Pernah nggak sih kamu merasa capek banget di akhir hari, tapi pas dipikir-pikir lagi ternyata nggak ada banyak hal penting yang benar-benar selesai?
Seharian balas chat client, trus pindah dari satu meeting ke meeting lain. Buka email. Ngerjain tugas kecil. Sibuk terus tanpa jeda. Tapi anehnya, tujuan utama yang ingin dicapai malah nggak bergerak banyak.
Kalau pernah mengalami hal ini, mungkin kamu sedang mengalami busy day, bukan productive day. Masalahnya, banyak orang masih menganggap keduanya adalah hal yang sama. Padahal berbeda.
Busy day adalah ketika kamu menghabiskan banyak energi untuk melakukan berbagai aktivitas. Sementara productive day adalah ketika energi yang kamu keluarkan benar-benar menghasilkan kemajuan terhadap tujuan yang penting bagimu.
Seseorang bisa sangat sibuk tanpa menjadi produktif. Dan seseorang bisa terlihat santai tetapi sebenarnya membuat progres besar.
Menurut buku Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less karya Greg McKeown (2014), salah satu kesalahan yang sering dilakukan banyak orang adalah mencoba melakukan terlalu banyak hal sekaligus. Akibatnya, perhatian dan energi terpecah sehingga sulit menghasilkan dampak yang benar-benar signifikan.
Makanya, daftar tugas yang panjang belum tentu berarti produktif. Kadang justru sebaliknya. Kita sibuk menyelesaikan tugas-tugas kecil karena terasa lebih mudah dan memberikan rasa pencapaian instan.
Padahal tugas yang benar-benar penting terus ditunda. Misalnya membersihkan inbox email selama satu jam, membalas semua chat, merapikan folder laptop, scroll informasi yang “katanya” untuk riset.
Sementara proposal belum dikerjakan, portofolio belum jadi, skripsi belum disentuh, atau pekerjaan utama belum selesai. Secara teknis kamu sibuk. Tapi belum tentu bergerak maju.
Dilansir dari buku Deep Work karya Cal Newport (2016), pekerjaan yang menghasilkan nilai terbesar biasanya membutuhkan fokus mendalam tanpa gangguan. Namun banyak orang justru menghabiskan sebagian besar waktunya pada pekerjaan dangkal yang membuat mereka terlihat sibuk tetapi tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.
Inilah alasan kenapa banyak orang merasa burnout meskipun hasil yang dicapai tidak sesuai dengan energi yang dikeluarkan. Karena kelelahan tidak selalu berasal dari kerja keras. Kadang kelelahan datang dari terlalu banyak berpindah fokus.
Penelitian berjudul The Cost of Interrupted Work: More Speed and Stress oleh Gloria Mark, Victor M. Gonzalez, dan Justin Harris (2005) menemukan bahwa interupsi dan perpindahan tugas yang terus-menerus dapat meningkatkan stres sekaligus menurunkan efektivitas kerja.
Itulah kenapa produktif sering kali tidak terlihat sesibuk yang kita bayangkan. Kadang produktif berarti menyelesaikan satu tugas penting, menolak pekerjaan yang tidak prioritas, fokus selama satu jam penuh tanpa distraksi, mengerjakan hal yang mendekatkanmu pada tujuan jangka panjang.
Sementara busy day sering kali dipenuhi aktivitas yang membuat kita merasa bekerja, tetapi tidak benar-benar bergerak.
Menurut buku The One Thing karya Gary Keller dan Jay Papasan (2013), produktivitas bukan tentang melakukan lebih banyak hal, melainkan mengidentifikasi hal yang paling penting dan memberikan perhatian terbesar pada hal tersebut.
Jadi kalau akhir-akhir ini kamu merasa sibuk terus tapi hidup rasanya jalan di tempat, mungkin masalahnya bukan karena kamu kurang rajin. Mungkin kamu hanya terlalu fokus mengisi waktu, bukan menciptakan progres.
Karena pada akhirnya, tujuan produktivitas bukan menjadi orang yang paling sibuk. Tapi menjadi orang yang benar-benar bergerak menuju apa yang ingin dicapai.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten-konten menarik lainnya. Jangan lupa share artikel ini ke teman yang selalu bilang “gue sibuk banget” padahal sebenarnya lagi terjebak di antara busy day dan productive day yaah.
