Kalau seseorang bertanya, “Apa yang paling penting dalam hidupmu?”, kemungkinan besar kamu bisa langsung menjawab. Mungkin keluarga, mungkin karier, mungkin kebebasan, mungkin kebahagiaan, tapi ada satu masalah.
Apa yang kita katakan penting dan apa yang benar-benar kita prioritaskan dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak selalu sama.
Banyak orang mengira mereka sudah mengenal nilai hidupnya. Padahal, ketika melihat bagaimana mereka menghabiskan waktu, energi, perhatian, dan uang, ceritanya bisa sangat berbeda.
Karena itu, mengenali nilai hidup bukan hanya soal apa yang kamu yakini. Tetapi juga tentang apa yang sebenarnya menggerakkan keputusanmu setiap hari.
Dan kabar baiknya, kamu tidak perlu tes kepribadian untuk mengetahuinya.
Apa Itu Nilai Hidup?
Dalam psikologi, nilai hidup (personal values) adalah prinsip atau kualitas yang dianggap penting dan menjadi kompas dalam mengambil keputusan.
Psikolog Shalom H. Schwartz dalam penelitiannya Universals in the Content and Structure of Values: Theoretical Advances and Empirical Tests in 20 Countries (1992) menjelaskan bahwa nilai merupakan tujuan yang diinginkan seseorang dan berfungsi sebagai pedoman dalam hidup.
Sederhananya, nilai hidup adalah hal-hal yang membuatmu merasa “Ya, ini aku.”
Ketika hidupmu selaras dengan nilai tersebut, biasanya kamu merasa lebih puas dan memiliki arah. Sebaliknya, ketika hidupmu menjauh dari nilai yang sebenarnya penting bagimu, sering muncul perasaan kosong, bingung, atau tidak puas meskipun secara objektif semuanya terlihat baik-baik saja.
Cara Pertama: Lihat ke Mana Waktumu Pergi
Banyak orang berkata bahwa keluarga adalah prioritas utama. Namun coba lihat satu minggu terakhir. Apa yang paling banyak menyita waktumu? Apa yang paling sering kamu pikirkan? Apa yang paling sering kamu usahakan?
Nilai hidup sering kali tercermin dari perilaku, bukan dari jawaban ideal yang ingin kita berikan.
Dalam bukunya The Happiness Hypothesis (2006), psikolog Jonathan Haidt menjelaskan bahwa manusia sering memiliki dua versi diri: diri yang berpikir dan diri yang bertindak. Tidak jarang keduanya berjalan ke arah yang berbeda.
Karena itu, jika ingin mengenali nilai hidupmu, perhatikan tindakanmu sebelum mendengarkan jawabanmu sendiri.
Cara Kedua: Perhatikan Hal yang Paling Membuatmu Marah
Ini terdengar aneh, tetapi kemarahan sering kali mengungkap nilai yang kita miliki.
Misalnya, jika kamu sangat marah pada ketidakjujuran, mungkin kamu menghargai integritas, jika kamu sangat kesal saat diperlakukan tidak adil, mungkin kamu menghargai keadilan, jika kamu merasa terganggu ketika kebebasanmu dibatasi, mungkin kamu menghargai kemandirian dan kebebasan.
Dalam buku The Righteous Mind (2012), Jonathan Haidt menjelaskan bahwa reaksi emosional yang kuat sering kali berhubungan dengan nilai moral dan prinsip yang dianggap penting oleh seseorang.
Kadang nilai hidupmu terlihat lebih jelas dari hal yang tidak bisa kamu toleransi dibanding dari hal yang kamu sukai.
Cara Ketiga: Lihat Apa yang Sering Kamu Korbankan
Nilai hidup tidak hanya terlihat dari apa yang kamu kejar. Tetapi juga dari apa yang rela kamu korbankan.
Misalnya, seseorang rela bekerja lembur demi karier, seseorang rela menolak pekerjaan bergaji tinggi demi waktu bersama keluarga, seseorang rela pindah kota demi mengejar kebebasan dan pengalaman baru.
Pilihan-pilihan tersebut sering kali menunjukkan apa yang sebenarnya berada di urutan teratas dalam sistem nilai seseorang.
Karena pada akhirnya, ketika dua hal penting bertabrakan, keputusan yang kita ambil biasanya menunjukkan nilai yang paling dominan.
Cara Keempat: Perhatikan Momen yang Membuatmu Benar-Benar Hidup
Coba pikirkan beberapa momen dalam hidup yang membuatmu merasa sangat puas. Bukan sekadar senang sesaat, tetapi benar-benar merasa hidup.
Apa yang sedang terjadi saat itu? Apakah kamu sedang membantu orang lain? Menciptakan sesuatu? Belajar hal baru? Memimpin sebuah tim? Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kamu sayangi?
Psikolog Martin Seligman dalam bukunya Flourish (2011) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis sering muncul ketika seseorang menjalani aktivitas yang sesuai dengan kekuatan dan nilai pribadinya.
Karena itu, pengalaman yang paling bermakna sering menyimpan petunjuk tentang apa yang benar-benar penting bagimu.
Cara Kelima: Perhatikan Apa yang Membuatmu Iri
Ini mungkin salah satu cara yang paling jujur. Saat melihat orang lain, siapa yang diam-diam membuatmu iri? Dan apa yang sebenarnya membuatmu iri? Apakah karena mereka sukses? Punya hubungan yang hangat? Bebas bepergian ke mana saja? Berani mengekspresikan diri?
Sering kali rasa iri bukan hanya tentang apa yang dimiliki orang lain.
Melainkan tentang sesuatu yang diam-diam kita inginkan untuk diri sendiri.
Karena itu, rasa iri bisa menjadi petunjuk yang tidak nyaman tetapi sangat berguna untuk memahami nilai hidup kita.
Nilai Hidupmu Mungkin Berbeda dari yang Kamu Bayangkan
Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar sesuatu karena merasa itu penting. Baru kemudian menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang menjalani nilai milik orang lain.
Nilai dari keluarga. Nilai dari lingkungan. Nilai dari media sosial. Nilai dari ekspektasi masyarakat Padahal hidup yang terasa bermakna biasanya bukan hidup yang paling sempurna.
Melainkan hidup yang paling selaras dengan nilai yang benar-benar kita yakini. Jadi jika ingin mengenali nilai hidupmu, jangan hanya bertanya “Apa yang menurutku penting?”
Coba tanyakan juga “Apa yang sebenarnya terlihat penting dari cara aku menjalani hidup setiap hari?”
Karena sering kali, jawaban yang paling jujur ada di sana. Di kebiasaanmu. Di keputusanmu.
Dan di hal-hal yang terus kamu pilih, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Dalam penelitian Universals in the Content and Structure of Values karya Shalom H. Schwartz (1992), nilai terbukti memengaruhi pilihan, perilaku, dan arah hidup seseorang secara konsisten. Artinya, nilai hidup bukan sekadar konsep abstrak, tetapi sesuatu yang benar-benar tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Kalau artikel ini membuatmu mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya paling penting dalam hidupmu, coba bagikan ke teman yang sedang mencari arah hidupnya juga. Dan jangan lupa follow @sefruitmedia untuk konten psikologi, self-growth, dan self-discovery lainnya.
