Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini nilai tukar akan kembali menguat, di tengah ambruknya rupiah hingga menyentuh titik terdalam di level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah diperkirakan akan ada di level Rp16.500 per dolar AS pada akhir 2026.
Perry mengakui, saat ini rupiah ada dalam kondisi undervalue alias lebih rendah dibandingkan nilai yang seharusnya. Ia meyakini secara keseluruhan tahun rupiah akan ada di kisaran Rp16.200-Rp16.800 per dolar AS.
Nilai tukar sekarang itu undervalue, rujukannya undervalue karena memang kami masih meyakini 2026 ini rerata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp16.500, kisarannya Rp16.200 sampai Rp16.800,”
ujar Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI Senin, 18 Mei 2026.
Mulai Juli Rupiah Menguat

Perry mengatakan, melemahnya rupiah saat ini lantaran tingginya permintaan karena musim haji, pembayaran dividen, dan pembayaran utang. Namun, pada Juli dan Agustus rupiah diperkirakan kembali menguat terhadap dolar AS.
Insya Allah dari pengalaman 2008 global seperti itu umumnya kalau Juli, Agustus dan semuanya itu akan menguat. Sehingga kami meyakini sekarang undervalue, saya jelaskan undervalue diukur karena sesuai makronya reratanya Rp16.500, batasnya Rp16.800 kami bisa bawa ke sana,”
jelasnya.
Ada Impact Perang Global
Perry menjelaskan, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh faktor global akibat perang di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kenaikan inflasi di AS, harga minyak melambung hingga US$120 per barel, hingga keengganan the Fed memangkas suku bunga acuan di tahun ini.
Inflasi Amerika yang tinggi, Fed Fund Rate kayaknya tahun ini nggak jadi turun. Akhirnya US Treasury yang dua tahun naik,”
imbuhnya.


