Kabar duka atas berpulangnya Slamet Suradio atau Mbah Slamet, masinis KA 225, pada 3 Juni 2026 kembali memunculkan ingatan publik pada salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia, Tragedi Bintaro 1987.
Sejarah kemudian kembali menoleh pada Tragedi Bintaro 1987 yang kelam, sebuah peristiwa yang hingga kini masih menjadi bagian dari refleksi panjang keselamatan transportasi kereta api di Indonesia, termasuk perdebatan tentang keadilan bagi para pihak yang terlibat dalam sistem tersebut.
Di tengah kabar duka ini, ingatan publik tidak hanya berhenti pada masa lalu. Peristiwa-peristiwa kecelakaan kereta yang terjadi di berbagai waktu, termasuk yang terbaru di Bekasi.
Ingatan ini memunculkan pertanyaan yang sama, sejauh mana sistem keselamatan perkeretaapian telah berubah, dan apakah pola persoalan lama benar-benar telah ditinggalkan?
Tragedi Bintaro 1987 yang Mengubah Sejarah

Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa frontal tersebut melibatkan KA 225 jurusan Rangkasbitung – Jakarta dan KA 220 Patas Merak–Tanah Abang di jalur tunggal kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.
Karena tabrakan saling beradu, peristiwa ini kerap disebut ‘adu banteng’ dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Tercatat korban meninggal dunia mencapai antara 139 hingga 156 orang, sementara sekitar 250 hingga 300 orang lainnya mengalami luka-luka.
Hampir empat dekade berlalu, Tragedi Bintaro masih dikenang sebagai pengingat akan pentingnya keselamatan dalam transportasi publik.
Mbah Slamet di Balik Tragedi
Dalam video dokumenter dari YouTube Kisah Tanah Jawa yang berjudul Mengais Sisa Tangis – Tragedi Bintaro, Mbah Slamet membantah berbagai isu yang beredar mengenai dirinya pascakecelakaan.
Ia menegaskan bahwa kabar yang menyebut dirinya melompat dari kereta sebelum tabrakan terjadi tidak benar.
“Yang membuat isu beredar di internet itu siapa? Ada yang bilang katanya saya loncat. Itu bohong sekali, itu orang fitnah. Jelas fitnah,”
tegasnya.
Kesaksian Mbah Slamet dalam Tragedi
Dalam kesaksiannya, Mbah Slamet mengaku menjalankan kereta berdasarkan surat perintah perjalanan atau petunjuk operasi yang diberikan kepadanya.
“lantas bukti PTP segala macamnya itu tidak ada artinya,”
tegasnya dalam wawancara saat menjelaskan vonis penjaranya keluar dan bukti surat PTP nya tidak dijadikan pertimbangan lebih lanjut.
Secara sederhana, PTP merupakan dokumen atau surat perintah yang diberikan kepada masinis sebagai pedoman perjalanan kereta, itu yang menjadi penegasan Mbah Slamet bahwa perjalanan kereta apinya pada hari kecelakaan termasuk prosedur normal.
Di Balik Jeruji, Ia Tetap Membantah
Setelah Tragedi Bintaro 1987, Mbah Slamet harus menghadapi proses hukum dan divonis lima tahun penjara. Ia menjalani masa tahanan di Lapas Cipinang dan bebas sekitar tahun 1992. Bahkan, ia tidak mendapatkan sepeserpun uang pensiuan dari pengabdiannya selama bekerja.
Ia kehilangan pekerjaannya sebagai masinis, serta tidak memperoleh hak pensiun setelah masa pengabdiannya berakhir.
Meski telah divonis bersalah dan menjalani hukuman, Mbah Slamet mengaku tidak pernah merasa dirinya melakukan tindakan yang disengaja hingga menyebabkan kecelakaan. Dalam berbagai kesempatan, ia tetap mempertahankan keyakinannya.
“Karena, sekalipun saya dipenjara kan bukan karena saya berbuat jahat, kan ini musibah, kecelakaan,”
ujar Mbah Slamet.
Bagi Mbah Slamet, hukuman penjara hanyalah satu bagian dari konsekuensi yang harus ditanggung setelah Tragedi Bintaro. Hingga akhir hayatnya, beliau masih tetap teguh mengatakan bahwa dia sudah menjalankan prosedur dengan benar.
Kecelakaan Bekasi dan Pertanyaan yang Kembali Muncul
Puluhan tahun setelah Tragedi Bintaro, Indonesia masih menghadapi berbagai insiden perkeretaapian. Salah satu yang kembali menjadi perhatian publik adalah kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.
Dalam peristiwa tersebut, Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL Commuter Line jurusan Cikarang yang sedang berhenti di jalur stasiun.
Meski terjadi dalam konteks, teknologi, dan kondisi operasional yang berbeda dengan Tragedi Bintaro 1987, kecelakaan ini kembali memunculkan pertanyaan yang sama, apakah seluruh pelajaran dari tragedi masa lalu telah benar-benar diterapkan secara optimal?
Respon Netizen atas Kabar Duka Mbah Slamet
“Selamat jalan, Mbah. Terima kasih atas segala bentuk pegabdian selama ini”,
kata @Omnduut
“Tuntut semua diakhirat yaa pak biar Allah yang balas semua kecurangan yang ada disana turut berdukacita sedalam-dalamnya semoga alm tenang dan ditempatkan disyurgaNya aamiin yaAllah”
@macutejekey
Belajar dari Masa Lalu
Kisah Mbah Slamet menjadi pengingat bahwa sebuah kecelakaan besar tidak hanya meninggalkan korban di lokasi kejadian, tetapi juga dapat mengubah hidup banyak orang yang terlibat di dalamnya.
Di balik laporan investigasi, proses hukum, dan perdebatan mengenai penyebab kecelakaan, terdapat manusia-manusia yang harus menjalani konsekuensinya selama bertahun-tahun.
Karena itu, mengenang Tragedi Bintaro bukan sekadar membuka kembali luka lama. Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga agar setiap pemangku kepentingan terus memperkuat budaya keselamatan, memperbaiki sistem pengawasan, dan memastikan setiap perjalanan kereta berlangsung seaman mungkin.

