Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 15 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Prabowo Subianto
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Sefruit / Bukan Malas Kerja, Ini Alasan Banyak Gen Z yang Quite Quitting
Sefruit

Bukan Malas Kerja, Ini Alasan Banyak Gen Z yang Quite Quitting

Salsabillah IrwandaSyifa Fauziah
Last updated: Mei 7, 2026 9:12 pm
By
Salsabillah Irwanda
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
3 bulan lalu
Share
SHARE

Belakangan ini, istilah quiet quitting makin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan anak muda dan pekerja Gen Z. Banyak yang langsung menganggap fenomena ini sebagai bentuk malas kerja, gak ambisius, atau “generasi sekarang mentalnya lembek.” Padahal, kenyataannya gak benar adanya.

Karena sebenarnya, quiet quitting bukan soal resign yang diam-diam atau berhenti kerja total. Orang yang melakukan quiet quitting itu masih tetap masuk kantor, tetap ngerjain tugas, tetap profesional. Bedanya, mereka mulai berhenti memberikan tenaga ekstra di luar jobdesk yang memang jadi tanggung jawabnya.

Sesimpel gak lembur tanpa dibayar, gak selalu available di luar jam kerja, atau gak terus-terusan mengorbankan hidup pribadi demi pekerjaan. Dan buat banyak Gen Z, ini bukan hanya soal malas kerja.

Kenapa Quiet Quitting Banyak Dilakuin Gen Z?

Salah satu alasan kenapa quiet quitting makin relate buat Gen Z adalah karena banyak anak muda mulai sadar kalau hustle culture gak selalu sehat.

Dulu, kerja sampai burnout sering dianggap keren. Makin sibuk, makin dipuji. Makin gak punya waktu istirahat, makin dianggap ambisius. Tapi sekarang, banyak orang mulai mempertanyakan, “Kalau kerja terus sampai bikin capek, sebenarnya yang untung siapa?”

Apalagi banyak pekerja muda yang merasa effort mereka sering gak sebanding sama apresiasi yang didapat.

Kerja ekstra dianggap normal. Lembur jadi kebiasaan. Harus selalu fast response bahkan di luar jam kerja. Tapi ketika capek, burnout, atau mental mulai drop, yang disuruh “lebih kuat” justru karyawannya sendiri. Dari situ, quiet quitting mulai muncul sebagai cara buat menjaga batas.

Quiet Quitting Itu Bukan Berarti Gak Peduli

Yang sering disalahpahami, quiet quitting bukan berarti kerjanya asal-asalan.

Kebanyakan orang yang melakukan quiet quitting justru tetap menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Mereka cuma berhenti melakukan hal-hal ekstra yang sebenarnya gak wajib tapi lama-lama dianggap kewajiban.

Misalnya, selalu stay paling malam di kantor, balas chat kerja tengah malam, terus available saat weekend, atau mengambil pekerjaan tambahan tanpa kejelasan apresiasi.

Karena makin ke sini, banyak Gen Z mulai sadar kalau identitas hidup mereka gak harus cuma soal kerjaan. Mereka tetap mau punya waktu buat diri sendiri, keluarga, hubungan, hobi, atau sekadar istirahat tanpa rasa bersalah.

Fenomena yang Bikin Banyak Orang Relate

Fenomena ini jadi ramai karena ternyata banyak orang diam-diam pernah ada di fase yang sama.

Capek kerja all out tapi merasa gak berkembang. Takut bilang “enggak” karena takut dianggap gak loyal. Atau merasa harus terus produktif supaya dianggap layak.

Makanya ketika istilah quiet quitting muncul, banyak orang langsung relate. Bukan karena mereka malas kerja, tapi karena mereka mulai mempertanyakan pola kerja yang bisa bikin hidup terasa habis cuma untuk bertahan.

Dan menariknya, ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Quiet quitting juga jadi pembahasan besar di banyak negara karena generasi muda mulai punya cara pandang berbeda tentang work-life balance.

Jadi, Quiet Quitting Salah atau Wajar?

Jawabannya mungkin tergantung sudut pandang masing-masing, yah. Ada yang melihat quiet quitting sebagai tanda menurunnya etos kerja. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai bentuk self-protection di tengah budaya kerja yang makin melelahkan.

Karena pada akhirnya, banyak Gen Z gak menolak kerja keras. Mereka cuma mulai sadar kalau hidup gak bisa terus dijalani dalam mode capek setiap hari. Dan mungkin itu kenapa quiet quitting terasa begitu dekat buat banyak anak muda sekarang.

Tag:gen zKerja
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Trending di OWRITE
Gempa Bumi Magnitudo 7,7 Guncang Nagekeo NTT, Berpotensi Tsunami
By Dusep Malik
Gempa Bumi 7,7 Magnitudo Guncang Nagekeo, NTT. (Sumber: BMKG)
1
Gempa Susulan Masih Terjadi di Nagekeo NTT, BMKG Catat Magnitudo 3-4 Masih Dirasakan
By Dusep Malik
Gambar ilustrasi getaran gempa
2
Anggaran MBG 2027 Turun Jadi Rp240 Triliun, Sasar 70 Juta Penerima
By Anisa Aulia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
3
Menkes Tegaskan Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik 2027, Pemerintah Siap Tutup Defisit
By Syifa Fauziah
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin
4
Bareskrim Polri Gerebek Delapan Lokasi Jaringan Judol Kamboja, Pulsa Dijadikan Alat Transaksi
By Rahmat Baihaqi
Bareskrim Polri mengungkap kasus dugan Judol jaringan Kamboja
5

BERITA LAINNYA

Sefruit

Kenapa Perempuan Auto Ngaca Setiap Lihat Kaca? Ternyata Ada Alasannya

Kebiasaan otomatis berkaca saat melihat cermin, seperti di lift atau jendela, bukanlah…

Salsabillah IrwandaIvan OWRITE
By
Salsabillah Irwanda
Ivan Syahruna Lubis
8 jam lalu
Sefruit

Kenapa Panjat Pinang Identik dengan Kemerdekaan Indonesia?

Siapa sangka lomba panjat pinang yang seru tiap 17 Agustusan ternyata punya…

Salsabillah IrwandaIvan OWRITE
By
Salsabillah Irwanda
Ivan Syahruna Lubis
8 jam lalu
Sefruit

Agnez Mo Comeback ke Dunia Akting, Reacher Season 4 Jadi Debut Hollywood-nya

Agnez Mo resmi comeback akting setelah 15 tahun absen lewat peran menantang…

Salsabillah IrwandaIvan OWRITE
By
Salsabillah Irwanda
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Sefruit

Awas Terjebak! Lima Makanan Ini Diam-Diam Mengandung Gula Lebih Tinggi dari yang Kamu Kira

Yogurt rasa buah hingga granola sering dianggap makanan sehat, tapi ternyata diam-diam…

Salsabillah IrwandaIvan OWRITE
By
Salsabillah Irwanda
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up