Kontroversi mewarnai gelaran Piala Dunia 2026 setelah Timnas Iran mengeluhkan aturan perjalanan yang mengharuskan mereka segera meninggalkan Amerika Serikat usai menjalani pertandingan.
Keluhan tersebut muncul setelah Iran bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada laga Grup G yang berlangsung di Amerika Serikat, Selasa, 16 Juni 2026. Pihak Iran merasa jadwal perjalanan yang ditetapkan terlalu padat dan menyulitkan proses pemulihan para pemain setelah pertandingan.
Menanggapi protes tersebut, Direktur Eksekutif Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026 Andrew Giuliani menegaskan bahwa mekanisme perjalanan tim sudah dijelaskan sejak jauh hari sebelum turnamen berlangsung.
Menurut Giuliani, seluruh delegasi yang terlibat telah mengetahui prosedur yang berlaku selama kompetisi.
“Kami sudah menjelaskan bahwa ini adalah prosesnya,”
ujar Giuliani seperti dikutip dari Los Angeles Daily News, Kamis, 18 Juni 2026.
Masuk Sehari Sebelum Pertandingan
Giuliani menjelaskan bahwa skuad Iran mendapat izin memasuki wilayah Amerika Serikat satu hari sebelum pertandingan berlangsung. Setelah pertandingan selesai, tim diwajibkan meninggalkan wilayah Paman Sam pada malam yang sama dan kembali ke markas mereka di Tijuana, Meksiko.
“Tim akan diizinkan masuk satu hari sebelum pertandingan. Mereka akan diminta untuk meninggalkan AS pada hari pertandingan berakhir, jadi pada malam hari (setelah) pertandingan,”
kata Giuliani.
Ia juga menegaskan bahwa prosedur tersebut berlaku untuk seluruh pertandingan Iran yang digelar di Amerika Serikat.
“Mereka dapat melakukannya di Los Angeles. Mereka akan bisa melakukannya lagi di Seattle,”
lanjut dia.
Kritik Jadwal Perjalanan
Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, mengungkapkan kekecewaannya terhadap perlakuan yang diterima timnya selama mengikuti Piala Dunia 2026. Menurutnya, jadwal perjalanan yang harus dijalani para pemain sangat melelahkan dan mengganggu proses pemulihan fisik setelah pertandingan.
Iran awalnya berencana kembali ke Meksiko sehari setelah pertandingan melawan Selandia Baru. Namun, rencana tersebut berubah setelah mereka mendapat instruksi untuk langsung meninggalkan Amerika Serikat begitu laga berakhir.
Ghalenoei menilai keputusan tersebut membuat timnya harus menghabiskan terlalu banyak waktu dalam perjalanan udara. Kondisi itu dinilai tidak ideal bagi para pemain yang sedang berjuang menghadapi jadwal ketat turnamen sekelas Piala Dunia.
“Kami menghabiskan begitu banyak waktu di udara untuk perjalanan pulang-pergi, mereka bahkan tidak memberi kami waktu untuk beristirahat,”
kata Ghalenoei melalui penerjemah, seperti dikutip dari ESPN.
Pelatih berusia 63 tahun itu juga mengungkapkan bahwa timnya mendapat perintah untuk segera meninggalkan Amerika Serikat setelah pertandingan berakhir.
“Setelah pertandingan hari ini, mereka berkata kepada kami, ‘Kalian harus segera pergi’,”
tutur Ghalenoei.
Kasus yang dialami Iran menambah daftar isu non-teknis yang muncul selama Piala Dunia 2026. Meski pihak Amerika Serikat menegaskan aturan tersebut telah diinformasikan sejak awal, keluhan dari kubu Iran menunjukkan bahwa aspek logistik dan perjalanan tetap menjadi tantangan besar bagi beberapa peserta turnamen.
Dengan format Piala Dunia yang digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, mobilitas tim memang menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi persiapan dan performa para pemain sepanjang kompetisi berlangsung.

