Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 13 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • MBG
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Sefruit / Main Character Energy Nggak Selalu Keren,Kadang Justru Bikin Orang Menjauh
Sefruit

Main Character Energy Nggak Selalu Keren,Kadang Justru Bikin Orang Menjauh

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
Last updated: Juni 13, 2026 1:42 am
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
Share
SHARE

Beberapa tahun terakhir, istilah main character energy jadi salah satu tren yang sering muncul di media sosial. Konsepnya sederhana, jadilah tokoh utama dalam hidupmu sendiri. Jangan terus hidup untuk menyenangkan orang lain, berani mengambil keputusan, dan mulai menghargai diri sendiri.

Sekilas, nggak ada yang salah dengan itu.

Masalahnya, tren ini kadang berubah arah. Dari yang awalnya tentang percaya diri dan self-love, jadi merasa semua hal harus berpusat pada diri sendiri.

Dan di titik itulah main character energy bisa mulai terasa toxic.

Saat Semua Hal Harus Tentang Kita

Pernah nggak merasa kesal ketika teman membatalkan janji karena ada urusan mendadak? Atau merasa orang lain sengaja mengabaikanmu saat mereka sibuk dengan hidupnya sendiri?

Kadang tanpa sadar, kita mulai melihat semua kejadian dari sudut pandang diri sendiri.

Padahal kenyataannya, setiap orang juga sedang menjalani cerita hidup mereka masing-masing.

Psikolog sosial Thomas Gilovich dan Kenneth Savitsky menjelaskan fenomena yang disebut spotlight effect, yaitu kecenderungan manusia untuk merasa bahwa orang lain lebih memperhatikan kita daripada yang sebenarnya. Konsep ini dibahas dalam penelitian mereka tahun 2000 berjudul The Spotlight Effect in Social Judgment.

Akibatnya, kita bisa merasa menjadi pusat perhatian, padahal sebagian besar orang sebenarnya sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Ketika Self-Love Berubah Jadi Self-Centered

Mencintai diri sendiri itu penting, tapi ada perbedaan besar antara menghargai diri sendiri dan menganggap kebutuhan kita selalu lebih penting dibanding orang lain.

Dalam bukunya The Narcissism Epidemic (2009), Jean M. Twenge dan W. Keith Campbell menjelaskan bahwa budaya modern semakin mendorong individu untuk fokus pada diri sendiri, popularitas, dan validasi personal. Ketika hal itu berlebihan, seseorang bisa menjadi kurang empati terhadap orang lain.

Di media sosial, hal ini sering terlihat dalam bentuk keyakinan bahwa semua orang harus memahami kita, semua hubungan harus berjalan sesuai ekspektasi kita, atau semua orang yang tidak setuju dengan kita otomatis dianggap negatif, padahal hidup nggak bekerja seperti itu.

Orang Lain Bukan Figuran

Salah satu masalah terbesar dari main character energy yang kebablasan adalah kita mulai melihat orang lain sebagai karakter pendukung. Teman dianggap hadir untuk mendukung kita, pasangan dianggap harus selalu memahami kita, lingkungan dianggap harus menyesuaikan diri dengan kita. Padahal, setiap orang juga punya cerita, masalah, dan kebutuhan yang sama pentingnya.

Penulis dan peneliti Brené Brown dalam bukunya Daring Greatly (2012) menekankan bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui empati dan koneksi, bukan hanya fokus pada diri sendiri.

Kalau kita terlalu sibuk menjadi “karakter utama”, kita bisa kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan dan memahami orang lain.

Jadi, Harus Gimana?

Sebenarnya main character energy bukan sesuatu yang buruk. Justru banyak orang membutuhkannya untuk belajar percaya diri, berhenti mencari validasi terus-menerus, dan mulai menjalani hidup sesuai keinginannya sendiri.

Tapi penting untuk diingat bahwa menjadi tokoh utama dalam hidupmu bukan berarti semua orang lain menjadi figuran.

Kamu boleh memprioritaskan dirimu sendiri, kamu boleh punya batasan, kamu boleh mengejar kebahagiaanmu, tapi di saat yang sama, orang lain juga berhak menjadi tokoh utama dalam hidup mereka. Dan mungkin, hubungan yang paling sehat terjadi ketika dua orang yang sama-sama menjadi “main character” bisa saling menghargai cerita satu sama lain.

Setuju nggak kalau tren ini kadang suka kebablasan? Share artikel ini ke temanmu dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten psikologi, self-development, dan fenomena sosial lainnya!

 

Tag:main character energyMedia SosialViral
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Zaskia Adya Mecca Turun ke Jalan, Bagikan Logistik Gratis untuk Mahasiswa Demo di Bundaran HI
By Syifa Fauziah
Zaskia Adya Mecca
1
Resep Tongseng Telur Dadar, Menu Sederhana dengan Kuah Gurih Bikin Nagih
By Syifa Fauziah
Resep tongseng telur
2
Polemik UU Polri Baru, Feri Amsari Beberkan Dampak yang Dinilai Berbahaya bagi Negara
By Hardani Triyoga
Pakar hukum tata negara Feri Amsari.
3
Bantah Sengaja Bikin Sinyal Demo ‘Indonesia Bangkrut’ Jadi Lemot, Polisi: Karena Kebanyakan Orang
By Rahmat Tunny
Aksi 'Menuju Indonesia Bangkrut', 12 Juni 2026, di Jakarta.
4
Pertamax Green Makin Mahal, Bioetanol Tak Bikin BBM Lebih Murah dan Ramah APBN
By Natania Longdong
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Aprillio Akbar/nz)
5

BERITA LAINNYA

Sefruit

Kenapa Libra Suka Bikin Orang Bingung Saat PDKT?

Libra dikenal ramah, perhatian, dan mudah membuat orang nyaman. Masalahnya, sifat itu…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
10 jam lalu
Sefruit

Apa yang Ada di Pikiran Capricorn Saat Lagi Jatuh Cinta?

Capricorn dikenal kalem dan sulit ditebak saat jatuh cinta. Tapi di balik…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
2 hari lalu
Sefruit

Pernah Merasa Bersalah Saat Rebahan? Ternyata Ini yang Terjadi pada Pikiranmu

Pernah merasa bersalah saat rebahan atau tidak melakukan apa-apa? Bisa jadi kamu…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
2 hari lalu
Sefruit

Doom-Scrolling: Kebiasaan yang Bikin Capek Tapi Susah Ditinggalin

Doom-scrolling membuat banyak orang terus mengonsumsi berita dan konten negatif meski merasa…

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
3 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up