Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah amblas 0,57 persen atau 102 poin ke level Rp18.138 per dolar AS, pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan pelamahan ini karena data pekerjaan AS yang dirilis lebih baik dari perkiraan.
“Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan,”
ujar Lukman, hari ini.
Pelemahan rupiah juga didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Iran menyerang dua negara kawasan dan Israel.
“Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung dolar dan menekan rupiah,”
kata Lukman.
Semakin Mendalam
Dari sisi domestik, Lukman menjelaskan pelemahan rupiah ini karena sentimen investor terhadap Indonesia semakin dalam. Hal yang disoroti oleh pelaku pasar adalah ketidakpastian kebijakan pemerintah.
Lukman menilai saat ini sulit bagi Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan rupiah, kecuali otoritas moneter menaikkan suku bunga alias BI Rate dalam jumlah yang besar. Langkah ini juga harus diiringi dengan penghapusan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Sulit. Kecuali menaikkan suku bunga sebesar mungkin, dari pemerintah mesti pangkas lebih banyak anggaran bila perlu MBG dihilangkan sama sekali. Sentimen (domestik) masih tetap sama, namun sekarang sudah sangat dalam,”
tegas dia.
Lantas untuk hari ini Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan melemah di rentang Rp18.000-Rp18.150 per dolar AS.



