Pernahkah kamu merasa menjadi “opsi cadangan” dalam sebuah hubungan asmara? Atau merasa tidak diprioritaskan oleh pasanganmu? Perasaan ini membuat bingung sekaligus sedih, karena hubungan yang seharusnya membuat tenang justru berubah jadi penuh tanda tanya.
Menurut laman marriage.com, kondisi seperti ini ternyata cukup banyak yang mengalami. Tapi mungkinkah hubungan seperti ini tetap dipertahankan?
Apa itu Second Choice?
Sederhananya, kamu bukan prioritas utama pasanganmu. Bisa jadi, ia masih belum selesai dengan masa lalunya, masih buka peluang buat orang lain, bahkan kamu hanya dianggap sebagai pelariannya saja.
Hubungan yang sehat itu bisa dilihat dari kedua pihak yang saling memilih dan berkomitmen. Dalam hubungan second choice hanya satu pihak saja yang berjuang, sementara yang satunya lagi hanya menjalani setengah hati.
Jika kamu merasa harus “menunggu giliran” untuk diprioritaskan, itu bisa jadi tanda buat kamu berpikir ulang tentang tentang kelanjutan hubungan mu.
Tanda-tanda Kamu Dijadikan Second Choice
Ada beberapa redflag yang biasa muncul dari pasangan second choice seperti:
- Aktif di medsos, tapi lama balas chat kamu.
- Ajak kencan mendadak dan jarang ada komitmen di awal.
- Sering bawa-bawa mantan dalam hubungan.
- Kamu tidak pernah dikenalkan dengan orang terdekatnya.
- Selalu “sibuk” disaat kamu butuh, dan selalu ada saat dia kesepian.
- Sering menghindari pembicaraan tentang masa depan.
- Kamu lebih effort sementara pasanganmu cenderung lebih pasif.
Hubungan seperti ini sering kali terasa “jalan”, tapi sebenarnya timpang dan menguras emosi. Kalau kamu mulai merasa harus menunggu, menebak-nebak, dan berjuang sendirian, bisa jadi kamu memang bukan prioritasnya.
Dampak Second Choice
Menjadi second choice bukan hanya soal ego, karena dia punya dampak serius ke diri sendiri, seperti:
- Muncul rasa insecure dan rendah diri.
- Jadi gampang cemburu dan overthinking.
- Cemas berlebih dan takut ditinggalkan.
- Capek secara emosional.
- Menurunkan standar diri.
Yang paling bahaya adalah, kamu bisa kehilangan rasa percaya diri dan bisa merusak kepercayaan kepada pasangan di hubungan berikutnya.
Karena itu, tidak ada alasan untuk bertahan di posisi ini. Kamu berhak mendapatkan cinta yang utuh, bukan setengah-setengah. Usaha yang kamu berikan seharusnya dihargai, dan kamu pantas menjadi prioritas, bukan sekadar alternatif. Bertahan dalam hubungan seperti ini justru bisa menutup kesempatanmu untuk bertemu seseorang yang benar-benar memilihmu.
Cara Keluar dari Situasi Ini
Memang tidak mudah untuk keluar dari situasi seperti ini. Apalagi saat hubungan ternyata sudah berjalan lama, tapi ada beberapa langkah yang bisa membuatmu pelan-pelan meninggalkan hubungan seperti ini, antara lain
- Jujur dengan diri sendiri
Jujur pada diri sendiri bahwa hubungan tersebut tidak sehat, dan jangan terus-terusan menutupinya. Setelah itu, cobalah berkomunikasi dengan pasanganmu secara terbuka mengenai perasaanmu dan lihat apakah ada perubahan nyata.
- Pasang Batasan
Penting juga untuk menetapkan batasan agar kamu tidak terus memberi tanpa menerima. Berhenti memberi effort berlebihan jika pasanganmu tidak memberi timbal balik.
- Fokus pada Diri Sendiri
Alihkan fokus pada diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang membuatmu berkembang, serta cari dukungan dari orang terdekat.
- Berani Pergi
Jika tidak ada perubahan, berani pergi adalah keputusan yang tepat, pergi bukan berarti tanda kalah, melainkan bentuk menghargai diri sendiri.
- Belajar dari Pengalaman
Dari pengalaman ini, kamu juga bisa belajar untuk lebih peka terhadap tanda-tanda serupa di masa depan.
Pada akhirnya, menjadi second choice memang menyakitkan, tetapi juga bisa menjadi pelajaran berharga tentang self-worth. Ingat, kamu layak dipilih sepenuhnya tanpa harus bersaing atau menunggu giliran.
Jangan bertahan hanya karena takut sendiri atau sudah terlalu sayang. Karena, hubungan yang sehat tidak akan membuatmu merasa kurang. Mulai sekarang, tempatkan dirimu sebagai prioritas, karena orang yang tepat tidak akan pernah membuatmu merasa menjadi nomor dua.

