Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kembali menjadi sorotan. Kali ini, perhatian tertuju pada perlakuan aparat keamanan Amerika Serikat terhadap delegasi Timnas Uzbekistan dan Senegal yang dinilai berlebihan saat memasuki area pertandingan.
Insiden tersebut menambah panjang daftar kontroversi yang mewarnai persiapan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Timnas Uzbekistan Jalani Pemeriksaan Berlapis
Menjelang pertandingan menghadapi Belanda, rombongan Timnas Uzbekistan mendapatkan pemeriksaan keamanan yang tidak biasa saat tiba di Icahn Stadium pada Selasa 9 Mei 2026.
Para pemain dan staf terlebih dahulu menjalani pemindaian tubuh menggunakan metal detector di area luar stadion.
Setelah itu, mereka diminta meletakkan seluruh barang bawaan di atas aspal untuk diperiksa lebih lanjut.
Pemeriksaan semakin ketat ketika anjing pelacak diterjunkan untuk mengendus setiap tas yang dibawa oleh anggota tim.
Situasi tersebut memicu perhatian karena dinilai berbeda dari prosedur yang umumnya diterapkan kepada peserta turnamen internasional.
Bahkan, dalam laporan yang beredar, sempat terdengar staf keamanan memberikan instruksi dengan nada keras kepada anggota rombongan terkait barang bawaan yang sedang diperiksa.
Senegal Alami Perlakuan Serupa di Bandara
Tidak hanya Uzbekistan, Timnas Senegal juga menghadapi pengalaman yang hampir sama saat tiba di Amerika Serikat.
Menurut laporan Give Me Sport, proses pemeriksaan dilakukan di Bandara San Antonio dengan pengamanan ekstra ketat. Para pemain dan staf disebut menjalani pemeriksaan langsung di area dekat landasan pacu.
Seluruh anggota tim diperiksa menggunakan alat pendeteksi logam, sementara anjing pelacak turut dikerahkan untuk memeriksa seluruh barang bawaan yang mereka bawa.
Langkah keamanan tersebut memunculkan perdebatan karena dianggap terlalu berlebihan terhadap delegasi peserta Piala Dunia.
Kejadian yang menimpa Uzbekistan dan Senegal langsung memicu reaksi luas di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan standar perlakuan yang diterapkan oleh otoritas keamanan Amerika Serikat terhadap negara-negara peserta.
Sebagian pihak menilai ada indikasi perlakuan berbeda terhadap tim yang berasal dari kawasan Afrika maupun negara tertentu di luar Barat.
Kritik pun bermunculan terkait kesan diskriminatif yang muncul dari prosedur pemeriksaan tersebut.
Iran Alami Kendala Visa
Kontroversi ini bukan yang pertama menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Sebelumnya, sejumlah negara juga mengalami persoalan terkait sistem imigrasi Amerika Serikat.
Timnas Iran sempat menghadapi kendala visa bagi beberapa anggota delegasi mereka. Sementara itu, striker Timnas Irak, Aymen Hussein, dikabarkan pernah ditahan selama tujuh jam untuk menjalani pemeriksaan mendetail, termasuk pengecekan perangkat pribadinya.
Masalah serupa juga dialami fotografer Timnas Irak yang akhirnya dideportasi meski telah membawa dokumen resmi perjalanan.
Wasit Somalia Gagal Bertugas
Di sisi lain, wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal bertugas di Piala Dunia 2026 setelah tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Situasi tersebut membuat namanya dicoret dari daftar pengadil yang akan memimpin pertandingan di turnamen tersebut.
Serangkaian insiden yang melibatkan peserta, ofisial, hingga perangkat pertandingan membuat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 terus menjadi bahan perdebatan.
Meski pihak penyelenggara menegaskan seluruh prosedur dilakukan demi alasan keamanan, berbagai kritik tetap bermunculan.
Banyak pihak berharap FIFA dan tuan rumah dapat memastikan seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang setara demi menjaga semangat sportivitas dan persatuan yang menjadi nilai utama sepak bola dunia.

