Bromo kembali menunjukkan sisi ekstremnya. Di tengah musim kemarau yang identik dengan cuaca cerah dan kering, kawasan dataran tinggi ini justru diselimuti lapisan kristal es tipis yang menyerupai salju.
Fenomena yang dikenal sebagai embun beku atau bun upas ini muncul pada malam hingga dini hari, ketika suhu udara turun drastis mendekati titik beku.
Meski terlihat seperti “salju”, peristiwa ini merupakan proses alamiah yang terjadi akibat kondisi atmosfer khas pegunungan, terutama saat langit cerah, kelembapan rendah, dan angin yang lemah.
Penyebab Terjadinya Embun Beku
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Agita Vivi, menjelaskan embun beku (bun upas) di kawasan Bromo secara ilmiah terjadi akibat proses pendinginan radiasi yang kuat pada malam hingga dini hari.
Kondisi mbediding ini umumnya muncul di wilayah dataran tinggi, terutama saat musim kemarau dengan langit cerah, kelembapan udara rendah, dan angin yang lemah.
“Pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari dilepaskan kembali ke atmosfer. Tanpa awan sebagai “selimut” penahan panas, suhu permukaan turun lebih cepat hingga mendekati 0°C atau bahkan lebih rendah,” ujar Agita kepada Owrite.id.
Fenomena ini juga dipengaruhi massa udara kering dari Australia saat musim kemarau yang menurunkan kelembapan dan memperkuat pendinginan. Kombinasi faktor ini membuat embun beku dapat terjadi berulang di Bromo sesuai pola musim.
Pola Musim Embun Beku
Berdasarkan data AWS (Automatic Weather Station) Bromo, suhu minimum tercatat mencapai 5,9°C pada 7 Juni 2026. Kondisi ini terjadi saat malam hingga pagi hari dengan cuaca cerah, udara kering, dan angin lemah, yang umum pada musim kemarau.
Fenomena embun beku di Bromo cenderung berulang setiap musim kemarau, namun tidak muncul dengan intensitas dan frekuensi yang sama setiap tahun.
Peluang kemunculannya umumnya meningkat mulai Juni dan lebih terasa pada Juli–Agustus, terutama saat malam cerah dan udara sangat kering. Variasinya dipengaruhi kondisi cuaca seperti kelembapan, tutupan awan, dan aliran udara kering.
Tanggapan Warganet Soal “Mbediding”
Sejumlah warganet ramai membagikan pengalaman dan tanggapan mereka di media sosial. Banyak yang terpesona dengan pemandangan yang menyerupai hamparan salju, sementara lainnya mengaitkannya dengan datangnya musim mbediding.
Ternyata Indonesia salju bukan hanya cerita rakyat,”
tulis akun @justz_neyy.
Bromo vibes Kutub Utara,” tulis @dill_rxxzz145.
tulis akun @justz_neyy.
Mungkinkah snowboard?”
tulis @hexoo._.
Pantesan Malang tambah adem, ternyata AC di Bromo nggak dimatiin,”
tulis @mbeng246.
Dampak terhadap Ekosistem dan Wisatawan
Agita menambahkan, embun beku di Bromo merupakan bagian dari pola alami musim kemarau di wilayah dataran tinggi. Dampaknya terhadap lingkungan dan ekosistem umumnya bersifat sementara dan tidak luas.
Sebagian tanaman yang kurang tahan terhadap suhu rendah dapat mengalami sedikit gangguan, namun mayoritas spesies di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sudah menyesuaikan diri dengan kondisi musiman tersebut,”
tambahnya.
Anggita menyebut pihaknya belum mencatat adanya dampak langsung suhu dingin ekstrem atau embun beku terhadap wisatawan. Fenomena ini lebih sering dipandang sebagai bagian dari dinamika alam musim kemarau di dataran tinggi yang justru menjadi daya tarik wisata.
Namun demikian, BMKG mengimbau wisatawan memakai pakaian hangat, menjaga kondisi tubuh, serta berhati-hati saat berkendara karena kabut dan udara dingin dapat mengurangi jarak pandang,”
ucapnya.
Pantauan BMKG Kondisi Bromo Terkini
BMKG memiliki data pengamatan meteorologi seperti suhu udara, kelembapan, angin, dan kondisi cuaca di sekitar kawasan Bromo. Data tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan terjadinya suhu rendah, terutama pada musim kemarau.
Untuk informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan akun media sosial resmi @infobmkg.
Kemunculan embun beku di Bromo menunjukkan bahwa wilayah tropis seperti Indonesia juga dapat mengalami fenomena cuaca yang unik pada kondisi tertentu.
Dengan memahami proses terjadinya serta memperhatikan informasi cuaca dari BMKG, masyarakat dan wisatawan dapat menikmati keindahan bun upas dengan lebih aman dan nyaman.
