Banyak orang mengira susah menerima pujian itu cuma karena rendah hati. Padahal kenyataannya, nggak selalu sesederhana itu.
Ada orang yang kalau dipuji langsung refleks bilang “Ah enggak kok’ atau malah langsung ganti topik karena nggak nyaman. Dan anehnya, mereka jauh lebih gampang percaya kritikan dibanding pujian. Kalau dipuji satu kali, rasanya awkward. Tapi kalau dikritik satu kali, kepikiran seminggu.
Kalau relate, bisa jadi masalahnya bukan sekadar malu, tapi ada self-worth issue yang belum selesai.
Self-worth sendiri adalah bagaimana seseorang memandang nilai dirinya. Bukan soal pencapaian, bukan soal validasi orang lain, tapi apakah seseorang merasa dirinya memang layak dihargai.
Dikutip dari buku The Gifts of Imperfection karya Brené Brown (2010), banyak orang tumbuh dengan perasaan bahwa mereka harus membuktikan diri dulu untuk merasa layak dicintai atau dihargai. Akibatnya, ketika menerima pujian, otak mereka justru merasa asing atau tidak percaya.
Makanya banyak orang jadi refleks menolak pujian. Karena jauh di dalam dirinya, mereka belum benar-benar percaya bahwa dirinya memang cukup baik. Ini sering terjadi pada orang yang dari kecil terbiasa dikritik terus, dibanding-bandingkan, jarang diapresiasi, atau hanya dipuji saat berprestasi.
Akhirnya mereka tumbuh dengan pola pikir “aku berharga kalau aku berhasil.” Jadi ketika ada pujian datang tanpa “syarat,” rasanya malah aneh.
Dilansir dari jurnal Self and Identity karya Joanne V. Wood, W. Q. Elaine Perunovic, dan John W. Lee (2009), orang dengan self-esteem rendah justru cenderung merasa tidak nyaman menerima afirmasi positif karena pujian tersebut bertentangan dengan cara mereka memandang diri sendiri.
Makanya ada orang yang kalau dipuji malah defensif, bercanda buat mengalihkan, atau merasa orang lain cuma nggak enakan. Karena isi kepalanya sudah terlalu terbiasa mengkritik diri sendiri. Dan tanpa sadar, banyak orang jadi lebih mudah mengingat semua kekurangan dibanding hal baik tentang dirinya.
Dikutip dari buku Self-Compassion karya Kristin Neff (2011), self-worth yang sehat bukan berarti merasa diri paling hebat, tapi mampu menerima diri sendiri tanpa terus-menerus menghukum diri atas kekurangan yang dimiliki.
Masalahnya, banyak orang tumbuh dengan mindset bahwa menghargai diri sendiri itu egois. Akhirnya mereka lebih nyaman merendahkan diri sendiri dibanding menerima apresiasi.
Padahal menerima pujian dengan tulus bukan berarti sombong. Kadang itu cuma tanda bahwa seseorang mulai percaya “mungkin aku memang layak dihargai.”
Dilansir dari artikel ilmiah di National Library of Medicine (PubMed) tentang penelitian Positive Self-Statements: Power for Some, Peril for Others oleh Joanne V. Wood dkk. (2009), afirmasi positif justru bisa terasa tidak nyaman bagi orang dengan self-esteem rendah karena bertolak belakang dengan keyakinan negatif yang sudah lama mereka percaya tentang diri sendiri.
Dan mungkin itu kenapa sebagian orang selalu merasa awkward saat dipuji. Bukan karena mereka nggak butuh apresiasi. Tapi karena mereka belum terbiasa melihat dirinya dengan cara yang baik.
Padahal kadang, satu hal yang paling sulit dipercaya memang kalau diri kita ternyata cukup berharga untuk dihargai.
Jangan lupa follow instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya yaaa.
