Pernah nggak sih ada orang yang tulus menawarkan bantuan, tapi respons pertama yang muncul di kepala kamu justru kamu menolak dan merasa bisa melakukannya sendiri? Padahal sebenarnya kamu lagi capek, lagi kewalahan, bahkan mungkin memang butuh bantuan.
Tapi entah kenapa, menerima bantuan dari orang lain terasa nggak nyaman. Kalau kamu sering seperti ini, mungkin masalahnya bukan karena kamu terlalu mandiri. Bisa jadi kamu sedang mengalami sesuatu yang sering disebut sebagai hyper-independence.
Hyper-independence adalah kondisi ketika seseorang merasa harus mengurus semuanya sendiri dan kesulitan bergantung pada orang lain, bahkan ketika bantuan tersedia. Sekilas memang terdengar keren, mandiri, kuat, nggak merepotkan siapa-siapa. Tapi kenyataannya, terlalu mandiri juga bisa melelahkan.
Menurut teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby dalam buku Attachment and Loss (1969), pengalaman hubungan di masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang membangun kedekatan dan kepercayaan dengan orang lain saat dewasa. Sebagian orang belajar bahwa bergantung pada orang lain tidak selalu aman, sehingga mereka lebih memilih mengandalkan diri sendiri dalam segala situasi.
Itulah kenapa ada orang yang lebih rela stres sendirian daripada meminta bantuan. Bukan karena mereka nggak punya teman. Tapi karena meminta bantuan terasa lebih menakutkan.
Ada yang takut dianggap lemah. Ada yang takut ditolak. Ada juga yang takut merasa berutang budi. Akhirnya mereka terbiasa memikul semuanya sendirian. Padahal manusia memang bukan makhluk yang dirancang untuk hidup sendirian.
Dikutip dari buku Social: Why Our Brains Are Wired to Connect karya Matthew D. Lieberman (2013), otak manusia secara biologis dirancang untuk membangun koneksi sosial. Hubungan yang suportif dan rasa keterhubungan dengan orang lain berperan penting terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.
Ironisnya, orang yang terlihat paling mandiri dari luar kadang justru yang paling kesepian. Karena mereka terbiasa menjadi tempat bersandar bagi orang lain, tetapi tidak pernah memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bersandar.
Mereka selalu bilang “Aku aman kok.”, “Aku bisa sendiri.”, atau “Nggak usah repot-repot.” Padahal dalam hati mereka juga ingin didengar, ingin dibantu, ingin dipahami.
Penelitian berjudul The Costs of Self-Reliance oleh Brooke C. Feeney dan Nancy L. Collins (2015) menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam membantu individu menghadapi stres, meningkatkan kesejahteraan psikologis, dan membangun ketahanan emosional. Sebaliknya, terlalu mengandalkan diri sendiri dalam semua situasi dapat membuat seseorang kehilangan manfaat dari hubungan yang suportif.
Karena itu, kemampuan menerima bantuan sebenarnya bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda bahwa kamu cukup aman untuk percaya pada orang lain.
Mandiri memang penting. Tapi hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling kuat menanggung semuanya sendirian. Hubungan yang sehat adalah ketika kamu tahu kapan harus berdiri sendiri dan kapan boleh meminta bantuan.
Kalau selama ini kamu selalu merasa harus kuat setiap saat, mungkin ada baiknya mulai mengingat satu hal yaitu kamu nggak harus mengerjakan semuanya sendirian dan menerima bantuan bukan berarti kamu gagal menjadi pribadi yang mandiri.
Kadang itu justru bagian dari menjadi manusia.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten-konten menarik lainnya. Jangan lupa share artikel ini ke teman yang selalu bilang “aku bisa sendiri kok” padahal sebenarnya lagi capek banget.
