Langkah militer Amerika Serikat (AS) dalam konflik dengan Iran kini semakin agresif dan memasuki babak baru yang lebih luas. Mereka mengancam tak lagi terbatas beroperasi di Timur Tengah, dan coba lakukan penindakan terhadap kapal-kapal yang terafiliasi Iran yang merambah hingga kawasan Indo-Pasifik, termasuk jalur strategis Selat Malaka.
Ketua Gabungan Kepala Staf Militer AS, Jenderal Dan Caine, menegaskan bahwa pihaknya siap memburu kapal mana pun yang terhubung dengan Iran, bahkan di luar zona konflik utama.
Kami juga melakukan intersepsi maritim serupa di kawasan Pasifik terhadap kapal-kapal yang sebelumnya meninggalkan wilayah tersebut sebelum blokade dimulai,”
ujar Caine dikutip dari CNN pada Minggu, 19 April 2026.
Ancaman ini menandai eskalasi signifikan, di mana operasi militer AS tidak lagi bersifat regional, melainkan global. Target utamanya adalah apa yang disebut sebagai “dark fleet” yaitu armada tanker bayangan yang digunakan untuk mengangkut minyak Iran secara ilegal di tengah sanksi internasional.
Menurut laporan industri pelayaran, kawasan Indo-Pasifik terutama perairan sekitar Selat Malaka menjadi salah satu titik konsentrasi terbesar aktivitas kapal-kapal tersebut.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru, mengingat Selat Malaka merupakan salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia, sekaligus titik vital bagi distribusi energi global.
AS Mengulang Strategi Serupa Saat Hadapi Venezuela
Analis maritim dan mantan perwira Angkatan Laut AS, Charlie Brown, menyebut pola operasi ini bukan hal baru. Ia menilai Washington kemungkinan akan mengulang strategi serupa yang pernah diterapkan terhadap Venezuela.
AS sebelumnya sudah mencegat kapal tanker yang dikenai sanksi jauh dari wilayah Venezuela, termasuk di Samudra Hindia,”
kata Brown.
Menurutnya, operasi serupa sangat mungkin dilakukan di perairan internasional yang memberi ruang gerak lebih bebas bagi militer AS.
Indikasi eskalasi ini juga terlihat dari pergerakan kapal militer AS. Salah satunya adalah USS Miguel Keith, kapal besar jenis expeditionary sea base, yang terpantau bergerak menuju Selat Malaka setelah sempat singgah di Singapura.
Kapal ini memiliki fungsi strategis, mulai dari operasi khusus hingga penanggulangan ranjau laut, yang mengindikasikan kesiapan AS dalam menghadapi potensi konflik maritim yang lebih luas.
Rantai Pasok Energi Global Semakin Terhambat
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz tetap menjadi titik panas utama. Jalur ini disebut sangat padat dan krusial bagi lalu lintas energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewatinya.
Ketegangan yang terus meningkat antara AS dan Iran membuat jalur tersebut berulang kali ditutup dan dibuka secara sepihak, memicu gangguan besar terhadap rantai pasok energi global.
Dengan meluasnya operasi hingga Indo-Pasifik, konflik ini kini tak lagi sekadar perebutan pengaruh regional, melainkan berpotensi menjadi konfrontasi global yang berdampak langsung pada jalur perdagangan internasional, termasuk yang melintasi wilayah Indonesia.
