Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 20 Mei 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • iran
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Petani Sawit Spill Bahaya BUMN Monopoli Ekspor: Tolak Mundur ke Era Soeharto
Ekonomi Bisnis

Petani Sawit Spill Bahaya BUMN Monopoli Ekspor: Tolak Mundur ke Era Soeharto

iren natania longdongowrite-adi-briantika
Last updated: Mei 20, 2026 4:23 pm
Iren Natania
Adi Briantika
Share
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit yang dibeli dari petani di tempat jual beli tanda buah segar (RAM) di Desa Purnama Dumai, Riau, Rabu (13/5/2026). Dinas Perkebunan Riau menetapkan harga tandan buah segar (TBS) sawit di daerah tersebut untuk periode 13-19 Mei 2026 sebesar Rp3.900,46 per kilogram atau naik sekitar Rp25,53 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp3.874,93 per kilogram di mana kenaikan harga dipicu penguatan harga minyak kelapa sawit mentah yang naik menjadi 1.049,58 dolar AS per metrik ton.
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit yang dibeli dari petani di tempat jual beli tanda buah segar (RAM) di Desa Purnama Dumai, Riau, Rabu (13/5/2026). Dinas Perkebunan Riau menetapkan harga tandan buah segar (TBS) sawit di daerah tersebut untuk periode 13-19 Mei 2026 sebesar Rp3.900,46 per kilogram atau naik sekitar Rp25,53 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp3.874,93 per kilogram di mana kenaikan harga dipicu penguatan harga minyak kelapa sawit mentah yang naik menjadi 1.049,58 dolar AS per metrik ton. (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/agr)
SHARE

Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mengkritik Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menempatkan sawit sebagai komoditas yang hanya dapat diekspor melalui perusahaan pelat merah.

Kritik itu merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam pembahasan rancangan ekonomi makro di DPR-RI, Rabu, 20 Mei 2026.

POPSI menilai rancangan kebijakan tersebut berpotensi mengubah struktur perdagangan sawit nasional dan membuka ruang besar bagi monopoli perdagangan, praktik rente ekonomi, elite capture, serta penguasaan rantai ekspor oleh kelompok yang dekat dengan kekuasaan.

Baca juga:
Bahlil Pastikan Migas Tak Tersentuh Kebijakan Ekspor Satu Pintu Prabowo Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa sektor…
Aturan Ekspor Sawit via BUMN Jadi 'Red Flag' Investor, POPSI:… Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto merespons wacana pembentukan…
Pidato Prabowo di DPR Tak Ubah Arah Pasar, IHSG Merosot… Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026…
  • Bahlil Pastikan Migas Tak Tersentuh Kebijakan Ekspor Satu Pintu Prabowo
  • Aturan Ekspor Sawit via BUMN Jadi 'Red Flag' Investor, POPSI: Potensi Buyer…
  • Pidato Prabowo di DPR Tak Ubah Arah Pasar, IHSG Merosot dan Rupiah…

Selain itu, pembahasan kebijakan strategis juga tidak dilakukan secara transparan dengan tidak melibatkan petani sawit, koperasi petani, organisasi petani, maupun pelaku usaha yang selama ini menjadi tulang punggung industri sawit nasional.

“Kami mempertanyakan mengapa kebijakan sebesar ini dibahas tanpa melibatkan petani sawit. Sawit bukan hanya soal ekspor, tetapi menyangkut hidup jutaan keluarga petani dan ekonomi daerah di seluruh Indonesia,”

kata Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto dalam keterangannya.

Dia pun mengingatkan pemerintah agar tidak mengulang kesalahan sejarah tata niaga komoditas di masa lalu, terutama pengalaman Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) pada era Presiden Soeharto. 

Pada masa itu, tata niaga cengkih dipusatkan dan dikendalikan oleh kelompok yang dekat dengan kekuasaan. Akibatnya petani kehilangan kebebasan menjual hasil panen, harga jatuh di tingkat petani, praktik rente berkembang, dan industri cengkeh nasional mengalami kerusakan panjang.

“Kami pernah punya pengalaman pahit ketika monopoli perdagangan komoditas dijalankan atas nama kepentingan nasional, tetapi ujungnya justru menghancurkan petani dan memperkaya segelintir elite. Negara tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama terhadap sawit,”

ujar Darto.

Pola Masa Silam

POPSI juga menyoroti sejumlah kemiripan serius antara rancangan tata kelola ekspor sawit saat ini dengan pola tata niaga cengkeh era Orde Baru.

Pertama, potensi monopsoni atau monopoli jalur ekspor. Hal ini terjadi ketika negara menunjuk satu atau beberapa gatekeeper ekspor melalui BUMN, yang membuat pengusaha swasta kehilangan akses langsung terhadap pembeli global. 

“Dalam jangka panjang, struktur pasar seperti ini berpotensi menghilangkan kompetisi yang sehat dalam perdagangan sawit nasional,”

ucap Darto.

Kedua, pemerintah akan memiliki kontrol sangat besar terhadap harga dan volume perdagangan, termasuk pengaturan volume ekspor, waktu ekspor, harga referensi, hingga berbagai bentuk pengendalian pasar terselubung. Situasi seperti ini, menurut Darto, sangat rawan disalahgunakan dan berpotensi menciptakan ketidakpastian bagi pasar.

