Beberapa tahun terakhir, istilah main character energy jadi salah satu tren yang sering muncul di media sosial. Konsepnya sederhana, jadilah tokoh utama dalam hidupmu sendiri. Jangan terus hidup untuk menyenangkan orang lain, berani mengambil keputusan, dan mulai menghargai diri sendiri.
Sekilas, nggak ada yang salah dengan itu.
Masalahnya, tren ini kadang berubah arah. Dari yang awalnya tentang percaya diri dan self-love, jadi merasa semua hal harus berpusat pada diri sendiri.
Dan di titik itulah main character energy bisa mulai terasa toxic.
Saat Semua Hal Harus Tentang Kita
Pernah nggak merasa kesal ketika teman membatalkan janji karena ada urusan mendadak? Atau merasa orang lain sengaja mengabaikanmu saat mereka sibuk dengan hidupnya sendiri?
Kadang tanpa sadar, kita mulai melihat semua kejadian dari sudut pandang diri sendiri.
Padahal kenyataannya, setiap orang juga sedang menjalani cerita hidup mereka masing-masing.
Psikolog sosial Thomas Gilovich dan Kenneth Savitsky menjelaskan fenomena yang disebut spotlight effect, yaitu kecenderungan manusia untuk merasa bahwa orang lain lebih memperhatikan kita daripada yang sebenarnya. Konsep ini dibahas dalam penelitian mereka tahun 2000 berjudul The Spotlight Effect in Social Judgment.
Akibatnya, kita bisa merasa menjadi pusat perhatian, padahal sebagian besar orang sebenarnya sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Ketika Self-Love Berubah Jadi Self-Centered
Mencintai diri sendiri itu penting, tapi ada perbedaan besar antara menghargai diri sendiri dan menganggap kebutuhan kita selalu lebih penting dibanding orang lain.
Dalam bukunya The Narcissism Epidemic (2009), Jean M. Twenge dan W. Keith Campbell menjelaskan bahwa budaya modern semakin mendorong individu untuk fokus pada diri sendiri, popularitas, dan validasi personal. Ketika hal itu berlebihan, seseorang bisa menjadi kurang empati terhadap orang lain.
Di media sosial, hal ini sering terlihat dalam bentuk keyakinan bahwa semua orang harus memahami kita, semua hubungan harus berjalan sesuai ekspektasi kita, atau semua orang yang tidak setuju dengan kita otomatis dianggap negatif, padahal hidup nggak bekerja seperti itu.
Orang Lain Bukan Figuran
Salah satu masalah terbesar dari main character energy yang kebablasan adalah kita mulai melihat orang lain sebagai karakter pendukung. Teman dianggap hadir untuk mendukung kita, pasangan dianggap harus selalu memahami kita, lingkungan dianggap harus menyesuaikan diri dengan kita. Padahal, setiap orang juga punya cerita, masalah, dan kebutuhan yang sama pentingnya.
Penulis dan peneliti Brené Brown dalam bukunya Daring Greatly (2012) menekankan bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui empati dan koneksi, bukan hanya fokus pada diri sendiri.
Kalau kita terlalu sibuk menjadi “karakter utama”, kita bisa kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan dan memahami orang lain.
Jadi, Harus Gimana?
Sebenarnya main character energy bukan sesuatu yang buruk. Justru banyak orang membutuhkannya untuk belajar percaya diri, berhenti mencari validasi terus-menerus, dan mulai menjalani hidup sesuai keinginannya sendiri.
Tapi penting untuk diingat bahwa menjadi tokoh utama dalam hidupmu bukan berarti semua orang lain menjadi figuran.
Kamu boleh memprioritaskan dirimu sendiri, kamu boleh punya batasan, kamu boleh mengejar kebahagiaanmu, tapi di saat yang sama, orang lain juga berhak menjadi tokoh utama dalam hidup mereka. Dan mungkin, hubungan yang paling sehat terjadi ketika dua orang yang sama-sama menjadi “main character” bisa saling menghargai cerita satu sama lain.
Setuju nggak kalau tren ini kadang suka kebablasan? Share artikel ini ke temanmu dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten psikologi, self-development, dan fenomena sosial lainnya!
