Bekasi jadi sorotan setelah TPST Bantargebang tercatat sebagai salah satu tempat penghasil gas metana terbesar di dunia dari sektor tempat pembuangan sampah.
Berdasarkan laporan kolaborasi NASA, Carbon Mapper, dan Institut Emmett UCLA yang dirilis pada April 2026, TPST Bantargebang menghasilkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam.
Angka tersebut menempatkan Bantargebang di posisi kedua, di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina yang mengeluarkan emisi gas metana sebanyak 7,6 ton setiap jamnya.
Laporan berjudul “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang diterbitkan UCLA menganalisis sekitar 2.994 titik pelepasan gas metana dari 707 lokasi pengelolaan sampah di berbagai negara sepanjang tahun 2025.
Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan alat pemantau yang dimiliki NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan satelit Tanager-1 dari Planet Labs, untuk menangkap gumpalan metana yang keluar dari tempat sampah.
Data tersebut kemudian diolah oleh Carbon Mapper untuk menghitung besaran emisi per jam, lalu dipetakan dengan citra satelit, koordinat GPS, dan data pemerintah untuk mengidentifikasi lokasi TPA.
Metana adalah gas rumah kaca yang tidak berwarna, tidak berbau, dan mudah terbakar. Gas ini adalah penyumbang pemanasan global kedua setelah karbon dioksida.
Dalam 20 tahun ke depan, dampak pemanasan akibat metana diperkirakan bisa mencapai 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Menurut laporan UCLA, lima ton gas metana yang dilepaskan per jamnya, setara dengan emisi satu juta mobil SUV dalam setahun atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas 500 megawatt.
TPST Bantargebang selama ini digunakan sebagai tempat penampungan sampah utama dari Jakarta dan daerah sekitarnya.
Banyaknya sampah organik dan kurangnya sistem penangkapan gas metana yang efektif disebut-sebut sebagai penyebab utama meningkatnya emisi gas di lokasi tersebut.




