Kalau manusia selalu rasional, semua orang mungkin sudah punya tabungan darurat, nggak impulsif saat belanja, dan nggak pernah menyesal setelah checkout barang diskon.
Tapi kenyataannya, mengelola uang sering kali nggak sesederhana menghitung pemasukan dan pengeluaran. Banyak keputusan finansial ternyata dipengaruhi oleh emosi, pengalaman hidup, bahkan kebiasaan yang kita pelajari sejak kecil.
Itulah kenapa dua orang dengan penghasilan yang sama bisa punya hubungan yang sangat berbeda dengan uang.
Uang Bukan Cuma Angka
Kita sering menganggap uang sebagai sesuatu yang objektif. Padahal bagi banyak orang, uang juga punya makna emosional. Bagi sebagian orang, uang berarti keamanan. Bagi yang lain, uang berarti kebebasan.
Ada juga yang melihat uang sebagai simbol kesuksesan atau penghargaan terhadap diri sendiri.
Penulis Morgan Housel dalam bukunya The Psychology of Money (2020) menjelaskan bahwa keputusan finansial sering kali lebih dipengaruhi oleh pengalaman pribadi daripada logika murni. Karena itu, orang yang tumbuh dalam kondisi ekonomi berbeda bisa memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap uang.
Kenapa Kita Sering Belanja Saat Sedang Stres?
Pernah membeli sesuatu hanya karena hari itu terasa berat? ternyata hal tersebut cukup umum terjadi.
Dalam penelitian tahun 2014 berjudul Stress Influences Consumer Spending and Saving Behavior yang dipublikasikan dalam Journal of Marketing Research, para peneliti menemukan bahwa stres dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan uang.
Bagi sebagian orang, belanja memberikan perasaan nyaman atau kontrol sementara terhadap situasi yang sedang membuat mereka tertekan.
Masalahnya, rasa lega tersebut sering kali hanya bertahan sebentar.
Hemat Belum Tentu Hubungan Sehat dengan Uang
Banyak orang menganggap hemat selalu merupakan kebiasaan yang baik. Padahal tidak selalu begitu.
Ada orang yang sulit menikmati uang yang mereka miliki karena terus-menerus takut kehabisan. Ada juga yang merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika mereka mampu.
Psikolog Brad Klontz dan Ted Klontz dalam buku Mind Over Money (2009) menjelaskan bahwa banyak orang memiliki money scripts, yaitu keyakinan bawah sadar tentang uang yang terbentuk sejak kecil dan memengaruhi keputusan finansial saat dewasa.
Kadang masalahnya bukan pada jumlah uang yang dimiliki, tetapi pada hubungan emosional seseorang dengan uang tersebut.
Kita Tidak Selalu Mengambil Keputusan Logis
Pemenang Nobel Ekonomi Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011) menjelaskan bahwa manusia sering mengambil keputusan menggunakan pemikiran cepat yang dipengaruhi emosi dan intuisi, bukan analisis yang benar-benar rasional.
Itu sebabnya kita bisa tetap membeli barang yang tidak dibutuhkan hanya karena diskon atau menunda menabung meskipun tahu itu penting.
Secara teori kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Namun dalam praktiknya, emosi sering ikut mengambil alih.
Jadi, Apa Hubunganmu dengan Uang?
Cara kita menggunakan uang sering kali bukan sekadar soal hemat atau boros. Kadang itu tentang rasa aman, kadang tentang kecemasan, kadang tentang penghargaan terhadap diri sendiri.
Semakin kita memahami alasan di balik kebiasaan finansial kita, semakin mudah juga untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
Karena pada akhirnya, mengelola uang bukan cuma soal angka di rekening. Tapi juga soal memahami pikiran dan emosi yang memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil.
Pernah sadar kalau keputusan finansialmu ternyata lebih dipengaruhi perasaan daripada logika? Share artikel ini ke temanmu dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten psikologi, self-development, dan fenomena sosial lainnya!
