Kalau dipikir-pikir, harusnya kesepian itu datang saat kita sendirian. Tapi kenyataannya nggak selalu begitu.
Ada orang yang hampir setiap hari ngobrol sama teman. Aktif di grup chat. Punya circle. Punya pasangan. Bahkan sering nongkrong bareng banyak orang. Tapi tetap aja ada perasaan kosong yang susah dijelaskan. Tetap merasa sendirian. Tetap merasa nggak ada yang benar-benar mengerti.
Kalau kamu pernah merasakan hal ini, kamu nggak sendirian. Dan ternyata, perasaan tersebut cukup umum terjadi.
Menurut penelitian Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection oleh John T. Cacioppo dan William Patrick (2008), kesepian bukan sekadar soal jumlah orang yang ada di sekitar kita. Kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan yang kita miliki dan apakah kebutuhan emosional kita benar-benar terpenuhi.
Itulah kenapa seseorang bisa memiliki banyak teman, tetapi tetap merasa kesepian. Karena yang dibutuhkan manusia bukan hanya interaksi, tapi juga koneksi.
Ada perbedaan besar antara punya banyak orang untuk diajak ngobrol dan punya seseorang yang benar-benar membuatmu merasa dipahami. Kadang kita bisa tertawa bersama banyak orang, tapi tetap merasa tidak bisa menunjukkan diri yang sebenarnya.
Takut dihakimi, takut dianggap lebay, takut merepotkan. Akhirnya hubungan yang ada hanya berhenti di permukaan. Ramai, tapi tidak dekat.
Dilansir dari buku Braving the Wilderness karya Brené Brown (2017), manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa diterima dan terhubung secara autentik dengan orang lain. Ketika seseorang merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri dalam hubungan sosial, rasa kesepian dapat tetap muncul meskipun secara fisik ia tidak sendirian.
Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Kita lebih terhubung dibanding generasi sebelumnya. Bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik. Bisa melihat aktivitas teman setiap hari. Tapi ironisnya, banyak orang justru merasa semakin kesepian.
Dikutip dari penelitian Perceived Social Isolation and Cognition oleh Louise C. Hawkley dan John T. Cacioppo (2010), kesepian lebih dipengaruhi oleh persepsi kualitas hubungan sosial dibanding jumlah hubungan sosial yang dimiliki seseorang.
Artinya, memiliki 100 teman belum tentu membuat seseorang merasa terhubung. Sementara memiliki satu hubungan yang aman dan suportif bisa membuat seseorang merasa jauh lebih diterima.
Kadang masalahnya bukan karena tidak ada orang di sekitar. Tapi karena tidak ada ruang untuk benar-benar jujur. Tidak semua orang merasa nyaman menunjukkan sisi rapuhnya. Banyak yang terbiasa menjadi pendengar. Menjadi yang kuat. Menjadi yang lucu. Menjadi tempat curhat orang lain.
Tapi tidak pernah benar-benar menceritakan apa yang mereka rasakan. Lama-lama muncul perasaan “Kalau aku menghilang sebentar, ada yang benar-benar sadar nggak ya?”
Menurut buku Together: The Healing Power of Human Connection in a Sometimes Lonely World karya Vivek H. Murthy (2020), salah satu penyebab utama kesepian modern bukan kurangnya interaksi sosial, melainkan kurangnya rasa memiliki, hubungan yang bermakna, dan koneksi yang autentik.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya ingin ditemani. Manusia ingin dipahami. Maka kalau akhir-akhir ini kamu merasa kesepian meskipun punya banyak teman, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Mungkin yang kamu rindukan bukan lebih banyak orang. Tapi hubungan yang membuatmu bisa hadir sebagai diri sendiri tanpa harus berpura-pura baik-baik saja.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten-konten menarik lainnya. Dan kalau artikel ini relate, share ke teman yang selalu kelihatan baik-baik aja, padahal mungkin lagi merasa sendirian diam-diam.
