Pernah tiba-tiba merasa sebuah momen terasa sangat familiar, seolah pernah terjadi sebelumnya? Padahal, kita yakin baru pertama kali mengalami situasi tersebut. Fenomena aneh inilah yang dikenal dengan istilah dejavu.
Dejavu sering membuat seseorang merasa bingung karena muncul secara tiba-tiba dan hanya berlangsung beberapa detik. Misalnya saat sedang berbicara dengan seseorang, berada di tempat tertentu, atau melakukan aktivitas sehari-hari, lalu muncul perasaan seperti “kayaknya ini pernah terjadi”.
Meski terdengar mistis bagi sebagian orang, dejavu sebenarnya merupakan fenomena yang cukup umum dan sering dikaitkan dengan cara kerja otak dalam memproses memori. Yuk, pahami lebih jauh tentang dejavu agar tidak langsung berpikir negatif atau mengaitkannya dengan hal-hal mistis.
Apa Itu Dejavu?
Melansir dari laman Halodoc, stilah “déjà vu” sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah terlihat”. Kata dejavu ini sudah resmi masuk dalam KBBI yang artinya perasaan bahwa apa yang dialami sekarang pernah terjadi di masa lampau.
Dalam dunia psikologi, dejavu juga dikenal sebagai paramnesia, yaitu reaksi psikologis yang membuat seseorang merasa sudah pernah berada di suatu tempat, mengenal seseorang, atau mengalami situasi tertentu sebelumnya, padahal hal tersebut belum pernah terjadi.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sekitar 70 persen orang pernah mengalami dejavu, terutama pada usia muda antara 15 hingga 25 tahun. Fenomena dejavu umumnya hanya berlangsung singkat, sekitar 10 hingga 30 detik. Sensasi ini muncul mendadak dan berkaitan dengan cara kerja ingatan manusia.
Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Dejavu?
Dalam sebuah studi psikologi di Southern Methodist University tentang “The Déjà vu Experience” yang ditulis oleh Alan Brown, menjelaskan beberapa teori penyebab dejavu. Berikut beberapa penjelasan ilmiahnya:
1. Otak Salah Memproses Informasi
Teori ini menjelaskan bahwa kadang otak menerima informasi baru hampir bersamaan dengan memori lama. Karena prosesnya bertumpuk, otak jadi merasa situasi tersebut pernah terjadi sebelumnya.
2. Gangguan Singkat pada Memori
Teori neurologis ini menjelaskan bahwa dejavu juga bisa muncul karena gangguan singkat pada bagian otak yang mengatur ingatan. Hal ini membuat otak menciptakan rasa familiar meski sebenarnya situasi tersebut baru pertama kali terjadi.
3. Mirip dengan Pengalaman Lama
Sebutannya teori mnesik atau memosi, yang mana tanpa disadari, tempat, suasana, atau kejadian yang sedang dialami mungkin mirip dengan pengalaman di masa lalu. Kemiripan kecil itulah yang membuat otak merasa “pernah mengalami”.
4. Fokus yang Terpecah
Saat perhatian seseorang sempat teralihkan lalu kembali fokus, otak bisa menganggap situasi tersebut sudah pernah diproses sebelumnya. Akibatnya, muncul sensasi seolah familiar atau dejavu.
Hubungan Dejavu dengan Kesehatan Otak
Secara medis, dejavu berkaitan dengan bagian otak bernama lobus temporal, yaitu area yang berfungsi memproses ingatan dan sensorik. Ketika bagian otak ini bekerja terlalu aktif atau mengalami gangguan kecil pada sinyal saraf, seseorang bisa merasakan sensasi familiar palsu atau dejavu.
Pada beberapa kasus, dejavu bisa berkaitan dengan gangguan saraf tertentu. Tapi secara umum, dejavu sangat normal terjadi pada banyak orang. Karena itu, penting untuk bisa membedakan dejavu biasa dengan dejavu yang muncul akibat kondisi medis tertentu (patologis).
Cara membedakannya yaitu, dejavu normal terjadi secara acak dan jarang, sementara dejavu patologis terjadi berkali-kali dan berkaitan dengan kondisi medis yang mendasari. Memahami perbedaannya penting untuk mengantisipasi masalah kesehatan di masa depan.
Tanda Dejavu Mulai Berbahaya
Umumnya, dejavu adalah hal yang normal dan tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus yang jarang, dejavu berkaitan dengan masalah tertentu. Adapun ciri yang harus segera diperiksakan ke dokter adalah jika gelanya sudah meliputi:
- Kejang
- Hilang kesadaran
- Kebingungan
- Perubahan perilaku
Kondisi tersebut bisa mengarah pada gangguan neurologis seperti epilepsi lobus temporal, yaitu gangguan saraf yang menyebabkan kejang berulang. Namun, perlu diingat bahwa kasus seperti ini jarang terjadi. Jadi, mengalami déjà vu sesekali masih tergolong normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
Cara Mengatasi Dejavu
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengelolanya.
- Mencatat pengalaman dejavu. Catat kapan kejadian itu muncul, situasi yang sedang terjadi, serta perasaan yang kamu rasakan. Cara ini bisa membantu mengenali pola atau pemicu yang mungkin berhubungan dengan kondisi tersebut.
- Kelola stres sebaik mungkin. Kelelahan dan pikiran berat dapat memengaruhi kerja otak, sehingga berpotensi membuat pengalaman dejavu terasa lebih sering. Aktivitas seperti meditasi, yoga, atau sekadar beristirahat di tempat yang tenang bisa membantu menenangkan pikiran.
- Tidur yang cukup. Kurang tidur dapat mengganggu fungsi otak dan membuat pengalaman aneh seperti dejavu lebih mudah muncul. Usahakan tidur secara teratur selama 7–8 jam setiap malam.
- Fokus pada kondisi sekitar. Sadari apa yang sedang kamu lihat, dengar, dan rasakan pada saat itu. Hal ini membantu otak membedakan antara rasa familiar dan kenyataan yang sedang berlangsung.
- Jaga kesehatan otak. Misalnya dengan konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta hindari kebiasaan seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan agar fungsi otak tetap optimal.
Namun jika terasa sangat sering, intens, atau disertai gejala lain yang mengganggu, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Dejavu memang bisa terasa aneh dan membingungkan, tetapi pada dasarnya fenomena ini merupakan bagian normal dari cara kerja otak dalam memproses memori. Sebagian besar kasus tidak berbahaya dan hanya terjadi sesekali.
Dengan memahami penyebab serta cara mengelolanya, kita bisa lebih tenang saat mengalaminya dan tidak langsung mengaitkannya dengan hal-hal yang keliru.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak dan pola hidup yang seimbang adalah kunci agar fungsi kognitif tetap optimal dan terhindar dari gangguan yang tidak diinginkan.