Ketiga, kebijakan tersebut menggunakan argumentasi “kepentingan nasional”, mulai dari stabilitas ekonomi, ketahanan nasional, hilirisasi, hingga pengamanan pasokan domestik. 

“POPSI menilai argumentasi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membangun monopoli baru dalam perdagangan komoditas strategis,”

tkata Darto.

Keempat, risiko rente ekonomi sangat besar. Pertanyaan mendasar yang muncul: siapa yang akan mendapatkan akses kuota, siapa yang menjadi aggregator perdagangan, siapa yang mendapatkan fasilitas ekspor, dan siapa yang memiliki kedekatan dengan BUMN ekspor? Dalam struktur pasar yang tertutup, praktik rente dan elite capture sangat sulit dihindari.

Kelima, yakni petani sawit berpotensi menjadi pihak yang paling dirugikan. 

“Ketika jumlah pembeli menyempit dan akses pasar dikendalikan satu pintu, maka daya tawar petani otomatis turun. Dalam situasi seperti itu, petani akan semakin menjadi price taker dan harga tandan buah segar (TBS) berisiko ditekan,”

tegas Darto.

POPSI juga menegaskan bahwa kondisi sawit saat ini jauh berbeda dibanding tata niaga cengkih pada masa lalu. Sawit merupakan industri global yang sangat kompleks dan terintegrasi dengan pasar internasional.

Industri sawit saat ini pun melibatkan perdagangan lintas negara, produk turunan yang sangat luas, mekanisme futures market, trading house internasional, jaringan refinery global, hingga sistem compliance dan traceability yang ketat. Oleh sebab itu, sentralisasi perdagangan sawit jauh lebih rumit dan berisiko dibanding komoditas lain di masa lalu.

Tag:BUMNCengkiheksporkomoditasorde baruPOPSIprabowoRPPsawitSoeharto
Share This Article
Email Salin Tautan Print
iren natania longdong
ByIren Natania
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Peristiwa Nasional dan Politik.
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Prabowo Sebut Belanda Kaya Raya Gegara Kuasai Indonesia Ratusan Tahun, Benarkah?
By Hadi Febriansyah
Presiden Prabowo Subianto di Sidang Paripurna DPR, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: YT BPMI)
1
Prabowo Wajibkan Ekspor Sawit hingga Batu Bara Lewat BUMN, Biar Apa?
By Anisa Aulia
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di perkebunan kelapa sawit Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (26/3/2026). Badan Pusat Statistik mencatat ekspor crude palm oil (CPO) pada Januari 2026 mengalami peningkatan 59,63 persen menjadi 2.514 ribu ton atau senilai 2,29 miliar dollar AS dibandingkan pada januari 2025 sebesar 1,485 ribu ton senilai 1,75 miliar dollar AS.
2
Kenapa Sih Prabowo Minta Purbaya Copot Dirjen Bea Cukai?
By Anisa Aulia
Presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri) tiba di lokasi Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). DPR menggelar rapat paripurna dengan agenda antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo.
3
Arsenal Akhirnya Juara Liga Inggris, Penantian 22 Tahun Resmi Berakhir
By Hadi Febriansyah
Skuad Arsenal merayakan gelar juara Liga Inggris 2025/2026
4
Prabowo Patok Pertumbuhan Ekonomi 2027 Tembus 6,5 Persen dan Rupiah Rp16.800
By Hadi Febriansyah
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). DPR menggelar rapat paripurna dengan agenda antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo.
5

BERITA LAINNYA

Seorang pekerja memasang sambungan pipa untuk proses pemindahan material crude palm oil (CPO) ke dalam kapal tanker di Dermaga B Curah Cair Pelabuhan PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Branch Dumai, Riau, Rabu (13/5/2026).
Ekonomi Bisnis

Aturan Ekspor Sawit via BUMN Jadi ‘Red Flag’ Investor, POPSI: Potensi Buyer Global Pindah Haluan

Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto merespons wacana pembentukan…

iren natania longdongowrite-adi-briantika
By
Iren Natania
Adi Briantika
1 jam lalu
Warga mengamati grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar di Jakarta. (Sumber: Antara Foto/M Risyal Hidayat/kye)
Ekonomi Bisnis

Pidato Prabowo di DPR Tak Ubah Arah Pasar, IHSG Merosot dan Rupiah Sedikit Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
2 jam lalu
Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas di 50th IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, di Ice BSD, Tangerang, Rabu, 20 Mei 2026. (Sumber: Owrite/Iren Natania)
Ekonomi Bisnis

Gejolak Dunia Bikin Industri Migas Kian Berat, RI Cari Jalan Bertahan dengan Melakukan Ini

Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) menghadapi tantangan yang semakin kompleks…

iren natania longdongdusep-malik
By
Iren Natania
Dusep
2 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto di Sidang Paripurna DPR, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: YT BPMI)
Ekonomi Bisnis

Prabowo Minta Dirjen Bea Cukai Diganti, Purbaya: Kalau Perintah Saya Akan Kerjakan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons, arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up