Pernah gak sih kamu ngerasa reaksi emosional kamu kadang terlalu besar untuk hal-hal yang kecil? Misalnya, gampang merasa gak cukup atau bahkan selalu haus validasi dari orang lain. Padahal logikanya kamu tahu semuanya gak seburuk itu. Tapi ntah kenapa, perasaannya selalu terasa berat.
Nah, dalam dunia psikologi dan self awareness, banyak orang mengaitkan hal ini dengan inner child yang belum sembuh.
Istilah ini belakangan makin sering dibahas Gen Z karena ternyata banyak kebiasaan dan pola hubungan saat dewasa, yang sebenarnya punya hubungan sama pengalaman emosional waktu kecil.
Sebenarnya Apa Itu Inner Child?
Secara sederhana, inner child adalah sisi emosional dalam diri yang terbentuk dari pengalaman kecil.
Semua pengalaman dari cara kita dibesarkan, bagaimana kita diperlakukan, rasa aman yang kita dapat, sampai luka emosional yang pernah kita alami bisa memengaruhi cara kita melihat diri sendiri dan menjalani hubungan saat kita dewasa.
Makanya kadang ada orang yang terlihat baik-baik aja di luar, tapi di dalam masih membawa rasa takut, sedih, atau tidak aman sejak lama.
Takut Ditolak atau Ditinggal
Salah satu tanda paling umum dari inner child yang belum sembuh adalah rasa takut ditolak yang terlalu besar. Contohnya, panik saat orang lain berubah sedikit aja atau langsung merasa dirinya salah saat ada konflik kecil. Akhirnya sedikit perubahan aja bisa terasa seperti ancaman besar secara emosional.
Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain
Kalau kamu susah ngomong “enggak”, takut bikin orang lain kecewa, atau sering mengorbankan diri sendiri demi menjaga suatu hubungan, bisa jadi itu juga datang dari luka emosional yang lama.
Makanya banyak dari mereka yang menjadi people pleaser atau bahkan merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri.
Haus Validasi dan Sulit Merasa Cukup
Ada juga orang yang terus mencari validasi karena dari dulu jarang benar-benar dihargai. Akibatnya saat dewasa mereka akan gampang membandingkan diri, butuh pengakuan terus, atau merasa dirinya kurang walau sebenarnya sudah berusaha banyak.
Dan yang bikin sedih nih, kadang mereka tetap merasa kosong bahkan setelah mendapatkan pujian. Karena sebenarnya yang dicari bukan cuma validasi, tapi rasa aman yang belum sempat didapatkan.
Sulit Mengatur Emosi
Inner chid yang belum sembuh juga sering terlihat dari cara seseorang menghadapi emosi. Ada yang gampang marah, terlalu sensitif, tiba-tiba shutdown, atau bahkan memendam semuanya sampai meledak sendiri.
Bukan karena mereka lebay atau gimana, tapi karena dari dulu mereka mungkin gak pernah benar-benar belajar merasa aman saat mengekspresikan emosi. Akhirnya semua dipendam dan diluapkan dengan cara yang mereka tahu.
Healing Inner Child Bukan Berarti Menyalahkan Masa Lalu
Ini penting banget buat dipahami. Membahas inner child bukan berarti menyalahkan orang tua atau hidup sepenuhnya. Tapi lebih memahami ‘oh pantes aku sering kayak gini..’
Karena seseorang mulai sadar asal pola emosinya, mereka biasanya jadi lebih mudah memahami diri mereka sendiri juga. Dan dari situ, proses healing bisa mulai pelan-pelan.
Jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia buat konten yang relate banget sama kehidupan kamu sehari-hari yaaa
