Pernikahan sedarah atau incest kerap menjadi perbincangan karena dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit genetik pada keturunan. Salah satu kondisi yang sering dijadikan contoh adalah ichthyosis, kelainan genetik yang menyebabkan kulit menjadi sangat tebal, kering, dan bersisik akibat gangguan proses regenerasi kulit.
Incest alias pernikahan sedarah, adalah sistem pernikahan antardua orang yang sedarah alias masih dalam satu garis keluarga.
Melansir dari akun Instagram @faktasehat.official, ichthyosis merupakan kelompok penyakit genetik yang memiliki berbagai jenis dan tingkat keparahan. Pada kasus yang berat, seperti Harlequin Ichthyosis, bayi lahir dengan lapisan kulit yang sangat tebal dan retak-retak sehingga memerlukan penanganan medis intensif sejak dini.
Dalam ajaran agama islam, seorang laki-laki dilarang keras mempunyai hubungan dengan perempuan sedarah. Hal ini juga dijelaskan dalam Q.S An-Nisa: 43 yang artinya:
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…”
Secara genetik, banyak penyakit keturunan diturunkan melalui pola autosom resesif. Artinya, seorang anak harus menerima salinan gen yang bermutasi dari kedua orang tuanya agar penyakit tersebut muncul.
Pada pasangan yang masih memiliki hubungan darah, peluang membawa mutasi gen yang sama menjadi lebih besar karena mereka berasal dari garis keturunan yang serupa. Akibatnya, kemungkinan anak mewarisi dua salinan gen bermasalah juga meningkat.
Namun, penting dipahami bahwa pernikahan sedarah bukan satu-satunya penyebab munculnya penyakit genetik. Pasangan yang tidak memiliki hubungan keluarga pun dapat menjadi pembawa carrier gen resesif tanpa menyadarinya.
Risiko Penyakit
Para ahli menegaskan bahwa peningkatan risiko bukan berarti setiap anak yang lahir dari pernikahan sedarah pasti mengalami kelainan genetik. Risiko tersebut hanya lebih tinggi dibandingkan pasangan yang tidak memiliki hubungan darah.
Faktor lain seperti riwayat keluarga, jenis mutasi genetik, serta kondisi kesehatan orang tua juga turut memengaruhi kemungkinan terjadinya penyakit genetik pada keturunan.
Untuk pasangan yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, konseling dan pemeriksaan genetik sebelum menikah atau merencanakan kehamilan dapat membantu mengidentifikasi potensi risiko penyakit keturunan.
Melalui pemeriksaan tersebut, pasangan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kemungkinan menjadi pembawa gen tertentu serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bagi calon anak.
























