Belakangan ini, istilah overthinking semakin sering digunakan. Sedikit khawatir dianggap overthinking, banyak bertanya juga dicap overthinking, bahkan saat merasa ada yang mengganjal dalam hubungan pun kerap dinilai terlalu banyak berpikir.
Akibatnya, banyak orang mulai meragukan perasaannya sendiri. Ketika pasangan tiba-tiba berubah sikap, mereka bilang pada diri sendiri, “Mungkin aku cuma overthinking.”
Ketika teman selalu mengabaikan pesan mereka, mereka berpikir, “Aku terlalu sensitif kali ya.”
Ketika seseorang terus merasa tidak dihargai dalam hubungan, mereka malah bertanya-tanya apakah masalahnya ada pada diri mereka sendiri.
Padahal kenyataannya, tidak semua kekhawatiran adalah overthinking. Kadang, rasa tidak nyaman muncul karena memang ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Inilah yang sering membuat banyak orang bingung. Mereka takut dianggap berlebihan, sehingga terus mengabaikan sinyal yang sebenarnya penting.
Apa Itu Overthinking Sebenarnya?
Secara psikologis, overthinking sering dikaitkan dengan rumination atau kecenderungan memikirkan suatu masalah secara berulang tanpa menghasilkan solusi yang jelas.
Seseorang yang overthinking biasanya terus memutar kemungkinan-kemungkinan buruk di kepalanya, bahkan ketika belum ada bukti yang cukup untuk mendukung kekhawatiran tersebut.
Misalnya, pasangan belum membalas pesan selama beberapa jam. Lalu pikiran langsung berlari ke berbagai skenario:
“Dia marah nggak ya?”
“Aku salah ngomong?”
“Dia udah nggak suka lagi?”
Padahal belum ada informasi yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut benar terjadi.
Dalam situasi seperti ini, yang membuat stres bukan kenyataan yang ada, melainkan asumsi yang terus berkembang di kepala.
Namun berbeda ceritanya ketika kekhawatiran muncul karena ada pola yang memang berulang dan bisa diamati.
Tidak Semua Kekhawatiran Muncul Tanpa Alasan
Misalnya, kamu merasa tidak nyaman karena pasangan sering menghilang tanpa kabar selama berhari-hari.
Atau kamu merasa hubungan pertemanan terasa satu arah karena hanya kamu yang selalu berusaha menjaga komunikasi.
Atau mungkin kamu mulai merasa tidak dihargai karena pendapatmu terus-menerus diabaikan.
Jika hal-hal tersebut terjadi berulang kali dan didukung oleh pengalaman nyata, maka kekhawatiran yang muncul belum tentu merupakan overthinking.
Bisa jadi itu adalah respons alami terhadap situasi yang memang membuatmu tidak nyaman.
Dalam psikologi, emosi memiliki fungsi penting sebagai sumber informasi. Rasa sedih, kecewa, marah, atau khawatir sering kali muncul untuk memberi sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi atau ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Karena itu, tujuan utamanya bukan menghilangkan semua kekhawatiran, melainkan memahami dari mana kekhawatiran tersebut berasal.
Cara Membedakan Overthinking dan Kekhawatiran yang Valid
Salah satu cara sederhana adalah bertanya:
“Apakah aku khawatir karena fakta yang benar-benar terjadi, atau karena kemungkinan yang aku bayangkan sendiri?”
Jika jawabannya lebih banyak berasal dari asumsi, prediksi, atau skenario yang belum tentu terjadi, kemungkinan besar kamu sedang overthinking.
Namun jika kekhawatiran muncul karena pola perilaku yang konsisten dan bisa diamati, mungkin ada alasan yang layak untuk diperhatikan.
Misalnya Overthinking: “Dia pakai titik di chat. Jangan-jangan dia marah.” atau Kekhawatiran yang valid: “Selama beberapa bulan terakhir dia semakin jarang berkomunikasi, menghindari diskusi, dan tidak pernah menepati janji yang dibuat.”
Perbedaannya terletak pada bukti. Overthinking sering berakar pada dugaan. Sedangkan kekhawatiran yang valid biasanya didukung oleh pengalaman nyata yang terjadi berulang kali.
Kenapa Banyak Orang Menganggap Semua Kekhawatiran sebagai Overthinking?
Salah satu alasannya adalah karena budaya media sosial sering menyederhanakan masalah psikologis.
Kalimat seperti “jangan overthinking” terdengar sederhana dan menenangkan. Namun dalam praktiknya, tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan berhenti berpikir.
Kadang seseorang justru perlu mendengarkan perasaannya. Jika ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranmu selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, mungkin yang dibutuhkan bukan mengabaikannya, melainkan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Karena hubungan yang sehat bukan hubungan yang membuatmu terus-menerus menebak-nebak. Hubungan yang sehat tetap memiliki konflik dan ketidakpastian, tetapi juga menyediakan ruang untuk komunikasi, kejelasan, dan rasa aman.
Percaya pada Perasaanmu, Tapi Tetap Periksa Faktanya
Perasaan memang penting, tetapi perasaan bukan satu-satunya sumber kebenaran. Begitu juga fakta. Cara terbaik adalah menggabungkan keduanya. Dengarkan apa yang kamu rasakan, lalu tanyakan pada diri sendiri:
“Apa bukti yang mendukung perasaan ini?”
Jika tidak ada bukti yang jelas, mungkin kamu sedang terjebak dalam overthinking. Namun jika ada pola yang konsisten dan berulang, mungkin perasaanmu sedang mencoba memberitahu sesuatu yang penting.
Karena pada akhirnya, tidak semua kekhawatiran adalah musuh yang harus dihilangkan. Sebagian di antaranya justru hadir untuk membantu kita mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kalau kamu pernah bingung membedakan antara overthinking dan sinyal bahwa ada sesuatu yang memang perlu diperhatikan dalam hubungan, kamu nggak sendirian. Bagikan artikel ini ke teman yang sering mempertanyakan perasaannya sendiri, dan jangan lupa follow @sefruitmedia untuk konten psikologi, relationship, dan self-growth lainnya.
