Jembatan umumnya dikenal sebagai sarana penghubung yang memudahkan mobilitas masyarakat. Namun, di beberapa daerah di Indonesia, sejumlah jembatan hadir dengan desain, sejarah, maupun fungsi yang membuatnya berbeda dari jembatan pada umumnya.
Mulai dari jembatan dengan arsitektur yang mencolok, jembatan yang dibangun di tengah bentang alam yang menakjubkan, hingga jembatan yang menyimpan kisah sejarah tersendiri, keberadaannya menunjukkan kekayaan kreativitas dan keunikan Indonesia.
Merangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa jembatan unik di Indonesia yang menarik untuk dikenali lebih dekat.
1. Jembatan Kelok Sembilan
Asal namanya dari jalan lama di kawasan tersebut yang memiliki sembilan tikungan tajam (kelok) yang berkelok-kelok mengikuti kontur perbukitan. Lokasinya sekitar 30 km di timur Kota Payakumbuh Sumatera Barat, dengan panjang jembatan 2,5 km yang menghubungkan Sumbar dan Riau.
Sebelum jembatan modern ini berdiri, jalur di kawasan tersebut telah dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1908–1914 untuk mendukung transportasi hasil bumi. Uniknya, jembatan ini membelah kawasan Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau.
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara mencatat Jembatan Kelok Sembilan dibangun dengan konsep ramah lingkungan (green construction). Pembangunannya menelan biaya sekitar Rp580,8 miliar dan diselesaikan dalam dua tahap selama 10 tahun, dari 2003 hingga 2013 diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
2. Jembatan Kereta Cikubang
Lokasinya berada di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Dibangun sekitar tahun 1906 oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), jembatan ini memiliki panjang sekitar 300 meter dan tinggi sekitar 80 meter di atas dasar lembah.
Jembatan ini merupakan bagian dari jalur Purwakarta–Padalarang yang dibangun pada 1904 dan hingga kini masih menjadi jalur utama kereta api Bandung–Jakarta. Cikubang juga dikenal sebagai jembatan kereta api terpanjang yang masih aktif beroperasi di Pulau Jawa.
Jadi, jika tujuan keretamu Bandung atau Jakarta, jangan heran bila perjalananmu melintasi jembatan berusia lebih dari satu abad ini.
3. Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia dengan panjang 5.438 meter yang membentang di atas Selat Madura, menghubungkan Kota Surabaya di Pulau Jawa dengan Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura.
Diresmikan pada Juni 2009, jembatan ini terdiri tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Salah satu ciri khasnya adalah dua menara kembar setinggi 140 meter yang ditopang fondasi hingga 100 meter di bawah permukaan laut.
Menariknya, semula berstatus jalan tol, namun pada 2018 Presiden Joko Widodo menggratiskan akses jembatan ini untuk memperlancar mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi di Madura. Jadi perjalananmu bisa lebih nyaman dan lancar.
4. Jembatan Ampera
Jembatan Ampera merupakan ikon Kota Palembang yang membentang di atas Sungai Musi. Dibangun pada 1962 menggunakan dana pampasan perang Jepang. Jembatan sepanjang 1.117 meter ini awalnya bernama Jembatan Bung Karno sebelum berganti nama menjadi Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) pada 1966.
Keunikan jembatan ini terletak pada bagian tengahnya yang dahulu dapat diangkat menggunakan mekanisme seberat 944 ton untuk memberi jalan bagi kapal-kapal besar, meski fitur tersebut dihentikan sejak 1970 karena mengganggu lalu lintas.
Bagi yang mengenal Jembatan Ampera terkenal dengan ikonik warna merahnya, jembatan ini ternyata telah mengalami tiga kali perubahan warna, dari abu-abu saat diresmikan, menjadi kuning pada 1992, hingga merah sejak 2002 yang kini menjadi ciri khasnya.
5. Jembatan Martadipura
Jembatan yang diambil dari nama kerajaan kuno di Kalimantan Timur, yaitu Kerajaan Kutai Martadipura ini merupakan jembatan pelengkung baja sepanjang 560 meter yang melintasi Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Diresmikan pada Maret 2006, jembatan ini menjadi penghubung penting bagi sejumlah kecamatan terisolir, seperti Kota Bangun, Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, Muara Kaman, dan Muara Muntai yang sebelumnya terpisah oleh sungai dan wilayah rawa.
Keunikan jembatan ini terletak pada konstruksi pipe slab atau jalan layang yang dibangun di atas lahan rawa. Tak heran hadirnya jembatan ini sangat memudahkan akses transportasi di kawasan tersebut.
Keberadaan jembatan-jembatan tersebut menunjukkan bahwa fungsi jembatan tidak hanya sebagai sarana penyeberangan. Di balik konstruksinya, tersimpan berbagai cerita tentang sejarah, perkembangan teknologi, tantangan geografis, hingga upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing, jembatan-jembatan ini telah menjadi bagian penting dari identitas daerah sekaligus bukti kemajuan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
