Semua orang suka dipuji. Tapi pernah nggak kamu sadar kalau ada jenis pujian tertentu yang rasanya jauh lebih berkesan dibanding yang lain? Misalnya, ada orang yang biasa aja saat dibilang cantik, tapi langsung senang seharian ketika ada yang bilang dia pintar.
Ada juga yang sering dipuji prestasinya, tapi justru paling bahagia saat ada yang bilang, “Aku nyaman cerita sama kamu.”
Kalau dipikir-pikir, kenapa ya?
Ternyata, jenis pujian yang paling kita cari sering kali bukan hal yang acak. Justru itu bisa memberi petunjuk tentang kebutuhan emosional yang paling penting bagi kita.
Menurut teori Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, manusia memiliki kebutuhan psikologis dasar untuk merasa kompeten, terhubung dengan orang lain, dan memiliki kendali atas hidupnya. Ketika salah satu kebutuhan ini terasa kurang terpenuhi, kita cenderung lebih sensitif terhadap bentuk pengakuan yang berkaitan dengan kebutuhan tersebut.
Misalnya, kalau kamu sangat senang saat dipuji karena kemampuan atau prestasi, bisa jadi kamu sedang mencari rasa kompeten dan ingin merasa bahwa usaha yang selama ini kamu lakukan memang berarti.
Sebaliknya, kalau pujian yang paling berkesan buatmu adalah saat seseorang bilang bahwa mereka merasa nyaman, aman, atau disayangi saat bersama kamu, mungkin yang paling kamu hargai adalah koneksi emosional.
Dilansir dari buku The Gifts of Imperfection karya Brené Brown (2010), salah satu kebutuhan terdalam manusia adalah rasa memiliki (belonging) dan diterima apa adanya. Banyak perilaku pencarian validasi sebenarnya berakar dari kebutuhan untuk merasa terhubung dan dihargai oleh orang lain.
Ada juga orang yang sangat haus pujian soal penampilan. Setiap komentar tentang wajah, tubuh, outfit, atau penampilannya bisa sangat memengaruhi mood sepanjang hari.
Ini bukan berarti mereka dangkal. Kadang justru karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang terlalu sering menilai penampilan, sehingga nilai diri mereka perlahan ikut dikaitkan dengan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain.
Penelitian Contingencies of Self-Worth oleh Jennifer Crocker dan Connie T. Wolfe (2001) menjelaskan bahwa banyak orang membangun harga dirinya berdasarkan area tertentu, seperti prestasi akademik, penerimaan sosial, penampilan fisik, atau persetujuan dari orang lain. Akibatnya, pujian dan kritik pada area tersebut terasa jauh lebih kuat dibanding aspek lainnya.
Makanya, kalau kamu merasa sangat membutuhkan pengakuan dalam satu hal tertentu, mungkin pertanyaannya bukan “Kenapa aku haus validasi?” tapi “Kenapa bagian ini terasa sangat penting buatku?”
Kadang jawabannya ada di pengalaman masa lalu. Mungkin dulu kamu jarang dipuji. Mungkin usahamu sering tidak dianggap. Mungkin kamu tumbuh dengan standar yang sangat tinggi. Atau mungkin ada kebutuhan emosional yang belum pernah benar-benar terpenuhi.
Dikutip dari buku Mindset: The New Psychology of Success karya Carol S. Dweck (2006), cara seseorang memandang nilai dirinya sering kali dibentuk oleh pengalaman, umpan balik sosial, dan lingkungan tempat ia berkembang. Hal-hal tersebut memengaruhi apa yang akhirnya dianggap penting sebagai sumber pengakuan diri.
Bukan berarti mencari pujian itu salah. Kita semua membutuhkan apresiasi. Masalahnya muncul ketika seluruh nilai diri kita bergantung pada satu jenis pengakuan saja. Karena saat pujian itu tidak datang, kita mulai meragukan diri sendiri.
Padahal nilai dirimu tidak ditentukan oleh seberapa sering orang lain mengakuinya. Kalau akhir-akhir ini ada satu jenis pujian yang terasa sangat penting buatmu, coba perhatikan lebih dalam.
Mungkin itu bukan cuma soal pujian. Mungkin itu petunjuk tentang kebutuhan emosional yang selama ini sedang kamu cari.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten-konten menarik lainnya. Dan kalau artikel ini relate, coba share ke teman yang selalu bilang “aku nggak butuh validasi kok” tapi diam-diam masih kepikiran satu komentar positif selama seminggu penuh.
