Harga BBM lagi naik, dan seperti biasa, banyak orang mulai cari alternatif biar pengeluaran gak makin berat.
Salah satu yang sempat dilirik adalah kendaraan listrik yang katanya lebih hemat, lebih ramah lingkungan, dan sebelumnya juga dapat keringanan pajak.
Tapi di momen yang sama, justru muncul kebijakan baru yang bikin orang mikir ulang.
Lewat aturan terbaru itu, kendaraan listrik yang sebelumnya bebas pajak sekarang berpotensi dikenakan pajak tahunan. Jadi di saat BBM makin mahal, opsi “kabur” ke kendaraan listrik juga ikut kena biaya tambahan.
Gak heran kalau banyak yang ngerasa…ini timing-nya kok pas banget ya?
Tadinya jadi Solusi, Sekarang Ikut Kena Beban
Selama ini, kendaraan listrik punya daya tarik karena ada insentif, salah satunya pajak yang lebih ringan, bahkan sempat Rp 0. Ini jadi semacam “kompensasi” karena harga awal kendaraan listrik masih cukup tinggi.
Tapi ketika insentif itu mulai dicabut, keunggulan tersebut jadi berkurang. Di satu sisi BBM naik, di sisi lain kendaraan listrik yang diharapkan jadi solusi malah ikut nambah beban.
Bikin Orang Mikir Dua Kali
Beralih ke kendaraan listrik itu bukan keputusan kecil. Selain harga beli-nya, orang juga mempertimbangkan biaya jangka panjangnya.
Sekarang, dengan aturan baru, kendaraan listrik sebelumnya yang bisa kena bebas pajak (Rp 0 %) mulai dikenakan pajak seperti kendaraan pada umumnya. Secara umum, pajak kendaraan bermotor berada di kisaran 1-2% dari nilai jual pertahun, tergantung daerah.
Artinya, kalau sebelumnya pemilik mobil listrik tidak membayar pajak tahunan, sekarang mereka bisa mengeluarkan sekitar 3-5jt pertahun untuk mobil di kelas harga 300-400jtan.
Nah, disinilah dilema terasa. Dengan adanya pajak tambahan, wajar kalau banyak yang akhirnya menunda atau bahkan batal beralih. Apalagi buat kelas menengah, perubahan kecil dalam biaya bisa terasa cukup signifikan kalau dihitung secara keseluruhan.
Gak Cuma Soal Pengguna, Tapi Juga ke Industri
Kebijakan seperti ini gak cuma berdampak ke konsumen, tapi juga ke industri kendaraan listrik secara keseluruhan.
Kalau aturan berubah di tengah jalan, kepercayaan investor bisa ikut goyah. Padahal, Indonesia punya potensi besar untuk jadi pemain utama di sektor kendaraan listrik. Tapi tanpa dukungan yang konsisten, potensi itu bisa jadi jalan di tempat.
Jadi, Pilih yang Mana?
Sekarang, pilihannya jadi agak dilematis.
Tetap pakai kendaraan berbahan bakar, tapi harus siap dengan harga BBM yang terus naik. Atau beralih ke kendaraan listrik, tapi dengan biaya tambahan yang mulai terasa.
Yang jelas, situasi ini bikin banyak orang ngerasa pilihan yang ada bukan lagi soal mana yang lebih hemat, tapi mana yang paling masuk akal di kondisi sekarang.
