Pernah nggak sih kamu ngerasa capek banget karena sebenarnya kamu sudah berusaha, tapi tetap merasa tertinggal?
Kamu sudah kerja.
Sudah belajar.
Sudah mencoba konsisten.
Sudah memaksa diri buat tetap jalan walau sering capek.
Tapi entah kenapa, setiap buka media sosial rasanya selalu ada orang yang hidupnya lebih cepat dari kamu.
Ada yang sudah dapat kerja impian.
Ada yang kariernya naik cepat.
Ada yang bisnisnya jalan.
Ada yang kelihatannya hidupnya “beres”.
Dan di tengah semua itu, kamu malah duduk sambil mikir:
“kok gue masih di sini-sini aja ya?”
Perasaan seperti ini sebenarnya makin sering dirasakan banyak orang, terutama di era comparison culture dan FOMO sekarang.
Karena kita hidup di zaman di mana pencapaian orang lain muncul terus setiap hari, bahkan sebelum kita sempat menghargai progress diri sendiri.
Dulu mungkin kita cuma membandingkan hidup dengan lingkungan sekitar. Sekarang? Kita membandingkan hidup dengan ratusan orang sekaligus dalam satu layar.
Dan yang bikin capek lagi, algoritma media sosial hampir selalu menunjukkan kayak orang yang lebih sukses, lebih produktif, lebih glowing, lebih kaya, atau lebih “jadi seseorang”.
Akhirnya otak kita mulai percaya kalau semua orang sedang melaju lebih cepat. Padahal yang sering nggak kelihatan adalah proses berantakan di belakang layar mereka.
Kita lihat hasil akhirnya, tapi nggak lihat rasa takutnya.
Nggak lihat gagal berkali-kalinya.
Nggak lihat malam-malam bingung mereka.
Dan karena itu, banyak orang mulai merasa usahanya sendiri jadi terlihat kecil. Padahal kenyataannya, bertahan aja sekarang sudah termasuk usaha besar.
Apalagi di usia 20-an, banyak orang hidup sambil membawa tekanan yang nggak sedikit:
harus sukses cepat, harus punya arah hidup, harus produktif, harus menghasilkan sesuatu, dan entah sejak kapan, kita merasa harus selalu “perform”.
Kalau nggak berkembang sedikit aja, langsung panik. Kalau istirahat terlalu lama, langsung merasa bersalah.
Akhirnya hidup terasa seperti perlombaan yang garis finish-nya terus bergeser.
Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang merasa ketinggalan walau sebenarnya sudah berusaha keras. Karena mereka terlalu fokus melihat seberapa jauh orang lain berjalan, sampai lupa melihat dirinya sendiri sudah sejauh apa.
Padahal perkembangan hidup nggak selalu kelihatan dalam bentuk gaji yang besar, jabatan yang keren, atau hidup yang estetik.
Kadang progress itu bentuknya kayak kamu masih bertahan. Kamu masih mencoba lagi walau kemarin gagal. Kamu masih bangun dan menjalani hari walau kepala lagi penuh.
Dan itu tetap berarti.
Yang sering bikin kita merasa tertinggal sebenarnya bukan hidup kita, tapi kebiasaan membandingkan timeline sendiri dengan timeline orang lain.
Padahal setiap orang punya start, kesempatan, dan proses yang berbeda.
Ada yang berhasil cepat. Ada yang jalannya lebih lambat. Ada yang baru menemukan arah hidup setelah berkali-kali salah jalan.
Dan semua itu normal.
Karena hidup bukan lomba siapa paling cepat jadi “sukses”.
Kadang hidup cuma tentang siapa yang tetap berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri di tengah semua tekanan.
Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten self-awareness, quarter life crisis, dan topik relate lainnya.
