Kadang toxic friendship itu susah disadari. Soalnya bentuknya nggak selalu drama besar, ribut, atau tiba-tiba putus pertemanan. Malah seringnya, toxic friendship itu datang dari circle yang kelihatannya seru-seru aja.
Masih nongkrong bareng. Masih ketawa tiap ketemu. Masih aktif di grup chat. Tapi anehnya, setiap habis ketemu mereka tuh, entah kenapa kita jadi capek sendiri alias mental kita jadi drop.
Dan itu yang bikin banyak orang baru sadar kalau ternyata yang bikin mental lelah itu bukan cuma hubungan percintaan, tapi juga pertemanan.
Semua Hal Dijadiin Bahan Bercanda
Sala4h satu tanda toxic friendship yang paling sering dianggap normal adalah bercandaan yang keterlaluan.
Awalnya mungkin lucu sih. Tapi lama-lama semua hal tentang diri kamu jadi bahan roasting. Penampilan dibahas, insecurity dijadiin lelucon, pencapaian diremehin, bahkan masalah pribadi pun kadang dilempar jadi candaan depan banyak orang.
Yang bikin bingung, kalau kamu sakit hati malah dibilang:
“Baper banget sih.”
“Kan cuma bercanda.”
“Circle kita kan emang begini.”
Padahal bercanda tetap ada batasnya. Kalau tiap ketemu, kamu malah jadi takut ngomong atau takut di-judge, mungkin itu bukan sekadar humor tongkrongan lagi.
Circle yang Diam-Diam Kompetitif
Toxic friendship juga sering muncul dalam bentuk persaingan yang nggak sehat.
Teman yang harus selalu lebih unggul. Teman yang susah genuinely senang lihat kamu berhasil. Atau circle yang tiap ngobrol isinya malah jadi ajang compare hidup masing-masing.
Siapa yang paling sukses.
Siapa yang paling banyak dikenal.
Siapa yang paling glow up.
Siapa yang paling “menang” hidupnya.
Akhirnya pertemanan terasa kayak kompetisi diam-diam. Dan capeknya, kamu jadi merasa harus terus validasi diri supaya dianggap worth di circle itu.
Kamu Selalu Ada Buat Mereka, Tapi Nggak Sebaliknya
Ada juga toxic friendship yang bentuknya lebih halus. Mereka datang pas butuh doang.
Saat mereka lagi sedih, kamu dicari. Saat mereka butuh bantuan, kamu dipanggil. Tapi giliran kamu lagi capek atau butuh didengar, responsnya tiba-tiba hilang.
Hubungan pertemanan jadi terasa satu arah. Kamu terus ngertiin orang lain, tapi jarang ada yang benar-benar ngertiin kamu balik.
Circle yang Bikin Kamu Nggak Jadi Diri Sendiri
Tanda lain yang sering nggak disadari adalah ketika kamu mulai berubah demi diterima circle.
Harus ikut gaya mereka.
Harus ikut cara bercandanya.
Harus ikut nongkrong walaupun capek.
Harus pura-pura santai padahal sebenarnya nggak nyaman.
Kalau setiap masuk circle tertentu kamu malah jadi overthinking dan nggak bisa jadi diri sendiri, itu patut dipertanyakan.
Karena pertemanan yang sehat seharusnya bikin nyaman, bukan bikin kamu terus merasa harus “cukup” supaya diterima.
Nggak Semua Pertemanan Harus Dipertahanin
Banyak orang bertahan di circle toxic karena takut sendirian. Takut dibilang berubah. Takut kehilangan teman. Padahal makin dewasa, makin sadar juga kalau nggak semua hubungan harus dipaksa bertahan.
Kadang menjaga jarak bukan berarti jahat loh ya. Kadang itu justru cara buat menjaga diri sendiri untuk tetap waras. Karena punya sedikit teman tapi bikin tenang jauh lebih sehat daripada punya circle besar tapi bikin mental capek terus.
