi Militer Calon Manajer Kopdes Harus Distop

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Mohammad Guntur Romli menyoroti kematian tiga calon manajer…

Rahmat Tunny OWRITEHardani Triyoga
By
Rahmat Tunny
Hardani Triyoga
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up