Di tengah padatnya aktivitas kuliah, tugas yang menumpuk, dan tekanan kompetisi yang terus berjalan, tak jarang mahasiswa dihadapkan pada kondisi lelah secara fisik maupun mental hingga membuat kepala terasa “penuh” dan sulit fokus.
Namun, di balik situasi yang kerap dianggap melelahkan itu, tim mahasiswa iConic Institut Teknologi Bandung (ITB) justru melahirkan ide segar yang tidak hanya kreatif, tetapi juga solutif untuk persoalan nyata di masyarakat.
Dari titik inilah, sebuah pertanyaan menarik muncul, bagaimana jika rasa lelah yang sering dianggap hambatan justru bisa diubah menjadi inovasi yang menyelamatkan banyak orang di jalan raya? Berikut inovasi SADAR Helmet dari tim iConic Institut Teknologi Bandung (ITB) lahir.
Kenalan dengan iConic dari Institut Teknologi Bandung
Melansir dari laman Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 29 Mei 2026, iConic adalah nama tim mahasiswa ITB yang berhasil meraih prestasi pada ajang Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 yang diselenggarakan OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip).
Kompetisi ini mengangkat isu keselamatan, kesehatan kerja, transportasi aman, serta inovasi digital.
Tim iConic terdiri atas Mahesya Friemay Romadhoni, Muhammad Yasser Saputro, dan Rizky Miftah Alfiah, mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2023. Tim ini berhasil meraih Juara 2 Nasional dari total 80 finalis pada kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah.
Inovasi untuk Mencegah Pengendara Mengantuk di Jalan
iConic menghadirkan inovasi helm cerdas berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi kondisi microsleep pada pengendara motor secara real-time. Sistem ini memberikan peringatan preventif melalui getaran, suara, dan notifikasi sebagai upaya mencegah potensi kecelakaan di jalan.
“Microsleep merupakan masalah nyata yang sangat relevan di Indonesia, terutama pada pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional,” ujar Mahesya, salah satu tim iConic.
SADAR Helmet dikembangkan sebagai respons terhadap tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang dipicu oleh kelelahan dan microsleep di Indonesia.
Tim menilai, banyak insiden fatal terjadi ketika pengendara kehilangan kesadaran dalam hitungan detik tanpa disadari. Di sisi lain, sebagian besar sistem keselamatan yang ada masih bersifat reaktif, baru bekerja setelah kecelakaan terjadi, bukan mencegah sejak awal.
Teknologi Canggih di Balik SADAR Helmet

Inovasi ini mengintegrasikan sensor Photoplethysmography (PPG), akselerometer, dan giroskop untuk memantau kondisi fisiologis serta pergerakan kepala pengendara secara real-time. Serta terdapat tombol respons dan LED peringatan sebagai sistem umpan balik langsung kepada pengguna.
Keunggulan utama SADAR Helmet terletak pada peringatan yang preventif dan real-time. Helm ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung saat kecelakaan terjadi, tetapi juga mampu mendeteksi kondisi pramicrosleep sebelum insiden berlangsung.
Dari sisi teknologi, sistem ini memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan dan komunikasi data, sensor PPG untuk membaca detak jantung serta Heart Rate Variability (HRV), serta akselerometer dan giroskop untuk mendeteksi pola gerakan kepala.
Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan machine learning dan sensor fusion untuk mengklasifikasikan tingkat kantuk pengendara.
Dalam pengembangan konsep keselamatan, tim juga menggunakan pendekatan Heinrich’s Accident Triangle, Domino Theory, Swiss Cheese Model, serta Hierarchy of Controls berdasarkan standar NIOSH dan ISO 45001 sebagai dasar analisis risiko kecelakaan.
Kesesuaian dengan Standar SNI
Sistem ini menggunakan kombinasi multisensor untuk meningkatkan akurasi deteksi, serta dapat dipasang secara retrofit pada helm standar SNI tanpa mengubah struktur utama helm dan tetap mempertahankan standar keselamatan SNI.
Selain itu, biaya implementasinya relatif lebih terjangkau dibandingkan sistem berbasis kamera atau EEG.
Perjuangan di Balik Pengembangan SADAR Helmet
Proses pengembangan SADAR Helmet tidak terjadi secara instan. Rizky menjelaskan tantangan terbesar selama kompetisi terletak pada waktu persiapan yang relatif singkat.
Dalam periode tersebut, tim harus menyusun karya tulis ilmiah, merancang prototipe menggunakan perangkat lunak SolidWorks dan AutoCAD, serta melakukan validasi keamanan berdasarkan berbagai jurnal ilmiah yang relevan.
Kompetisi ini sendiri berlangsung dalam dua tahap seleksi, dimulai dari penilaian karya tulis ilmiah dan dilanjutkan dengan presentasi dalam bentuk pitch deck secara daring.
Dengan perjuangan yang tidak mudah, tim iConic berhasil meraih Juara 2 pada ajang SASECOM 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro pada Kamis, 7 Mei 2026.
Muncul Ide dari Keresahan Sepele
Dari keresahan akan tingginya angka kecelakaan akibat kelelahan pengendara, inovasi SADAR Helmet lahir sebagai bukti bahwa ide sederhana yang berangkat dari masalah nyata dapat berkembang menjadi solusi berbasis teknologi yang berdampak luas.
Lebih dari sekadar capaian juara, karya tim iConic menunjukkan bahwa kolaborasi, riset, dan pemanfaatan teknologi seperti IoT dan machine learning mampu menghadirkan pendekatan baru dalam keselamatan berkendara yang lebih preventif dan adaptif.
Ke depan, inovasi ini diharapkan tidak berhenti pada tahap kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas agar benar-benar memberi manfaat bagi keselamatan pengguna jalan di Indonesia.

