Pernah nggak sih kamu tiba-tiba kepikiran, kok rasanya selama ini cuma kamu yang selalu berusaha menjaga hubungan?
Kamu yang duluan chat.
Kamu yang ngajak ketemu.
Kamu yang ngecek kabar.
Dan kamu juga yang selalu berusaha menjaga suasana tetap baik walau sebenarnya capek sendiri.
Awalnya mungkin nggak terasa masalah. Kamu mikir:
“Yaudah gue duluan aja.”
“Gue emang lebih aktif.”
“Mungkin mereka sibuk.”
Tapi lama-lama, saat semuanya selalu dimulai dari kamu, muncul rasa capek yang aneh. Bukan capek fisik, tapi capek karena merasa hubungan itu berjalan cuma karena satu orang terus yang berusaha.
Dan yang paling bikin kepikiran biasanya satu pertanyaan ini:
“Kalau gue diem aja… mereka bakal nyariin gue nggak ya?”
Jujur aja, banyak orang pernah ada di posisi itu. Karena kadang yang bikin sedih bukan soal jarang chat atau jarang ketemu, tapi perasaan kalau hubungan itu terasa hidup hanya saat kita yang mengusahakan duluan.
Apalagi kalau chat mulai dibalas seperlunya, ajakan ketemu sering ditunda, atau mereka baru muncul saat butuh sesuatu. Lama-lama orang jadi bertanya-tanya sendiri:
“Apa gue terlalu peduli ya?”
Padahal sebenarnya, jadi orang yang perhatian bukan kesalahan.
Masalahnya, banyak orang yang terbiasa reach out duluan ternyata juga punya rasa takut yang nggak selalu mereka sadari. Takut dilupakan. Takut hubungan berubah. Takut kehilangan orang. Atau takut dianggap nggak penting lagi.
Makanya mereka terus menjaga koneksi, bahkan saat effort yang diberikan nggak benar-benar dibalas dengan energi yang sama.
Ada juga orang yang dari dulu memang terbiasa jadi “penjaga hubungan.” Di circle pertemanan, dia yang aktif ngajak ngobrol. Di hubungan, dia yang lebih dulu minta maaf. Di keluarga, dia yang menjaga semuanya tetap baik-baik aja.
Sampai akhirnya mereka lupa rasanya diperjuangkan balik. Dan tanpa sadar, muncul pikiran:
“Kalau gue berhenti berusaha, semuanya bakal hilang.”
Padahal hubungan yang sehat seharusnya nggak terasa seperti tugas satu orang. Nggak harus selalu 50:50 setiap saat, tapi setidaknya ada rasa kalau kedua belah pihak sama-sama ingin menjaga hubungan itu tetap hidup.
Karena capek juga kalau terus jadi satu-satunya orang yang memastikan semuanya baik-baik aja. Kadang mungkin kamu perlu berhenti sebentar. Bukan buat menghilang atau bermain tarik-ulur, tapi buat melihat siapa yang benar-benar datang saat kamu nggak lagi selalu hadir duluan.
Dari situ biasanya kita mulai sadar:
Mana hubungan yang memang saling menjaga, dan mana yang selama ini bertahan hanya karena kita terus berusaha sendiri.
Dan kalau kamu relate sama semua ini, bukan berarti kamu terlalu sensitif atau terlalu needy.
Mungkin kamu cuma capek jadi orang yang selalu takut kehilangan, sampai lupa kalau hubungan seharusnya dijaga bareng-bareng.
Jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia buat konten relate lainnya yang relate banget sama kehidupan sehari-hari kamuu yaa
