Bendera pelangi atau rainbow flag menjadi salah satu simbol komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) dalam peringatan Pride Month yang diperingati setiap bulan Juni.
Bendera dengan enam warna tersebut kerap terlihat dalam parade, kampanye sosial, hingga berbagai kegiatan yang berkaitan dengan komunitas LGBT. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah bendera ini dan apa makna di balik warna-warnanya.
Sejarah Bendera Rainbow LGBT
Dilansir dari Britannica, bendera pelangi pertama kali dirancang pada 1978 oleh Gilbert Baker, yang merupakan seniman sekaligus aktivis gay asal Amerika Serikat.
Baker membuat simbol LGBT usai didesak oleh Harvey Milk, salah satu pejabat publik pertama di Amerika Serikat yang secara terbuka mengakui dirinya gay. Saat itu, Harvey menilai, komunitas LGBT membutuhkan simbol yang dapat merepresentasikan identitas dan kebanggaan mereka.
Menurut Baker, bendera dipilih karena dianggap sebagai simbol yang kuat untuk menunjukkan identitas dan keberadaan sebuah kelompok masyarakat.
Bendera pelangi pertama kali dikibarkan pada 25 Juni 1978 dalam acara San Francisco Gay Freedom Day Parade di California, Amerika Serikat.
Arti Warna pada Bendera Pelangi
Pada awal pembuatannya, bendera pelangi memiliki delapan warna yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
- Merah muda (hot pink): seksualitas
- Merah: kehidupan
- Orange: penyembuhan
- Kuning: sinar matahari
- Hijau: alam
- Turquoise: seni
- Indigo: harmoni
- Ungu: semangat
Namun, karena kendala produksi pada saat itu, warna merah muda dan turquoise kemudian dihilangkan. Warna indigo juga diganti menjadi biru yang lebih mudah diproduksi.
Perubahan tersebut menghasilkan desain bendera pelangi enam warna yang dikenal luas hingga saat ini, yaitu merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu.
Mengapa Pakai Warna Pelangi?
Menurut Gilbert Baker, pelangi dipilih karena dianggap sebagai simbol yang berasal dari alam dan dapat mencerminkan keberagaman.
Seiring waktu, warna-warna dalam bendera pelangi kemudian dimaknai sebagai representasi keberagaman latar belakang, identitas, dan pengalaman yang ada dalam komunitas LGBT.
Karena alasan itu, bendera pelangi menjadi simbol yang paling sering digunakan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Pride Month maupun kampanye hak-hak LGBT di berbagai negara.
Britannica mencatat bahwa penggunaan bendera pelangi semakin meluas setelah peringatan 25 tahun Stonewall pada 1994. Saat itu Gilbert Baker membuat bendera pelangi raksasa sepanjang satu mil untuk memperingati momen tersebut.
Sejak saat itu, bendera pelangi semakin dikenal secara global dan menjadi simbol yang identik dengan komunitas LGBT serta peringatan Pride Month yang berlangsung setiap bulan Juni.
Kini, bendera pelangi dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, baik dalam bentuk bendera, atribut kampanye, maupun simbol visual yang digunakan dalam berbagai kegiatan terkait Pride Month.

