PT Timah (persero) Tbk (TINS) membagikan dividen sebesar Rp656,8 miliar dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp1,31 triliun. Nilai dividen tersebut setara 50 persen dari total laba bersih perseroan.
Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Senin, 15 Juni 2026.
Selain menetapkan pembagian dividen, pemegang saham juga menyetujui penggunaan sisa laba bersih sebesar Rp656,8 miliar atau 50 persen sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung pengembangan usaha dan memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Kinerja Keuangan Tumbuh Positif
Pembagian dividen dilakukan seiring dengan kinerja positif perseroan sepanjang 2025. PT Timah mencatat pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, meningkat 6,41 persen dibandingkan Rp10,86 triliun pada 2024. Perseroan juga membukukan laba usaha sebesar Rp1,91 triliun dan EBITDA sebesar Rp2,76 triliun.
Dari sisi operasional, perusahaan memproduksi 18.635 ton timah dalam bentuk bijih, menghasilkan 17.815 metrik ton logam timah, serta mencatat penjualan logam timah sebesar 16.634 metrik ton sepanjang tahun lalu.

Direktur Utama PT TIMAH Tbk, Restu Widiyantoro mengatakan, pembagian dividen ini mencerminkan kinerja positif yang berhasil dibukukan Perseroan. Keberhasilan ini merupakan hasil upaya Perseroan meningkatkan efektivitas operasional, memperkuat fundamental bisnis, serta menjaga daya saing di tengah tantangan industri yang terus berkembang.
Perseroan berkomitmen untuk terus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai optimal bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan,”
kata Restu dikutip dari keterangannya, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurut Restu, sepanjang 2025 kinerja operasional dan keuangan perseroan tetap stabil dengan adanya peningkatan produktivitas, penguatan tata kelola, efisiensi di seluruh rantai bisnis, serta pengelolaan keuangan yang prudent.
Prospek Cerah Ditopang AI dan Industri Semikonduktor
Memasuki 2026, TINS optimis dapat melanjutkan tren kinerja positif seiring prospek permintaan timah global yang masih menjanjikan. Sekitar 50 persen konsumsi timah dunia saat ini ditopang industri solder yang menjadi bagian penting dari sektor semikonduktor dan elektronik.
Perseroan menilai pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan (AI), ekspansi pusat data, perkembangan sektor energi, serta meningkatnya investasi infrastruktur kelistrikan modern akan menjadi pendorong permintaan timah ke depan.
Untuk menangkap peluang tersebut, PT Timah menyiapkan sejumlah strategi pada 2026, seperti akselerasi produksi dan optimalisasi cadangan, transformasi digital dan implementasi ESG, peningkatan efisiensi di seluruh lini bisnis, optimalisasi kinerja anak usaha, serta pemanfaatan aset non operasi dan berbagai sinergi untuk mendukung keberlanjutan perusahaan.


