Belakangan ini, istilah quiet quitting makin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan anak muda dan pekerja Gen Z. Banyak yang langsung menganggap fenomena ini sebagai bentuk malas kerja, gak ambisius, atau “generasi sekarang mentalnya lembek.” Padahal, kenyataannya gak benar adanya.
Karena sebenarnya, quiet quitting bukan soal resign yang diam-diam atau berhenti kerja total. Orang yang melakukan quiet quitting itu masih tetap masuk kantor, tetap ngerjain tugas, tetap profesional. Bedanya, mereka mulai berhenti memberikan tenaga ekstra di luar jobdesk yang memang jadi tanggung jawabnya.
Sesimpel gak lembur tanpa dibayar, gak selalu available di luar jam kerja, atau gak terus-terusan mengorbankan hidup pribadi demi pekerjaan. Dan buat banyak Gen Z, ini bukan hanya soal malas kerja.
Kenapa Quiet Quitting Banyak Dilakuin Gen Z?
Salah satu alasan kenapa quiet quitting makin relate buat Gen Z adalah karena banyak anak muda mulai sadar kalau hustle culture gak selalu sehat.
Dulu, kerja sampai burnout sering dianggap keren. Makin sibuk, makin dipuji. Makin gak punya waktu istirahat, makin dianggap ambisius. Tapi sekarang, banyak orang mulai mempertanyakan, “Kalau kerja terus sampai bikin capek, sebenarnya yang untung siapa?”
Apalagi banyak pekerja muda yang merasa effort mereka sering gak sebanding sama apresiasi yang didapat.
Kerja ekstra dianggap normal. Lembur jadi kebiasaan. Harus selalu fast response bahkan di luar jam kerja. Tapi ketika capek, burnout, atau mental mulai drop, yang disuruh “lebih kuat” justru karyawannya sendiri. Dari situ, quiet quitting mulai muncul sebagai cara buat menjaga batas.
Quiet Quitting Itu Bukan Berarti Gak Peduli
Yang sering disalahpahami, quiet quitting bukan berarti kerjanya asal-asalan.
Kebanyakan orang yang melakukan quiet quitting justru tetap menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Mereka cuma berhenti melakukan hal-hal ekstra yang sebenarnya gak wajib tapi lama-lama dianggap kewajiban.
Misalnya, selalu stay paling malam di kantor, balas chat kerja tengah malam, terus available saat weekend, atau mengambil pekerjaan tambahan tanpa kejelasan apresiasi.
Karena makin ke sini, banyak Gen Z mulai sadar kalau identitas hidup mereka gak harus cuma soal kerjaan. Mereka tetap mau punya waktu buat diri sendiri, keluarga, hubungan, hobi, atau sekadar istirahat tanpa rasa bersalah.
Fenomena yang Bikin Banyak Orang Relate
Fenomena ini jadi ramai karena ternyata banyak orang diam-diam pernah ada di fase yang sama.
Capek kerja all out tapi merasa gak berkembang. Takut bilang “enggak” karena takut dianggap gak loyal. Atau merasa harus terus produktif supaya dianggap layak.
Makanya ketika istilah quiet quitting muncul, banyak orang langsung relate. Bukan karena mereka malas kerja, tapi karena mereka mulai mempertanyakan pola kerja yang bisa bikin hidup terasa habis cuma untuk bertahan.
Dan menariknya, ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Quiet quitting juga jadi pembahasan besar di banyak negara karena generasi muda mulai punya cara pandang berbeda tentang work-life balance.
Jadi, Quiet Quitting Salah atau Wajar?
Jawabannya mungkin tergantung sudut pandang masing-masing, yah. Ada yang melihat quiet quitting sebagai tanda menurunnya etos kerja. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai bentuk self-protection di tengah budaya kerja yang makin melelahkan.
Karena pada akhirnya, banyak Gen Z gak menolak kerja keras. Mereka cuma mulai sadar kalau hidup gak bisa terus dijalani dalam mode capek setiap hari. Dan mungkin itu kenapa quiet quitting terasa begitu dekat buat banyak anak muda sekarang.
