Puasa sunnah adalah salah satu ibadah dalam Islam yang sering dilakukan di luar puasa wajib Ramadan. Meski tidak diwajibkan, puasa ini punya banyak keutamaan yang sayang kalau dilewatkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, puasa sunnah bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga menjadi cara sederhana untuk melatih diri agar lebih sabar, disiplin, dan lebih dekat dengan Allah SWT.
Menariknya, setiap jenis puasa sunnah juga punya keistimewaan masing-masing yang bisa memberi dampak positif, baik untuk hati maupun kehidupan kita sehari-hari.
Tentang Puasa Sunah
BAZNAS (31/03/2024) melalui laman resminya menyampaikan bahwa secara bahasa, puasa atau ṣaum (الصَّوْم) berarti menahan. Sedangkan menurut istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat tertentu.
Puasa sunnah adalah puasa yang jika dikerjakan akan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Artinya, puasa ini bersifat anjuran dan menjadi salah satu bentuk ibadah tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Artinya: “Allah Ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang langsung akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Macam-Macam Puasa
Adapun macam-macam puasa, sebagai berikut.
1. Puasa Senin dan Kamis
Puasa ini paling dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena dilakukan setiap hari Senin dan Kamis, dan memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam.
Pada dua hari tersebut, amal perbuatan manusia diangkat ke langit dan diperlihatkan kepada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW sangat menyukai jika amal beliau diperlihatkan dalam keadaan sedang berpuasa.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Amalan-amalan diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin saat amalku diperlihatkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)
2. Puasa Ayyamul Bidh
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Di Indonesia, puasa ini juga dikenal sebagai “puasa hari putih” karena dilakukan saat bulan purnama yang cahayanya terang benderang.
Puasa ini dianjurkan oleh Nabi SAW karena memiliki keutamaan yang besar bagi umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
صُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Artinya: “Berpuasalah tiga hari dalam sebulan, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.” (HR. Bukhari)
Jika dilakukan secara rutin setiap bulan, puasa ini bisa bernilai seperti puasa sepanjang tahun. Selain itu, Ayyamul Bidh juga melatih konsistensi dalam beribadah dan menjaga kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT di luar bulan Ramadan.
3. Puasa Daud
Puasa Daud adalah salah satu puasa sunnah yang diajarkan oleh Nabi Daud AS dan menjadi salah satu bentuk ibadah yang istimewa dalam Islam. Cara menjalankannya adalah dengan pola selang-seling, yaitu satu hari berpuasa dan satu hari tidak berpuasa.
Rasulullah SAW menjelaskan tentang puasa ini:
فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا… ذَلِكَ صِيَامُ دَاوُودَ
Artinya: “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa Daud dikenal sebagai puasa yang memiliki keutamaan besar karena membutuhkan konsistensi dan kedisiplinan yang tinggi. Meskipun dilakukan secara rutin, puasa ini tetap seimbang karena memberi waktu tubuh untuk beristirahat di hari berikutnya.
Selain bernilai ibadah, puasa ini juga melatih seseorang untuk menjaga komitmen, mengendalikan diri, serta tidak berlebihan dalam menjalankan ibadah agar tetap seimbang dengan aktivitas sehari-hari.
4. Puasa Enam Hari Setelah Syawal
Puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya mulai tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan Syawal. Artinya, puasa ini hanya bisa dikerjakan selama masih berada di bulan Syawal, tidak boleh dilakukan di bulan lain.
Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan maupun terpisah, selama masih dalam rentang waktu tersebut. Yang terpenting, jumlahnya tetap enam hari dan masih berada di bulan Syawal.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Melaksanakan puasa ini dapat membantu menjaga kebiasaan baik yang sudah terbentuk selama Ramadan agar tidak hilang begitu saja. Selain itu, puasa Syawal juga menjadi bentuk peningkatan semangat spiritual seorang Muslim setelah Ramadan.
5. Puasa Arafah
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ… يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: “Puasa Arafah menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Puasa Arafah menjadi salah satu momen istimewa untuk meraih ampunan Allah SWT. Selain itu, puasa ini juga menjadi sarana untuk menenangkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan memperkuat hubungan spiritual seorang Muslim dengan Allah SWT.
6. Puasa Asyura
Puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram, dan dianjurkan juga untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a). Puasa ini memiliki makna penting karena untuk mengenang keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun.
Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ… يُكَفِّرُ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Dalam pelaksanaannya, disunnahkan untuk menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi. Dengan demikian, puasa ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan keteladanan dari kisah Nabi Musa AS.
Dengan memahami dan mengamalkan puasa sunnah, diharapkan kita tidak hanya mengejar keutamaannya, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan hidup yang membawa ketenangan hati dan kebaikan dalam setiap aktivitas sehari-hari.


