Beberapa tahun terakhir, istilah that girl era sering banget muncul di sosial media. Identik dengan bangun pagi, minum green juice, journaling, olahraga, skincare lengkap, sampai hidup yang kelihatannya super rapi dan produktif.
Tapi jujur aja, nggak semua orang bisa (atau harus) hidup kayak gitu setiap hari.
Dan kabar baiknya, jadi “that girl” nggak harus selalu kelihatan estetik atau sibuk terus. Karena yang sering nggak dibahas adalah banyak orang sebenarnya terjebak di fake productivity.
Fake Productivity Itu Apa Sih?
Fake productivity itu kondisi saat kamu merasa sibuk, tapi sebenarnya nggak benar-benar bergerak ke mana-mana.
Contohnya kayak ngerjain banyak hal tapi nggak selesai, sibuk scroll “inspirational content” tapi nggak mulai apa-apa, bikin to-do list panjang tapi cuma jadi pajangan, atau ngerasa capek padahal nggak ada output yang jelas.
Kelihatannya produktif, tapi sebenarnya cuma penuh aktivitas tanpa arah.
Dan tanpa sadar, ini sering banget terjadi saat orang mencoba masuk ke that girl era versi internet.
That Girl Era Nggak Harus Sempurna
Yang sering bikin orang salah paham, that girl era itu dianggap harus bangun jam 5 pagi, olahraga tiap hari, hidup selalu rapi, selalu glowing dan produktif.
Padahal realitanya, hidup nggak selalu stabil kayak konten aesthetic.
Ada hari kamu semangat banget.
Ada hari kamu cuma pengen diam.
Dan dua-duanya tetap valid.
That girl era yang realistis itu bukan soal jadi sempurna, tapi soal jadi lebih sadar sama diri sendiri.
Versi Realistis That Girl Era Itu Kayak Gini
Bukan bangun pagi karena “harus”, tapi karena kamu memang butuh waktu buat diri sendiri.
Bukan olahraga tiap hari demi estetika, tapi karena kamu pengen tubuh kamu lebih sehat.
Bukan journaling panjang setiap malam, tapi cukup nulis apa yang kamu rasain biar kepala nggak penuh sendiri.
Bukan hidup yang selalu produktif, tapi hidup yang punya ritme.
Kadang maju, kadang pelan, kadang istirahat.
Kenapa Banyak Orang Terjebak Fake Productivity?
Karena kita sering ngerasa harus “terlihat berkembang”.
Di era sosial media, kita gampang banget ngebandingin siapa yang lebih produktif, siapa yang lebih sukses, siapa yang hidupnya lebih “rapi”.
Akhirnya kita jadi sibuk ngejar versi ideal hidup orang lain, bukan versi sehat buat diri sendiri.
Padahal growth itu nggak selalu kelihatan dari luar.
That Girl Era yang Sehat Itu Tentang Konsistensi, Bukan Perfeksionisme
Kalau dipikir-pikir, yang bikin perubahan nyata bukan rutinitas yang ekstrem, tapi yang bisa kamu jalanin pelan-pelan tapi konsisten.
Nggak apa-apa kalau kamu nggak bangun jam 5 pagi, kamu nggak punya morning routine sempurna, kamu masih suka rebahan lama.
Selama kamu tetap jalan, sekecil apapun itu, kamu tetap berkembang.
Jadi, Gimana Cara Masuk That Girl Era yang Realistis?
Mulainya bukan dari mengubah semua hidup kamu sekaligus.
Tapi dari hal kecil yang bisa kamu jaga seperti tidur lebih cukup, minum air yang cukup, rapihin hidup sedikit demi sedikit, dan berhenti maksa diri buat “selalu produktif”.
Karena that girl era yang paling sehat itu bukan yang paling estetik, tapi yang paling bisa kamu jalani tanpa bikin kamu burnout.
Jadi kalau kamu ngerasa selama ini “that girl era” itu terlalu berat atau terlalu jauh dari hidup kamu, mungkin yang kamu butuhkan bukan standar baru…
tapi versi yang lebih realistis. Karena jadi “that girl” seharusnya bikin kamu lebih hidup, bukan lebih tertekan.
Jangan lupa follow @sefruitmedia buat konten self-improvement, Gen Z lifestyle, dan hal-hal relate lainnya.
