Kamu udah cek kurs rupiah hari ini belum? Atau selalu ngikutin perkembangan nilai tukar rupiah. Sering nggak sih, pernah dengar kalau rupiah melemah, investor asing bisa kabur dari Indonesia? Kok bisa gitu ya?
Buat kamu yang baru masuk dunia ekonomi karena kasus rupiah hari ini, mungkin bingung dengan dampak pelemahan rupiah terhadap investasi yang ada di Indonesia.
Tapi tenang saja, karena akun tiktok @rika.yeo lewat salah satu konten edukasinya, menjelaskan kenapa fenomena ini terjadi.
Apa Hubungan Rupiah dengan Investor Asing?
Perlu diketahui, investor asing biasanya membawa modal dalam mata uang negara mereka. Misalnya, investor dari Amerika Serikat akan membawa modal dalam bentuk dolar AS.
Ketika ingin berinvestasi ke Indonesia, otomatis mata uang asli negaranya harus ditukar ke rupiah. Ini dilakukan untuk biaya bisnis, membeli saham, atau bahkan membangun pabrik di Indonesia.
Sekilas, proses ini terlihat sederhana dan tidak ada masalah. Namun tantangannya muncul ketika investor ingin membawa keuntungan hasil investasinya kembali ke negara asal.
Saat itu, uang dalam bentuk rupiah harus ditukarkan kembali menjadi dolar AS. Jika nilai rupiah melemah, keuntungan yang diperoleh investor bisa berkurang ketika dikonversi ke mata uang asalnya.
Misalnya, seorang investor membawa modal sebesar US$10 juta untuk membangun pabrik pakaian anak di Indonesia. Saat itu, kurs dolar AS berada di level Rp16.000 per dolar.
Artinya, dana yang dimiliki investor setara dengan Rp160 miliar setelah ditukarkan ke rupiah.
Dalam satu tahun, bisnis tersebut berjalan baik dan menghasilkan keuntungan sekitar Rp15 miliar. Dengan demikian, total aset investor menjadi Rp175 miliar.
Kenapa Investor Asing Bisa Kabur? Kan Untung
Setelah satu tahun berinvestasi, investor tentu ingin membawa hasil investasinya kembali ke negara asal.
Karena aset yang dimiliki masih dalam bentuk rupiah, uang tersebut harus ditukarkan kembali ke dolar AS.
Masalahnya, saat investor ingin menukar uangnya, pada Mei 2026 nilai tukar rupiah melemah menjadi sekitar Rp17.500 per dolar AS.
Ketika aset senilai Rp175 miliar tadi ditukar dengan kurs Rp17.500 per dolar, nilainya hanya sekitar US$10 juta atau hampir sama dengan modal awal yang dibawa ke Indonesia.
Artinya, keuntungan Rp15 miliar yang diperoleh selama satu tahun penuh bisa habis tergerus oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Kalau dilihat dari sisi pembukuan di Indonesia, investor memang mencatat keuntungan Rp15 miliar. Namun dari perspektif investor global yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama, sebenarnya ia tidak mendapatkan tambahan keuntungan karena nilai modalnya nyaris tidak bertambah.
Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah risiko nilai tukar atau currency risk, yaitu ketika perubahan kurs mata uang mengurangi keuntungan yang diperoleh investor.
Dalam dunia investasi, keuntungan tidak hanya dihitung berdasarkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga mempertimbangkan pergerakan mata uang negara tempat mereka berinvestasi.
Investor biasanya juga mempertimbangkan banyak faktor, seperti ukuran pasar, pertumbuhan ekonomi, regulasi pemerintah, stabilitas politik, dan prospek keuntungan jangka panjang.
Namun, pelemahan mata uang yang terlalu tajam dapat membuat investor menjadi lebih berhati-hati atau memilih menunda investasinya.
Apa Dampak Jika Investasi Asing Berkurang?
Berkurangnya investasi asing dapat menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian.
Salah satu dampaknya adalah melambatnya penciptaan lapangan kerja baru. Ketika investor menunda pembangunan pabrik atau ekspansi usaha, kebutuhan tenaga kerja juga bisa ikut berkurang.
Selain itu, perusahaan yang bergantung pada investasi untuk berkembang dapat menghadapi keterbatasan modal. Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin memilih melakukan efisiensi dan menunda perekrutan karyawan baru.
Jika tekanan ekonomi berlangsung lebih lama, langkah efisiensi tersebut bahkan dapat berdampak pada pengurangan tenaga kerja atau PHK.
Meski begitu, perlu dipahami bahwa keluarnya investor asing tidak otomatis menyebabkan PHK. Dampaknya akan bergantung pada kondisi ekonomi, kesehatan bisnis perusahaan, serta kemampuan mencari sumber pendanaan alternatif.
Pada akhirnya, nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang muncul di aplikasi keuangan atau berita ekonomi. Pergerakannya bisa memengaruhi keputusan investor, rencana ekspansi perusahaan, hingga peluang kerja yang tersedia di masa depan.
Karena itu, ketika rupiah melemah, yang dipertaruhkan bukan hanya soal kurs semata. Ada dampak yang dapat merembet ke dunia usaha, investasi, dan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari.



