Kecelakaan antara kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line baru-baru ini menyita perhatian publik, khususnya para pengguna Kereta Rel Listrik (KRL).
Peristiwa tersebut tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga memicu berbagai tanggapan dari penumpang, terutama penumpang perempuan yang sehari-hari mengandalkan gerbong khusus wanita.
Meski insiden tersebut menimbulkan rasa takut dan kekhawatiran, sebagian penumpang mengaku masih merasa aman menggunakan KRL, khususnya di gerbong wanita.
Salah satu penumpang KRL Nambo – Jakarta Kota, Raissa (21), mengungkapkan bahwa kejadian itu memang mengagetkan, namun tidak sampai membuatnya trauma.
Kalau aku sih tetap ya ngerasa aman naik KRL, termasuk di gerbong perempuan. Jujur, kejadian kemarin itu emang bikin kaget banget sih, karena sesama pengguna KRL juga loh. Tapi nggak sampai bikin aku trauma atau takut naik KRL lagi,”
ujarnya.
Ia juga menegaskan, bahwa gerbong wanita masih menjadi pilihan utama karena faktor kenyamanan dan keamanan, terutama untuk menghindari risiko pelecehan di transportasi publik.
Kalau soal pilih gerbong, aku tetap bakal pilih gerbong perempuan karena dari segi kenyamanan dan keamanan dari risiko pelecehan juga. Dan ini jadi alasan utama aku sih untuk bakal tetap naik di gerbong perempuan,”
lanjutnya.
Namun demikian, insiden di Stasiun Bekasi Timur tetap memberikan dampak berupa meningkatnya kewaspadaan di kalangan penumpang. Ia mengaku kini menjadi lebih berhati-hati saat menggunakan transportasi umum.
Cuma ya setelah kejadian ini, aku jadi lebih aware aja sih, lebih merhatiin keselamatan. Berharap kejadian ini nggak terulang lagi dan pastinya tetap berharap ada evaluasi dan peningkatan ke depannya perihal keamanan,”
tambahnya.
Cari Gerbong yang Lebih Aman
Hal serupa juga disampaikan oleh penumpang lain Ardellia (20). Ia mengaku sempat merasa takut setelah kejadian tersebut, bahkan keluarganya menyarankan untuk memilih posisi gerbong yang lebih aman.
Kalau dari kejadian yang kemarin, sebenarnya aku jadi sedikit takut dan keluarga aku juga nyuruh aku di tengah aja gerbongnya. Tapi karena aku udah kebiasaan di gerbong wanita, apalagi kalau lagi padat-padatnya, aku lebih ngerasa aman aja kalau di situ. Jadi aku nggak yang parno banget,”
ungkapnya.
Ardellia juga menceritakan bahwa dirinya tetap menggunakan KRL seperti biasa, bahkan di waktu padat.
Tadi pagi aku juga naik KRL, tetap di gerbong wanita paling depan. Di situ juga masih padat dan sempit-sempitan pas pagi tadi,”
tambahnya.
Meski merasa aman, insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur kemarin membuatnya lebih mempertimbangkan waktu dan posisi saat berada di dalam rangkaian kereta.
Iya kak, tapi kalau misalnya sudah agak menjelang sore atau malam aku lebih pilih di tengah aja,”
ujarnya.
Selain itu, tingkat kewaspadaan juga meningkat. Ia mengaku kini sudah memiliki antisipasi jika terjadi situasi darurat di dalam kereta.
Pasti jadi lebih aware. Aku juga sudah kepikiran kalau ada kejadian aneh di kereta, misalnya tiba-tiba berhenti atau gimana, aku sudah punya rencana bakal lari ke gerbong tengah,”
jelasnya.
Selain itu, berdasarkan pantauan pagi tadi, gerbong wanita yang biasanya dipenuhi penumpang KRL relasi Nambo–Jakarta Kota terpantau lebih sepi.
Hal serupa juga terjadi pada KRL relasi Bekasi–Kampung Bandan yang tampak lengang, imbas penutupan Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak, baik operator transportasi maupun penumpang, untuk terus meningkatkan kesadaran terhadap keamanan.
Evaluasi sistem keamanan serta pengawasan di area stasiun dan dalam gerbong dinilai perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang kembali.




