Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para pemain terbaik dunia, tetapi juga ajang unjuk inovasi teknologi sepak bola. Salah satu elemen yang selalu menarik perhatian dalam setiap edisi turnamen adalah bola resmi.
Sejak Piala Dunia 2006 hingga 2026, FIFA dan Adidas telah menghadirkan berbagai bola ikonik. Mulai dari Teamgeist yang memperkenalkan konstruksi panel revolusioner hingga TRIONDA yang dirancang untuk mendukung permainan modern, setiap bola memiliki cerita dan keunikan tersendiri.
Melansir dari laman FIFA Indonesia, berikut deretan bola resmi yang digunakan dalam lima edisi Piala Dunia terakhir beserta fakta menarik di balik desain dan teknologinya.
Qatar 2022 – Al Rihla
Al Rihla merupakan bola resmi Piala Dunia 2022 di Qatar dan menjadi bola ke-14 yang dibuat adidas untuk ajang tersebut. Nama Al Rihla yang berarti “perjalanan” dalam bahasa Arab terinspirasi dari budaya, arsitektur, perahu tradisional, dan warna bendera Qatar.
Bola ini sudah dibekali teknologi Connected Ball untuk memudahkan wasit dalam perhitungan offside bola.
Untuk semifinal dan final, adidas memperkenalkan varian khusus bernama Al Hilm yang berarti “mimpi”, dengan desain bernuansa emas yang terinspirasi dari gurun Qatar dan trofi Piala Dunia.
Rusia 2018 – Telstar 18
Telstar 18 menjadi bola resmi Piala Dunia 2018 di Rusia dengan desain yang terinspirasi dari bola Telstar klasik yang digunakan pada Piala Dunia 1970.
Kecanggigan bola ini memadukan nuansa retro dan teknologi modern, termasuk chip NFC yang memungkinkan penggemar berinteraksi dengan bola melalui smartphone.
Dibuat dengan enam panel tanpa jahitan, Telstar 18 dirancang untuk memberikan akurasi, performa yang konsisten dan tahan air. Setelah fase grup berakhir, adidas memperkenalkan Telstar Mechta sebagai bola untuk babak gugur. Nama Mechta berarti “mimpi” atau “ambisi” dalam bahasa Rusia.
Brasil 2014 – Brazuca
Brazuca merupakan bola resmi Piala Dunia 2014 yang menjalani salah satu proses pengujian paling ketat dalam sejarah.
Melibatkan lebih dari 600 pemain sepak bola profesional, 30 tim ilmuwan, dan uji laboratorium wajib yang menguji kemampuannya.
Nama Brazuca dipilih melalui pemungutan suara yang diikuti lebih dari satu juta orang dan mencerminkan kebanggaan masyarakat Brasil terhadap budaya serta gaya hidup mereka.
Bola ini menggunakan enam panel berbentuk propeler yang dirancang untuk meningkatkan aerodinamika, stabilitas, kontrol, dan cengkeraman saat dimainkan.
Untuk partai final, adidas juga menghadirkan edisi khusus bernama Brazuca Final Rio dengan aksen warna emas.
Afrika Selatan 2010 – Jabulani
Jabulani menjadi bola resmi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Namanya berarti “merayakan” dalam bahasa Zulu, sementara 11 warna yang menghiasi desainnya melambangkan jumlah pemain dalam satu tim sepak bola, bahasa resmi Afrika Selatan, serta kota-kota tuan rumah turnamen.
Bola ini dibuat dari delapan panel 3D yang direkatkan secara termal dan dilengkapi tekstur grip ‘n groove untuk meningkatkan cengkeraman serta kontrol permainan.
Untuk laga final, adidas memperkenalkan versi khusus berwarna emas bernama Jo’bulani, yang diambil dari nama kota Johannesburg, lokasi pertandingan puncak Piala Dunia 2010.
Jerman 2006 – Teamgeist
Teamgeist, yang berarti “semangat tim”, menjadi bola resmi Piala Dunia 2006 di Jerman. Bola ini menghadirkan inovasi besar dengan penggunaan 14 panel yang direkatkan secara termal, menggantikan desain panel heksagonal dan pentagonal yang telah digunakan selama beberapa dekade.
Warna hitam-putih pada Teamgeist terinspirasi dari warna tradisional tim nasional Jerman, sementara aksen emas melambangkan trofi Piala Dunia. Untuk pertandingan final, adidas merilis edisi khusus bernama Teamgeist Berlin berwarna emas.
Menariknya, setiap bola pada turnamen ini juga mencantumkan informasi pertandingan, seperti nama tim, stadion, kota, tanggal, dan waktu kick-off.
Setiap edisi menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga meningkatkan kualitas permainan serta membantu pengambilan keputusan dalam pertandingan.
Lebih dari sekadar alat untuk bermain, bola Piala Dunia telah menjadi simbol perubahan zaman dalam sepak bola modern.
Dengan demikian, bola Piala Dunia bukan hanya bagian kecil dari turnamen, tetapi juga saksi perjalanan sejarah, teknologi, dan budaya dari setiap negara tuan rumah yang menyelenggarakannya.

